Kompetisi Sepak Bola Usia Muda: Mesin Penggerak Industri Olahraga dan Ekonomi Daerah

AKURAT.CO Sepak bola masih menjadi olahraga paling digemari di Indonesia. Namun, di balik semangat kompetisi dan pembinaan bakat muda, turnamen kelompok usia kini terbukti menjadi salah satu penggerak utama industri olahraga sekaligus motor ekonomi di tingkat akar rumput.
Ratusan kompetisi usia muda—dari U-9, U-11, U-13 hingga U-17—digelar rutin setiap tahun di berbagai daerah.
Penyelenggaranya pun beragam, mulai dari sekolah sepak bola (SSB), akademi, operator swasta, hingga dukungan PSSI dan pemerintah melalui program pembinaan usia dini.
Deputi Bidang Industri Olahraga Kemenpora, R Isnanta, menilai kompetisi kelompok umur bukan hanya arena pembibitan atlet, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang signifikan.
“Kalau event-nya terus berjalan, artinya ada potensi keuntungan. Biaya operasionalnya memang tidak kecil, tapi jika dilihat dari jumlah peserta, sponsor, dan aktivitas ekonomi yang ditimbulkan, ini jelas menguntungkan,” ujar Isnanta, Senin (4/8/2025).
Operator usia dini seperti Liga Topskor, Indonesia Grassroot Championship, serta lebih dari 15 penyelenggara yang tergabung dalam APSUMSI—antara lain FORSGI, BLiSPI, GEAS Indonesia, Komunitas Jujur, FOSSBI, Fosbolindo, GoBolaBali, ASBI, Liga Sentra, SBAI, dan DCT—rutin menggelar kompetisi dari tingkat daerah hingga nasional.
Tiap operator rata-rata melibatkan lebih dari 2.000 atlet setiap tahun, belum termasuk pelatih, ofisial, dan orang tua.
Baca Juga: FORNAS VIII/2025 Bukti Industri Olahraga Mampu Menjadi Daya Ungkit Ekonomi Daerah
Pendanaan penyelenggaraan pun tidak hanya berasal dari biaya pendaftaran, tetapi juga didukung oleh sponsor utama maupun sponsor pendamping.
Isnanta menyebut, jika satu klub membayar Rp500 ribu untuk satu kompetisi, dengan ribuan klub berpartisipasi, potensi perputaran uang bisa mencapai puluhan miliar rupiah. Belum termasuk biaya akomodasi, konsumsi, transportasi, perlengkapan, dan merchandise.
“Jika satu tim mengeluarkan rata-rata Rp25 juta untuk satu event dan ada sekitar 5.000 tim yang ikut setiap tahun, maka setidaknya ada Rp125 miliar yang berputar dari sektor ini. Itu masih hitungan kasar, dan jumlah riilnya bisa jauh lebih besar,” jelas Isnanta.
Senada dengan itu, Jalu dari Liga Anak Indonesia menyebut bahwa dari registrasi peserta tingkat regional hingga nasional saja, perputaran uang bisa mencapai Rp2 miliar.
Jumlah itu belum termasuk transaksi UMKM, tiket penonton, hotel, transportasi, dan konsumsi.
Contoh nyata juga terlihat dari ajang Piala Soeratin Jawa Timur 2025.
Sekretaris Jenderal PSSI Jatim, Djoko Tetuko, menyatakan bahwa penyelenggaraan tiga kelompok usia di bawah naungan PSSI Jatim menghabiskan dana operasional sebesar Rp3,5 miliar.
Jika ditambah pengeluaran klub, konsumsi peserta, dan belanja penonton, total perputaran uang dari event tersebut diperkirakan mencapai lebih dari Rp10 miliar.
Adapun Indonesia Grassroot Championship Cup 2025 yang digelar di Surakarta sukses mendatangkan sekitar 2.500 peserta dan pendukung. Dalam dua hari pelaksanaan, ajang ini mencatat estimasi perputaran uang hingga Rp15 miliar.
Fenomena ini menegaskan bahwa kompetisi usia muda bukan hanya sarana pembinaan, tetapi juga sektor strategis dalam industri olahraga nasional.
Baca Juga: Bicara Udara Ajak Orang Tua Jadi Pejuang Udara Bersih Lewat Biru Voices Academy 2025
Selain meningkatkan angka partisipasi olahraga di kalangan masyarakat, event semacam ini mendorong pertumbuhan ekonomi lintas sektor—mulai dari pariwisata, transportasi, akomodasi, hingga UMKM lokal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










