Pemanggilan Pemain Diaspora untuk TC Timnas U17 Disorot Tajam

AKURAT.CO - Pemanggilan pemain diaspora untuk memperkuat Timnas Indonesia jelang Piala Dunia U-17 2025 di Qatar pada 3-27 November mendatang menuai sorotan tajam.
Meski proses seleksi dalam pemusatan latihan (TC) di Bali itu masih berlangsung, muncul pertanyaan besar soal mekanisme scouting dalam pemanggilan ke-34 nama ini.
Dalam daftar pemain yang dipanggil pelatih Nova Arianto, sembilan nama pemain keturunan atau diaspora yang belum pernah memperkuat Indonesia di turnamen resmi, menjadi perhatian.
Mereka adalah Feike Muller (Willem II Tilburg), Lionel De Troy (Palermo), Nicholas Indra Mjosund (Rosenborg BK), Eizar Jacob (Sydney FC), Floris De Pagter (SC Telstar), Noha Pohan S (NAC Breda), Jona Gaselink (FC Emmen), Azadin Ayoub (Elverum FC), dan Deston Hoop (SC Telstar).
Namun, alih-alih merasa diuntungkan, kehadiran mereka justru menimbulkan kekhawatiran di kalangan pemerhati sepakbola nasional.
Sejumlah pemain dan mantan pilar timnas mempertanyakan kualitas para diaspora tersebut, yang dinilai belum tentu lebih unggul dibanding pemain lokal.
Gunawan Dwi Cahyo, mantan bek timnas Indonesia, menilai bahwa pemanggilan pemain diaspora seharusnya melalui jalur scouting resmi.
"Kalau lewat agen, hasilnya pasti tidak sesuai. Agen kan hanya berpikir bisnis, bukan peningkatan prestasi. Kalau kualitasnya sama dengan pemain lokal, kenapa tidak prioritaskan pemain dalam negeri saja,” tegas Gunawan saat dihubungi, Senin (21/7).
Ia tidak menampik, perekrutan pemain diaspora untuk kelompok umur memang bisa menjadi opsi awal. Namun, ke depan PSSI harus lebih memperkuat kompetisi usia muda agar lahir talenta lokal berkualitas dari jalur pembinaan.
"Sampai kapan kita pakai cara instan begini? Harusnya perbanyak kompetisi usia muda agar pemain punya jam terbang yang baik," lanjutnya.
Nada serupa disampaikan Ismed Sofyan. Mantan kapten Persija Jakarta ini secara tegas menyatakan tidak setuju jika Timnas U-17 terlalu bergantung pada pemain naturalisasi atau diaspora.
"Level permainan mereka tidak jauh berbeda dengan pemain lokal. Kita punya banyak sumber pemain dari EPA, Piala Soeratin, hingga Diklat Ragunan. Tapi sayangnya, mereka kurang tersentuh oleh tim scouting," ujar Ismed.
Ia juga menilai bahwa untuk level usia muda seperti U-17, peta kekuatan tim di dunia tidak akan terlalu timpang, sehingga Indonesia masih punya peluang bersaing menggunakan pemain lokal.
"Di Piala Dunia nanti, kita masih bisa bersaing. Ini bukan level senior. Sayang kalau kita tidak manfaatkan potensi anak-anak bangsa sendiri," tambahnya.
Sementara itu, proses seleksi pemain dalam TC di Bali juga turut menjadi sorotan. Sebab beberapa pemain diaspora yang dipanggil dinilai tidak dalam kondisi ideal dan kualitasnya dianggap tidak terlalu istimewa.
Sejauh ini, materi pemain masih terus dievaluasi, terlebih beberapa pemain pilar yang tampil di Piala Asia U-17 dan Kualifikasi tahun lalu mengalami cedera. Oleh karena itu, pembentukan tim ideal Garuda Asia menuju Piala Dunia U-17 Qatar 2025 masih dalam proses.
Indonesia sendiri nanti akan berada di Grup H bersama Brasil, Honduras, dan Zambia pada ajang yang akan berlangsung di Qatar pada 3–27 November 2025 mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









