Akurat

Gara-gara Rasisme, Muncul Usulan Sanksi Pengurangan Poin di Tengah Euforia Pesta Persib Juara Liga 1

Hervin Saputra | 6 Mei 2025, 21:21 WIB
Gara-gara Rasisme, Muncul Usulan Sanksi Pengurangan Poin di Tengah Euforia Pesta Persib Juara Liga 1
 
 
AKURAT.CO, Persib Bandung tengah dalam euforia tinggi usai menjuarai Liga 1 Indonesia 2024-2025 yang berhasil dipastikan setelah Persebaya Surabaya bermain imbang kontra Persik Kediri.
 
Namun, pesta juara Persib tercoreng isu sensitif di luar lapangan terkait rasisme terhadap dua pemain Malut United asal Papua, Yakob dan Yance Sayuri.
 
Komisaris Utama FC Malang United, Mayor Arh Dr. Djoko Purwoko, bahkan menyerukan sanksi tegas berupa pengurangan poin untuk Persib Bandung, dan pidana bagi pelaku rasisme.
 
 
"Saya mengetahui betul bahwa menjaga kondusifitas di Papua bukanlah pekerjaan mudah," kata pria yang juga merupakan Staf Teritorial Kodam XVII/Cenderawasih itu dalam keterangan yang diterima Akurat.
 
"Sebagai bagian dari aparat teritorial yang berdiri di garda depan persatuan di Tanah Papua, saya bisa merasakan betapa dalamnya luka akibat ujaran kebencian yang ditujukan kepada anak-anak Papua baik secara langsung maupun melalui media sosial."
 
Tindakan rasisme ini terjadi saat pertandingan pekan ke-31 Liga 1 Indonesia antara Malut United dan Persib Bandung di Stadion Kie Raha, Maluku, Jumat, 2 Mei 2025, yang berakhir untuk kemenangan tuan rumah dengan skor tipis 1-0.
 
Pasca laga, salah satu pemain Malut United menjadi korban ujaran rasis. Isu ini bukan lagi sekadar persoalan sepakbola. Ini adalah serangan langsung terhadap nilai-nilai kebhinekaan, kesetaraan, dan kemanusiaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
 
 
Djoko bahkan menilai tindakan rasisme tersebut merupakan bentuk kejahatan sosial yang harus ditindak secara pidana, yang tidak cukup dengan imbauan moral semata.
 
Dia juga mendesak agar PSSI selaku induk cabang olahraga sepakbola di tanah air untuk memberikan sanksi pengurangan poin terhadap Persib Bandung, sebagai bentuk tanggung jawab moral atas perilaku sebagian pendukungnya.
 
Bukan cuma itu, Djoko juga mendorong proses hukum terhadap pelaku ujaran rasis, sebagaimana diatur dalam UU ITE dan KUHP tentang diskriminasi rasial. Termasuk memperkuat sistem edukasi dan kampanye nasional melawan rasisme dalam dunia sepakbola Indonesia.
 
"Papua adalah Indonesia. Menghina orang Papua sama saja menghina nilai luhur Pancasila. Jika sepakbola ingin menjadi alat pemersatu bangsa, maka tidak boleh ada ruang untuk rasisme — bahkan satu kata pun," tegasnya.
 
"Saya menyerukan kepada seluruh klub sepak bola, PSSI, dan pemerintah, mari kita jadikan momentum ini untuk membuktikan bahwa Indonesia benar-benar berdiri di atas semangat persatuan dan keadilan."

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

L
Reporter
Leo Farhan
H