Dokter FIFPro: Elemen Spritual Ramadan Bisa Memotivasi Pesepakbola Tampil Lebih Baik

AKURAT.CO, Salah satu pertanyaan umum tentang pesepakbola muslim yang berpuasa di bulan Ramadan adalah apakah ibadah tersebut berdampak pada penampilan mereka di lapangan.
Terutama untuk pemain di level elite yang bermain di kompetisi seperti Liga Primer Inggris. Ketua Bagian Medis FIFPro (Asosiasi Pesepakbola Profesional Internasional), Dr Vincent Gouttebarge, punya penjelasannya.
Menurut Dr Gouttebarge, sejauh ini belum ada kaitan apakah aktifitas berpuasa bisa membuat pesepakbola lebih rentan cedera. Namun begitu, Dr Gouttebarge tetap meminta para pemain yang berpuasa berhati-hati dengan kondisi mereka.
Baca Juga: Jelang Ramadan, Pelatih Brentford Ingin Tahu Soal Puasa dan Mengapa Pemain Melakukannya
“Tidak ada hasil (penelitian) yang jelas, menyimpulkan, yang menunjukkan bahwa Ramadan membawa ke risiko cedera yang lebih besar,” kata Gouttebarge sebagaimana dipetik dari laman FIFPro, Senin (11/3).
“Meski kurang bukti, para pemain dan staf (kepelatihan) harus tetap berhati-hati selama periode (Ramadan).”
Pun demikian, Dr Gouttebarge membenarkan bahwa berpuasa membuat pesepakbola tidak bisa memiliki kondisi fisik penuh saat bermain. Hanya saja, kata Gouttebarge, puasa bisa memberikan dorongan mental.
“Tampil saat puasa di level elite tidak optimal, jadi dari sudut pandang fisiologi tidak ada nilai tambah berpuasa untuk tampil lebih baik,” kata Dr Gouttebarge.
Baca Juga: Buka Puasa Di Liga Inggris Diterapkan Pada Pertandingan Malam Ini
“Meski begitu, bisa ada keuntungan mental untuk pemain yang berpuasa karena mereka tahu mereka kurang energi. Elemen spiritual Ramadan secara mental bisa menjadi sumber tambahan motivasi atau inspirasi untuk tampil lebih baik.”
Secara umum, Dr Gouttebarge menyebut tiga hal yang menjadi perhatian utama bagi pemain yang berpuasa. Yakni asupan gizi, hidrasi (kebutuhan cairan), dan periode tidur.
“Selama Ramadan, tubuh seorang pemain perlu beradaptasi dengan jadwal biologis yang berbeda. Oleh karenanya, gangguan tidur mungkin memberikan dampak terbesar terhadap pemain,” kata Dr Gouttebarge menjelaskan.
“Jam kronologisnya berbeda dengan yang biasa, dan dikombinasikan dengan kekurangan gizi dan cairan di siang hari, bisa sangat menantang untuk bermain.”
Ramadan di Eropa, terutama di Inggris, dijadwalkan lebih cepat sehari dari jadwal yang diumumkan Kementerian Agama Indonesia. Jika di Indonesia Ramadan dimulai pada Selasa (12/3), di Inggris mereka memulai pada Minggu (10/3) atau Senin WIB.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









