Casey Stoner: Marc Marquez Punya Satu Kelemahan, Saya Tidak Akan Membocorkannya

AKURAT.CO, Legenda MotoGP, Casey Stoner, memberikan analisis mendalam terkait kembalinya dominasi Marc Marquez di lintasan balap.
Menurut Casey Stoner, keunggulan pembalap berjuluk The Baby Alien itu bukan lagi sekadar soal kecepatan murni, melainkan kombinasi kecerdasan taktik dan manajemen ban yang luar biasa.
Casey Stoner, yang digantikan oleh Marc Marquez di Repsol Honda pada 2013, menilai banyak pembalap saat ini terjebak dalam pola pikir yang salah saat menghadapi pembalap asal Spanyol tersebut.
Baca Juga: Kritik Regulasi Baru MotoGP 2027, Casey Stoner Sebut Aksi Salip-menyalip Terancam Berkurang
Pria 40 tahun itu mencermati bahwa rival-rival Marquez sering kali melihatnya sebagai sosok musuh terakhir yang mustahil dikalahkan, tanpa benar-benar mempelajari kelemahannya.
Padahal, Stoner mengklaim telah mengantongi satu titik terlemah milik Marquez sejak lama.
“Marc punya satu kelemahan besar di masa lalu yang menurut saya tidak diperhatikan oleh siapa pun. Saya tetap tidak akan membocorkannya, tapi sangat mengejutkan tidak ada yang mampu mengeksploitasinya,” kata Stoner dikutip Crash, Senin (16/2).
Menurut Stoner, alih-alih mencari cara untuk mengalahkan Marquez, para pembalap lain justru terlalu fokus pada betapa sulitnya bersaing dengan sang juara dunia tujuh kali tersebut.
Setelah menanti enam tahun (2019 hingga 2025) untuk kembali meraih gelar juara dunia, Marquez dinilai muncul sebagai pribadi yang jauh lebih kuat.
Stoner melihat masa-masa sulit akibat cedera dan keterpurukan Honda telah membentuk tingkat kecerdasan dan kesabaran baru pada diri Marquez.
Jika pada era 2010-an Marquez dikenal dengan gaya balap agresif dan penuh risiko, kini ia bertransformasi menjadi pembalap strategis.
Baca Juga: Kembali ke Lintasan Pasca Cedera, Marc Marquez Jatuh dalam Latihan di Valencia
Stoner menyoroti kemiripan gaya balap Marquez dengan bintang F1, Max Verstappen, dalam hal perlakuan terhadap ban.
“Sama seperti Max Verstappen di F1, saat menggunakan ban baru, dia butuh beberapa lap sebelum benar-benar memacu kecepatannya. Itu memberinya tambahan sepuluh hingga 15 lap ekstra dengan kecepatan lebih tinggi di akhir sesi,” jelas juara dunia dua kali itu.
Satu poin teknis yang paling disoroti Stoner adalah kemampuan Marquez dalam membatasi ketergantungan pada perangkat elektronik.
Marquez mampu menjaga agar motornya tidak tergelincir secara berlebihan melalui kendali tangan, bukan menyerahkannya sepenuhnya pada elektronik.
Ia juga mampu menjaga grip ban secara manual di awal lomba, yang membuat sistem elektronik tidak perlu bekerja keras sejak awal.
Namun, saat tingkat cengkeraman ban menurun drastis di lap-lap terakhir, ban milik Marquez masih dalam kondisi jauh lebih baik dibandingkan rivalnya.
“Elektronik hanya bereaksi terhadap sebuah aksi. Marc menjaga ban agar tetap awet, sehingga saat elektronik mulai mengambil alih di akhir balapan, sistem tersebut bekerja lebih stabil dan terprediksi,” tambah Stoner.
Strategi sabar di awal dan mematikan di akhir ini terlihat konsisten dilakukan Marquez sepanjang paruh kedua musim 2025.
Stoner menilai pemahaman Marquez terhadap kapan sebuah balapan bisa dimenangi adalah pembeda utama antara dirinya dengan pembalap lain di lintasan saat ini.
Memasuki musim 2026, kematangan taktik ini diprediksi akan tetap menjadi senjata utama Marquez dalam mempertahankan takhta juara dunianya bersama tim pabrikan Ducati.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









