Akurat

Pengamat: Pemain Indonesia Tak Boleh 'Lambat Panas' dengan Sistem Skor 3x15

Dian Eko Prasetio | 17 Februari 2026, 22:16 WIB
Pengamat: Pemain Indonesia Tak Boleh 'Lambat Panas' dengan Sistem Skor 3x15

AKURAT.CO, Wacana penerapan sistem skor 3x15 oleh BWF mendapatkan perhatian serius dari pengamat bulutangkis senior tanah air, Broto Happy.

Menurutnya, jika perubahan ini benar-benar disahkan, maka para pemain Indonesia dituntut untuk melakukan revolusi mentalitas dalam bertanding.

Broto Happy menekankan bahwa perbedaan antara skor 21 dan 15 bukan sekadar angka, melainkan perubahan drastis pada ritme dan tempo permainan.

Pemain Indonesia yang selama ini dikenal sering "lambat panas" di awal gim harus segera membuang kebiasaan tersebut.

Baca Juga: Indra Wijaya Ogah Pikirkan Rencana BWF Ubah Aturan Skor, Fokus ke Turnamen yang Ada

"Intinya kalau jadi dengan sistem skor 3x15, pemain kita dari 0-0 itu kalau balap mobil sudah harus tancap gas. Enggak bisa lagi nyari-nyari pola, nyari-nyari taktik, atau strategi di tengah lapangan," kata Broto Happy saat dihubungi Akurat.co, Selasa (17/2).

Dalam format 21 poin, seorang pemain mungkin masih bisa memberikan beberapa poin kepada lawan untuk sekadar beradaptasi dengan arah angin atau karakter lapangan.

Namun, dalam sistem 15 poin, margin kesalahan menjadi sangat tipis dan ruang untuk bangkit dari ketertinggalan kian sempit.

"Pendek sekali, 15 itu pendek. Kekhawatirannya, kalau pemain masih berpikir nyari-nyari strategi, tahu-tahu poinnya sudah selesai. Jadi harus langsung in, langsung panas begitu masuk lapangan," tegas pria yang akrab dengan seluk-beluk bulutangkis nasional ini.

Broto menyarankan agar PBSI tidak menunggu hingga hasil voting AGM BWF keluar untuk memulai adaptasi.

Ia mendorong adanya simulasi pertandingan dengan sistem skor 15 poin secara rutin di lingkungan Pelatnas Cipayung sebagai langkah antisipasi dini.

Baca Juga: Revolusi Bulutangkis! BWF Usulkan Sistem Skor 3x15, Bakal Diputuskan di Rapat Tahunan 2026

"Saya kira kondisinya sekarang berbeda. Pemain harus mulai dibiasakan. Simulasi itu penting, baik untuk pemain Pelatnas maupun non-Pelatnas, agar mereka punya gambaran nyata bagaimana menyikapi tekanan poin yang sangat cepat," tambahnya.

Terkait desas-desus bahwa sistem ini lebih menguntungkan gaya permainan pemain Eropa yang cenderung agresif di awal, Broto memilih untuk bersikap objektif. Ia menilai klaim tersebut belum didukung oleh data kompetisi resmi di tingkat senior.

"Memang susah ya, karena kan belum diuji coba secara luas dalam pertandingan resmi. Jadi kalau tolok ukurnya dibilang menguntungkan negara ini atau itu, menurut saya belum ada bukti kuat yang bisa kita lihat," urai Broto secara mendalam.

Bagi Broto, faktor penentu kesuksesan dalam sistem skor baru bukanlah asal negara, melainkan kecepatan adaptasi masing-masing individu.

Menurutnya, siapa pun yang paling cepat menyesuaikan pola pikir dan strategi "serang sejak awal", dialah yang akan mendominasi.

Ia berharap para pebulutangkis Indonesia mampu menjawab tantangan ini dengan kedisiplinan tinggi.

Menurutnya, kualitas teknis atlet Indonesia sebenarnya sangat mumpuni, tinggal bagaimana menyesuaikan taktik agar lebih efisien dalam mendulang angka.

"Sebetulnya ada yang cocok, ada yang tidak dengan tipe permainan kita. Makanya itu, simulasi adalah kunci. Kita harus siap jika pada sela-sela Piala Thomas dan Uber April nanti di Denmark, aturan ini resmi diketuk palu," tutup Broto.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.