Akurat

​BWF Rombak Format Super 1000: Peserta Tunggal Jadi 48 Pemain, Simulasi Fase Grup Masih Jadi Teka-teki

Dian Eko Prasetio | 18 Februari 2026, 17:48 WIB
​BWF Rombak Format Super 1000: Peserta Tunggal Jadi 48 Pemain, Simulasi Fase Grup Masih Jadi Teka-teki
 
AKURAT.CO Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) tengah bersiap melakukan transformasi radikal pada turnamen level tertinggi, BWF World Tour Super 1000.
 
Salah satu perubahan paling mencolok adalah penambahan kuota peserta sektor tunggal dari 32 menjadi 48 pemain, yang akan berlaga dengan sistem fase grup dalam durasi turnamen yang diperpanjang menjadi 11 hari.
 
Format baru ini memicu berbagai tanggapan dari pelaku bulu tangkis nasional. Meskipun bertujuan membuat bulu tangkis semakin global dan menarik secara komersial, ketidakpastian mengenai detail simulasi pertandingan di lapangan masih menjadi sorotan utama.
 
 
Pelatih Kepala Tunggal Putra Pelatnas PBSI, Indra Wijaya, mengaku belum mau terlalu dalam mengulik detail teknis dari perubahan tersebut. Baginya, prioritas utama saat ini adalah performa atlet di turnamen yang sudah terjadwal di depan mata.
 
"Saya belum mengikuti ke arah sana karena lebih fokus ke yang depan dulu saja. Karena ini kan masih belum pasti semuanya, jadi saya tidak terlalu memikirkan maunya jadi bagaimana. Apapun jadinya, ya memang harus diikuti," kata Indra saat dihubungi Akurat.co.
 
Meski belum mendapatkan instruksi detail, Indra mulai meraba kemungkinan pembagian grup jika skema 48 peserta dengan 16 grup benar-benar diterapkan. Menurutnya, BWF pasti akan tetap melindungi para pemain peringkat atas agar tidak saling sikut di fase awal.
 
"Kalau pembagian grupnya, kurang lebih kita sudah bisa membaca. Ranking 1 sampai 16 pasti dipisah di grup masing-masing. Tidak mungkin ranking 16 jadi satu grup dengan ranking 3 kalau ada 16 grup," tambah Indra memberikan analisis logisnya.
 
Di sisi lain, pengamat bulu tangkis nasional, Broto Happy, melihat langkah BWF ini sebagai upaya untuk menyulap bulu tangkis agar lebih "seksi" di layar televisi.
 
Dengan durasi 11 hari, diharapkan intensitas pertandingan meningkat namun kebugaran pemain tetap terjaga.
 
"Harapannya memang bulu tangkis makin mengglobal dan menarik. Mungkin dengan perubahan itu pemain bisa lebih bugar dibanding harus main setiap hari. Tapi, kita juga belum melihat simulasinya seperti apa jika dimainkan dalam 11 hari dengan 48 peserta," ungkap Broto.
 
Broto menekankan bahwa yang dibutuhkan para pencinta bulu tangkis dan tim kepelatihan saat ini adalah transparansi simulasi jadwal. Tanpa rundown yang jelas, sulit bagi atlet untuk mengatur puncak performa (peak performance) mereka selama hampir dua pekan penyelenggaraan.
 
​"Rundown kecilnya kita belum tahu. Apakah satu hari main besok istirahat, atau bagaimana? Intinya BWF cuma membuat garis besar durasi menjadi 11 hari dan sistem fase grup, tapi jadwal rincinya belum jelas," imbuhnya.
 
​Lebih jauh, Broto Happy membandingkan manuver BWF ini dengan olahraga tenis. Dirinya menilai BWF terlalu sibuk mengutak-atik format pertandingan, sementara masalah fundamental seperti kesejahteraan pemain melalui hadiah uang (prize money) masih tertinggal jauh.
 
"Bulu tangkis sering merujuk ke tenis, seperti label Super 1000. Tapi di sisi lain, tenis hadiahnya besar sekali. Hadiah juara Grand Slam di tenis mungkin setara dengan total hadiah satu turnamen Indonesia Open," kritiknya tajam.
 
Bagi Broto, durasi pertandingan bukanlah alasan utama sebuah olahraga digemari atau tidak. Dia mencontohkan pertandingan tenis yang bisa memakan waktu 3-4 jam namun tetap menjadi favorit dunia karena nilai komersialnya yang tinggi.
 
"BWF jangan sibuk dengan sistem skor, tapi bagaimana menggaet sponsor kakap. Tenis dari dulu sistem skornya tidak pernah berubah, tetap tradisional. Bulu tangkis sudah berkali-kali ganti skor," tutur Broto.
 
 
​Broto berharap BWF lebih fokus pada peningkatan hadiah agar profesi atlet bulu tangkis menjadi lebih menjanjikan bagi generasi mendatang. Dengan hadiah yang besar, orang tua tidak akan ragu mengizinkan anaknya menekuni bulu tangkis karena masa depannya terjamin.
 
​"Kalau hadiahnya besar, otomatis bulu tangkis makin mendunia. Orang tua mau anaknya main bulu tangkis karena jaminan masa depannya ada. Hadiah besar itulah yang membuat sebuah olahraga diminati," pungkasnya.
 
​Hingga saat ini, publik bulu tangkis Tanah Air masih menanti rilis resmi BWF terkait kalender dan regulasi teknis Super 1000 mendatang.
 
Adaptasi cepat akan menjadi kunci bagi skuad Merah Putih agar tetap kompetitif dalam format maraton 11 hari tersebut.
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.