AKURAT.CO, Pelatih Kepala Tunggal Putri Pelatnas PBSI, Imam Tohari, memberikan gambaran terbaru mengenai kondisi dan evaluasi para pemainnya jelang memasuki musim kompetisi 2026.
Dari Gregoria Mariska Tunjung yang berhasil menembus final Kumamoto Masters hingga perkembangan Ni Kadek Dinda Amartya Pratiwi dan proses pemulihan Ester Nurumi Tri Wardoyo, semuanya kini tengah dipantau ketat.
Imam Thohari tidak menampik bahwa penampilan Gregoria di Kumamoto menunjukkan adanya peningkatan. Meski begitu, ia menyebut sang pebulutangkis belum sepenuhnya kembali ke kondisi optimal.
“Untuk Grego (sapaan Gregoria), saya belum bisa bilang 100 persen pulih. Tapi dia punya skill, insting, dan feeling yang luar biasa. Itu yang bikin dia bisa masuk final," ujar Imam di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta, Rabu (26/11).
Ia menambahkan, secara fisik Gregoria memang belum berada di level terbaiknya. Namun, jalannya pertandingan juga sempat memberinya keuntungan.
"Di game kedua (babak 16 besar) itu dia sempat ketinggalan sampai 1–13. Tapi kemauan menangnya kuat, itu bisa meng-cover kekurangan kondisinya," kata Imam
Sementara, pebulutangkis tunggal putri Indonesia lainnya, Ni Kadek Dinda Amartya Pratiwi, disebut mengalami perkembangan menjanjikan dan kini bakal didorong naik ke level turnamen yang lebih tinggi.
"Dinda tahun depan harus bisa main konsisten di level Super 300 sampai 500. Tahun lalu dia sudah juara Super 100 di Surabaya. Di Korea dia semifinal," kata Imam.
Ia berharap Dinda semakin memahami kebutuhan permainannya agar bisa lebih cepat naik kelas dan menjadi pelapis kuat bagi Gregoria ataupun Putri Kusuma Wardani.
Mengomentari kondisi Ester Nurumi Tri Wardoyo, Imam mengatakan adik kandung Chico Aura Dwi Wardoyo itu sudah mulai menunjukkan sinyal positif. Lama absen karena cedera, sang pemain disebut telah berada di sekitar 80 persen kondisi ideal.
"Ester sekarang sudah mulai on court, gerakannya sekitar 70–80 persen. Semoga tahun depan dia sudah siap, baik mental maupun fisiknya," kata Imam.
Meski belum memastikan turnamen mana yang akan dituju, Imam menegaskan bahwa pemilihan kompetisi harus realistis mengikuti peringkat dunia masing-masing pemain.
"Untuk turnamen, nanti lihat ranking juga. Enggak mungkin langsung masuk Super 500. Kemungkinan kita coba yang kecil dulu, mungkin Super 100," jelas Imam.
Dengan progress beragam dari tiap pemain, sektor tunggal putri kini memasuki fase penting menuju musim kompetisi baru.