Hendra Setiawan Sang Legenda, Maestro Permainan Net Menyongsong Hari-Hari Menuju Pensiun

AKURAT.CO, Pebulutangkis ganda putra andalan Malaysia, Soh Wooi Yik, punya ungkapan yang agaknya tepat untuk menggambarkan pengaruh rivalnya, Hendra Setiawan.
“Hendra, satu-satunya legenda dalam hati saya yang diakui tidak hanya dengan kesuksesannya,” kata Soh Wooi Yik di media sosialnya mengomentari pengumuman pensiun Hendra Setiawan, Rabu (5/12).
“Tetapi selamanya dihormati dan memiliki dampak di seluruh hidup dan karier bulutangkis saya.”
Soh Wooi Yik mendapatkan pengalaman kelas elite di masa-masa awalnya naik ke jajaran elite ganda putra dunia bersama pasangannya, Aaron Chia, salah satunya dengan menghadapi Hendra Setiawan.
Baca Juga: Hendra Setiawan Resmi Umumkan Pensiun, Indonesia Masters 2025 Turnamen Penutup
Yang paling memberikan pelajaran terjadi di final All England 2019 yang merupakan final pertama bagi Aaron/Soh di turnamen bulutangkis tertua di dunia itu.
Hendra yang ketika itu berusia 34 tahun berpasangan dengan Mohammad Ahsan mengalahkan Aaron/Soh yang ketika itu baru berusia 22 dan 21 tahun dalam pertarungan tiga set.
Waktu berlalu sekedip mata dan enam tahun setelah itu Hendra Setiawan masih bertahan sebagai “last man standing” dari generasinya yang masih bertarung di sirkuit bulutangkis elite dunia.
Pada 2022 Hendra sempat bertemu sekali lagi dengan Aaron/Soh di final Kejuaraan Dunia di Tokyo, Jepang. Kali ini, Hendra harus kalah dari Aaron/Soh yang meraih gelar juara dunia pertamanya.
Hendra, 40 tahun, memutuskan pensiun dengan Indonesia Masters pada Januari mendatang sebagai turnamen terakhirnya. Ia pergi di usia yang cukup veteran dengan seluruh gelar yang diimpikan oleh pebulutangkis manapun di dunia.
Baca Juga: Kepastian Hendra Setiawan Gantung Raket Baru Diputuskan Setelah China Masters November Nanti
Sepanjang kariernya yang dimulai sejak 2001, Hendra telah memenangi emas olimpiade, empat gelar juara dunia, satu Piala Thomas, dua Asian Games, dua juara Asia, tiga Kejuaraan Beregu Asia, dan dan tujuhe emas SEA Games.
Dalam perjalanannya, Hendra meraih gelar bersama Markis Kido sampai 2012 termasuk emas Olimpiade Beijing 2018. Selepas itu, ia bermain bersama Ahsan yang lebih muda dan 18 gelar termasuk tiga kali juara dunia.
Jika dibentangkan seluruh gelar prestisius, Hendra hanya minus trofi Piala Sudirman. Ia juga bisa dikatakan beruntung akhirnya menyentuh Piala Thomas yang dimenangi Indonesia pada 2021 sebagai yang pertama setelah terakhir kali pada 2002.
Pionir Permainan Net & Fase Gemilang yang Berulang Hendra Setiawan
Salah satu yang juga dicatat dari Hendra Setiawan adalah kepiawaiannya dalam permainan net. Hal yang diakui oleh Aaron Chia sebagai faktor kekalahan mereka atas Hendra/Ahsan di final All England 2019.
“Setiawan sangat bagus di depan net. Mereka jauh lebih baik di pukulan ketiga dan itu mengambil permainan kami,” kata Aaron Chia.
Keunggulan Hendra di depan net juga menandai adaptasi ganda putra dengan sistem reli poin 3x21 yang dimulai sejak 2005.
Hendra, bersama Markis Kido, ketika itu adalah salah satu pasangan yang memanfaatkan sistem reli poin dengan permainan cepat yang ditandai dengan pukulan-pukulan pendek di depan net.
Dengan gaya bermain yang relatif baru itu Hendra/Kido cukup dominan dalam periode 2005-2010. Mereka meraih emas Olimpiade Beijing, Kejuaraan Dunia, Asian Games, Kejuaraan Asia, dan tiga medali emas SEA Games.
Baca Juga: Masih Bermain di Usia 40 Tahun, Ini Kendala yang Dihadapi Hendra Setiawan
Adapun di level grand prix dan super series, Hendra/Kido meraih total 15 gelar sebagai simbol penerus generasi ganda putra bulutangkis yang merupakan andalan Indonesia sejak lama.
Ketika permainan dengan Kido mulai menurun, Hendra dipasangkan dengan Ahsan sejak 2013. Bersama Ahsan yang lebih muda tiga tahun dan punya keunggulan smash, Hendra terlahir kembali.
Hendra/Ahsan dua kali menjadi juara dunia 2013-2015 namun sempat berpencar pada 2017 di mana Hendra berpasangan dengan eks rivalnya asal Malaysia, Tan Boon Heong, pada 2017.
Setelah rekanan bersama Boon Heong tak sukses, Hendra kembali berpasangan dengan Ahsan dan fase gemilang kembali. Di antaranya adalah mereka menjadi juara All England, juara dunia, serta juara Final BWF pada 2019.
Setelah itu The Daddies–julukan Hendra/Ahsan–mulai surut meski mereka masih bisa tampil di final Kejuaraan Dunia 2022, All England 2023, dan terakhir di final Australia Terbuka, Juni silam.
Menjelang Indonesia Masters yang bakal digelar di Istora Senayan, Jakarta, 21-26 Januari mendatang, Hendra akan menikmati masa-masa menuju akhir kariernya.
Pencinta bulutangkis dunia bersiap untuk tak lagi melihat permainan Hendra. Namun sang legenda mengisyaratkan bahwa ia tidak akan jauh dari bulutangkis dan bakal menjajal kepelatihan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









