Dukungan tersebut disampaikan Tolchenov saat menerima kunjungan Ketua Umum Pengurus Pusat Perkumpulan Beladiri Sambo Indonesia (PP Persambi) Krisna Bayu, Sekjen Arnold Silalahi, serta panitia kejuaraan di kediamannya, Jakarta, Rabu (13/8).
Dubes Tolchenov juga merespons positif rencana Krisna Bayu untuk mengembangkan olahraga Sambo di Indonesia serta melakukan latihan di Rusia. Ia berjanji akan membicarakan hal tersebut dengan Presiden Federasi Sambo Rusia (All-Russian Sambo Federation), Sergey Eliseev.
"Kami mendukung Indonesia sebagai tuan rumah Youth and Junior World Sambo Championship 2025," ujar Tolchenov.
"Olahraga sambo (di Indonesia) mendapat dukungan penuh dari pemerintah Rusia. Saya akan membicarakan ini dengan Presiden All-Russian Sambo Federation agar dapat membantu membangun prestasi sambo Indonesia."
Apalagi menurut Tolchenov, pemerintah Rusia saat ini tengah memperjuangkan agar Sambo bisa dipertandingkan secara resmi di Olimpiade. Ia juga berterima kasih kepada Krisna Bayu yang telah mengembangkan olahraga beladiri asal Rusia itu di Indonesia.
"Rusia dan Indonesia sudah bekerja sama di berbagai cabang olahraga, seperti anggar dan senam. Saat ini, kami juga menjajaki kerja sama di sepakbola dan bulutangkis," Tolchenov menambahkan.
Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Krisna Bayu menyampaikan apresiasinya atas dukungan yang diberikan oleh Dubes Tolchenov. Peraih tiga kali tiket Olimpiade tersebut menceritakan perjuangannya mendirikan PP Persambi pada 2017.
Selama dua periode kepemimpinan, ia berhasil mengembangkan Sambo di 26 provinsi, sekaligus memperjuangkan olahraga ini untuk bisa tampil di Asian Games Jakarta-Palembang 2018, SEA Games Filipina 2019, dan Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh–Sumut 2024.
"Saya yakin Indonesia mampu meraih prestasi dunia jika mendapat dukungan dari Rusia dalam pengembangan prestasi olahraga Sambo," kata Krisna Bayu.
Kejuaraan Dunia Bela Diri Sambo Remaja dan Junior 2025 di Indonesia ini, ditargetkan bisa dihadiri oleh sekitar 400-500 peserta dan offisial dari 60-80 negara.