Akurat

Sinergi Jadi Kunci, Perbasi Dorong Regenerasi Atlet Basket Indonesia

Annisa Fadhilah | 8 Agustus 2025, 15:04 WIB
Sinergi Jadi Kunci, Perbasi Dorong Regenerasi Atlet Basket Indonesia

AKURAT.CO Basket menjadi salah satu cabang olahraga yang cukup digemari di Indonesia, khususnya di kalangan anak muda. Namun, jika menilik prestasi atlet-atlet basket nasional di kancah Asia, Anda mungkin akan menyadari bahwa kiprah mereka belum seterang cabang olahraga lainnya seperti bulu tangkis atau sepak bola. 

Meski talenta muda terus bermunculan, pencapaian atlet basket Indonesia masih tergolong terbatas, baik secara tim maupun individu. Lantas, apa saja tantangan utama yang menghambat kemajuan atlet basket muda Indonesia? Berikut penelusuran lengkapnya.

Baca Juga: 4 Fakta Menarik Sabda Ahessa, Atlet Basket Kekasih Wulan Guritno

Kendala Infrastruktur dan Fasilitas Latihan

Salah satu tantangan paling mendasar adalah minimnya infrastruktur dan fasilitas latihan yang layak, khususnya di luar kota-kota besar.

Banyak daerah di Indonesia yang belum memiliki lapangan basket indoor standar atau bahkan fasilitas pelatihan dasar.

Bagi Anda yang tinggal di daerah, mungkin pernah merasakan sulitnya mencari tempat latihan yang memadai atau pelatih profesional yang bisa membimbing perkembangan teknik secara konsisten.

Tak sedikit sekolah yang memiliki lapangan basket seadanya, dengan permukaan tidak rata, ring basket yang tidak standar, hingga fasilitas pendukung yang nyaris tidak ada.

Padahal, pembentukan skill dan kemampuan atlet sangat bergantung pada kualitas tempat berlatih. Dalam kondisi seperti ini, tak heran bila anak-anak muda yang berbakat akhirnya harus mengalah pada keterbatasan.

Minimnya Liga Kompetitif Usia Muda

Meski gairah bermain basket cukup tinggi di kalangan pelajar, sayangnya kesempatan untuk mengasah kemampuan dalam ajang kompetitif masih sangat terbatas.

Liga basket usia muda yang terstruktur dan berkelanjutan masih jarang ditemukan. Anda mungkin mengenal DBL (Developmental Basketball League), namun turnamen ini belum mampu menjangkau seluruh pelosok negeri secara merata.

Minimnya liga usia muda menyebabkan banyak talenta yang kurang terasah secara mental maupun strategi permainan. Kompetisi sejatinya bukan hanya soal menang-kalah, tetapi juga sebagai ajang pembelajaran dan peningkatan kualitas. Tanpa adanya ritme kompetisi yang rutin, kemajuan kemampuan atlet bisa stagnan.

Kurangnya Dukungan Finansial bagi Atlet Daerah

Kendala lain yang tak kalah penting adalah terbatasnya dukungan finansial, terutama bagi atlet muda dari daerah.

Bagi banyak keluarga, mendukung anak untuk berkarier di dunia olahraga, khususnya basket, masih dianggap sebagai investasi yang tidak pasti. Biaya untuk mengikuti pelatihan, membeli perlengkapan, hingga bepergian ke luar kota demi mengikuti turnamen, seringkali menjadi beban tersendiri.

Hal ini tentu berdampak langsung pada motivasi dan kelangsungan karier atlet muda. Tidak sedikit yang akhirnya memilih berhenti dan mengejar jalur pendidikan atau pekerjaan lain yang lebih menjanjikan secara ekonomi.

Bila Anda berasal dari latar belakang serupa, tentu paham betapa pentingnya akses beasiswa dan dukungan sponsor sejak dini.

Baca Juga: Perbasi Umumkan Roster Timnas Putri untuk FIBA Piala Asia Putri 2025 Division A

Peran Perbasi dalam Mendorong Pembinaan Atlet Muda

Di tengah tantangan tersebut, Perbasi (Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia) hadir sebagai salah satu aktor penting dalam pembinaan atlet muda.

Perbasi telah mulai menggerakkan pelatihan dan kompetisi yang lebih terstruktur, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki potensi besar. Salah satu contoh nyata adalah Perbasi Jakarta, yang telah berhasil membina sejumlah pemain muda berbakat berkat dukungan infrastruktur dan manajemen yang lebih profesional.

Dengan jumlah klub basket yang terus bertambah, serta pelatih bersertifikat yang semakin banyak, Jakarta menjadi salah satu pusat perkembangan basket nasional. Anda yang pernah mengikuti kompetisi di ibu kota mungkin merasakan atmosfer yang jauh lebih kompetitif dan kondusif dibandingkan wilayah lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa dengan manajemen yang baik, pengembangan atlet muda sangat mungkin dilakukan.

Sinergi Antara Pemerintah, Swasta, dan Komunitas

Untuk mengatasi tantangan-tantangan di atas tentu membutuhkan sinergi dari berbagai pihak.

Pemerintah memiliki peran vital dalam menyediakan sarana dan prasarana, sementara sektor swasta bisa ikut serta melalui pendanaan, sponsorship, atau beasiswa bagi atlet muda Perbasi di daerah. Komunitas basket juga dapat menjadi jembatan untuk menjaring dan membina bakat-bakat muda di akar rumput.

Inisiatif seperti pembentukan akademi basket lokal, pelatihan pelatih daerah, dan pelaksanaan liga antar sekolah atau antar kabupaten, bisa menjadi solusi nyata. Anda yang tergabung dalam komunitas basket atau organisasi kepemudaan bisa menjadi motor penggerak perubahan ini di daerah masing-masing. Ketika semua elemen bersinergi, pembinaan atlet muda tak lagi bergantung pada satu pihak saja.

Potensi Besar Atlet Basket Indonesia

Melihat banyaknya bakat muda yang bermunculan dari berbagai daerah, harapan untuk menjadikan Indonesia sebagai kekuatan baru basket Asia bukanlah mimpi kosong. Asalkan tantangan-tantangan mendasar ini dapat diatasi, bukan mustahil Indonesia akan memiliki tim basket nasional yang disegani di level regional maupun internasional.

Bagi Anda yang peduli pada masa depan olahraga nasional, mendukung perkembangan basket sejak dini adalah langkah strategis. Dari sinilah regenerasi atlet bisa berjalan, dan prestasi Indonesia di dunia basket bisa mulai mencuri perhatian. Semuanya dimulai dari keberanian menghadapi tantangan dan komitmen untuk berubah.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.