Akurat

Viral di Media Sosial, Inilah Arti dan Urgensi Tagar "Save Raja Ampat"

Dani Zahra | 5 Juni 2025, 17:37 WIB
Viral di Media Sosial, Inilah Arti dan Urgensi Tagar "Save Raja Ampat"

AKURAT.CO Media sosial tengah diramaikan oleh tagar #SaveRajaAmpat. Tagar ini tidak hanya menggugah kesadaran publik, tetapi juga menandai babak baru dalam perdebatan panjang antara pelestarian alam dan ambisi industri.

Sorotan bermula dari unggahan Greenpeace Indonesia yang memperlihatkan potret terbaru kawasan Raja Ampat yang selama ini dikenal sebagai “surga terakhir” dunia laut tropis.

Baca Juga: Sejarah Tambang Nikel Raja Ampat, Ambisi Investasi yang Gerus Kekayaan Alam Papua

Dalam unggahan tersebut, Greenpeace menyoroti kehadiran aktivitas penambangan nikel di sejumlah pulau di Raja Ampat.

Pulau Gag, Pulau Kawe, dan Pulau Manuran kini disebut-sebut menjadi lokasi eksplorasi dan pengembangan tambang oleh perusahaan yang berada dalam lingkup PT Aneka Tambang (Antam).

Di Balik Tagar #SaveRajaAmpat

Tagar ini muncul sebagai bentuk perlawanan digital terhadap ancaman kerusakan lingkungan di kawasan konservasi laut yang sangat vital.

Raja Ampat bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga ekosistem laut kelas dunia yang menjadi rumah bagi ribuan spesies ikan dan terumbu karang.

Kerusakan sekecil apa pun di wilayah ini berpotensi berdampak besar, tak hanya bagi Papua, tetapi bagi keseimbangan ekologi global.

Greenpeace menyampaikan kritik keras terhadap proyek tambang nikel tersebut, menyebut eksploitasi tersebut sebagai bentuk perusakan yang mengorbankan lingkungan demi kepentingan ekonomi jangka pendek.

“The Last Paradise: Satu per satu mahakarya alam Indonesia dikikis habis demi ambisi sesaat dan kepentingan segelintir elite. Negara harus hadir, bukan sekadar menjadi saksi,” tulis Greenpeace melalui akun Instagram resmi mereka, @greenpeaceid.

Antara Hilirisasi dan Konservasi

Pemerintah saat ini tengah mendorong program hilirisasi nikel, yakni proses pengolahan bijih mentah menjadi produk turunan seperti bahan baku baterai kendaraan listrik. Dalam konteks transisi energi global, kebijakan ini memiliki nilai strategis.

Namun, perlu dicatat bahwa pusat pengolahan nikel nasional sebelumnya berpusat di Maluku Utara dan Sulawesi.

Ekspansi ke Papua Barat Daya menimbulkan kekhawatiran karena wilayah ini memiliki karakter ekologis yang jauh lebih sensitif. Tanpa perlindungan yang kuat, hilirisasi berisiko menjadi hilangnya warisan ekosistem yang tidak tergantikan.

Greenpeace pun menekankan urgensi agar pemerintah segera mengevaluasi ulang izin-izin pertambangan yang sudah terbit di Raja Ampat. Mereka mengingatkan bahwa kawasan ini bukan hanya milik Indonesia, tetapi juga menjadi perhatian dunia internasional karena keanekaragaman hayatinya yang unik.

Kenapa Harus Diselamatkan? Raja Ampat bukan hanya simbol keindahan, tetapi juga benteng terakhir ekosistem laut tropis yang masih terjaga. Kawasan ini menyimpan lebih dari 75 persen spesies karang dunia dan menjadi pusat penelitian ilmiah internasional.

Ancaman terhadap Raja Ampat berarti ancaman terhadap masa depan laut dunia. Di tengah gencarnya kampanye lingkungan dan transisi energi, justru kawasan seperti inilah yang harus dijadikan model pelestarian, bukan lahan eksploitasi.

Tagar #SaveRajaAmpat bukan sekadar viral di linimasa, melainkan sinyal dari publik yang mulai sadar bahwa pembangunan tidak bisa lagi dilakukan dengan cara lama: mengorbankan alam demi kepentingan jangka pendek.

Kampanye ini mengajak kita semua, termasuk para pembuat kebijakan, untuk melihat kembali arah pembangunan yang sedang ditempuh. Apakah Indonesia siap menjadi pelopor transisi energi yang berkeadilan bukan hanya bagi manusia, tetapi juga bagi alam.

Baca Juga: Bahlil Tegaskan Tambang Nikel di Raja Ampat Yang Disetop Punya AntamBaca Juga: Bahlil Tegaskan Tambang Nikel di Raja Ampat Yang Disetop Punya Antam

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
D