Buka Suara! Ini Tanggapan Resmi SMA Binus Internasional Serpong Terhadap Kasus Pembullyan yang Sedang Viral

AKURAT.CO Baru-baru ini media sosial dihebohkan dengan kasus pembullyan di SMA Binus Internasional Serpong yang salah satu pelakunya diduga Farrel Legolas Rompies, anak dari pasangan Vincent Rompies dan Fifi Karamoy.
Kasus pembullyan ini disebut karena adanya proses rekrutmen geng SMA Binus Internasional Serpong yang bernama Geng Tai (GT).
Geng yang terdiri dari siswa kelas 12 SMA Binus Serpong, melakukan tindakan-tindakan perundungan terhadap calon anggota baru Geng Tai antara lain pemukulan hingga pencekikan.
Diketahui siswa kelas 12 yang berhasil mengajak anggota baru untuk masuk geng akan mendapatkan privilege yang salah satunya adalah memperoleh ‘status’ atau jabatan yang lebih terpandang di sekolah.
Sedangkan, anggota baru yang nantinya berhasil memenuhi semua syarat dan bergabung ke GT akan memperoleh keuntungan seperti uang hingga akses parkir yang dekat dengan sekolah.
Lebih lanjut, dengan viralnya kasus perundungan di sekolah yang menerapkan kurikulum Cambridge tersebut, pihak SMA Binus Internasional Serpong pun turut buka suara.
Sekolah Binus Serpong membenarkan kejadian kekerasan yang melibatkan salah satu siswanya dalam pernyataan resmi mereka.
Namun, Binus School Serpong menegaskan bahwa kejadian tersebut terjadi di luar lingkungan sekolah.
Berdasarkan keterangan Kepala Binus School Serpong Corey David Alison, pihak Sekolah segera melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap masalah tersebut.
Selain itu, pihak Binus juga menyatakan telah bekerja keras untuk mengumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang insiden tersebut, terutama untuk memastikan tindakan yang tepat telah diambil.
“Komunitas BINUSIAN yang terhormat, kami ingin mengatasi masalah yang paling penting dalam komunitas sekolah kami. Belakangan ini menjadi perhatian kita bahwa telah terjadi peristiwa kekerasan yang terjadi di luar lingkungan sekolah," jelas Corey David Alison dalam keterangan tertulisnya.
Pihak Binus juga akan memberikan dukungan kepada para korban, meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang terlibat atas tindakan mereka, dan menerapkan langkah-langkah untuk mencegah kejadian serupa terjadi di masa depan.
Corey David Alison menyadari bahwa banyak orang penasaran dengan detail kejadian tersebut.
Namun, pihak sekolah meminta masyarakat untuk memahami bahwa kejadian tersebut bersifat pribadi, terutama karena melibatkan anak di bawah umur.
Ia menekankan bahwa kekerasan, baik fisik, emosional, atau psikologis, sama sekali tidak dapat diterima dan bertentangan dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang dipegang oleh warga Binus.
"Sekolah tidak akan membiarkan sikap tidak peka terhadap siapapun terhadap tindakan kekerasan dalam bentuk apapun, apapun alasannya, dan kita semua mempunyai kewajiban untuk mencegah hal tersebut terjadi. Kami berupaya menciptakan lingkungan di mana setiap individu merasa aman, dihormati, dan dihargai. Segala perilaku yang merusak lingkungan ini tidak akan ditoleransi," tulisnya.
"Demikian pula, kami menghimbau semua orang untuk menahan diri dari spekulasi dan asumsi saat ini, karena hal ini berdampak negatif pada komunitas kami. Kami juga dengan rendah hati berterima kasih kepada semua orang yang bertanggung jawab mengelola komunikasi, terutama di media sosial," tambahnya.
Pihak sekolah juga menyerukan kepada semua anggota komunitas sekolah untuk terus mempromosikan budaya kebaikan, empati, dan inklusivitas.
Dia mengatakan bahwa melalui upaya bersama, kita bisa menciptakan lingkungan yang positif dan penuh rasa hormat di mana setiap orang bisa berkembang secara akademis, sosial, dan emosional serta menyampaikan terima kasih atas kerjasama, pengertian, dan dukungan yang diberikan dalam menghadapi masalah ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









