Akurat

Sejarah Singkat Peristiwa 10 November 1945, Pertempuran Surabaya Yang Disebut Sebagai Tempat Neraka

Iim Halimatus Sadiyah | 10 November 2023, 00:49 WIB
Sejarah Singkat Peristiwa 10 November 1945, Pertempuran Surabaya Yang Disebut Sebagai Tempat Neraka

AKURAT.CO Salah satu hari bersejarah di Indonesia pada era kemerdekaan, yaitu adanya peristiwa 10 November 1945 yang dikenal sebagai pertempuran Surabaya.

Bukan hanya pertempuran biasa, karena 10 November tersebut telah ditetapkan sebagai Hari Pahlawan yang menjadi peringatan peristiwa heroik arek Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia (RI).

Dari peristiwa bersejarah tersebut, maka setiap tahun di tanggal 10 November, semua instansi pemerintah akan melakukan upacara peringatan Hari Pahlawan.

Mengutip berbagai sumber, Jumat (10/11/2023), berikut ini sejarah singkat dari peristiwa 10 November yang menjadi pertempuran besar di Surabaya hingga dijadikan Hari Pahlawan Indonesia.

Baca Juga: Tiba Hari Pahlawan, Ini Bukti Bahwa Cinta Tanah Air Merupakan Bagian Dari Keimanan Seseorang

Sejarah Hari Pahlawan Sebagai Peristiwa 10 November

Berawal dari tanggal 1 September 1945, ada seruan untuk mengibarkan bendera Merah Putih secara bersamaan di seluruh Indonesia. 

Kemudian di tanggal 18 September 1945, pasukan Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman mepngibarkan bendera Belanda yang berwarna merah, putih, biru di Hotel Yamat, Surabaya tanpa persetujuan Republik Indonesia. 

Para pemuda Surabaya saat itu mulai geram melihat bendera Belanda kembali berkibar pada tanggal 19 September 1945.

Residen Sudirman, yang saat itu bertugas sebagai Residen Daerah Surabaya, datang ke Hotel Soedirman dan melihat banyak orang. 

Dengan Sidik dan Hariono, Residen Sudirman kemudian memasuki Hotel Yamato dan meminta Mr. Ploegman untuk menurunkan bendera. 

Namun sayangnya, mereka menolak permintaan itu, dan terjadi perkelahian hingga Mr. Ploegman mengeluarkan pistolnya.

Pada perkelahian tersebut, Mr. Ploegman tercekik oleh Sidik, dan tentara Belanda yang mendengar letusan pistol menembak Sidik.

Baca Juga: 10 Daftar Lagu Nasional Untuk Hari Pahlawan, Paling Populer Dinyanyikan Saat 10 November 

Di sisi lain, Residen Sudirman dan Hariyono melarikan diri dari hotel, sementara para pemuda Surabaya berebut untuk menaiki hotel dan menurunkan bendera. 

Hariyono merupakan orang yang berhasil keluar dari hotel, kemudian terlibat dalam pemanjatan tiang bendera bersama Kusno Wibowo, yang berhasil menurunkan bendera Belanda untuk dirobek menjadi merah dan putih, kemudian menurunkan kembali dari tiang bendera.

Kemudian di tanggal 25 Oktober 1945, Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) mendarat di Tanjung Perak, Surabaya.

Kedatangan AFNEI dipimpin oleh Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby. Dalam rombongan tersebut turut ikut pula tentara Belanda dan seradadu Ambon yang berpihak ke Belanda. 

Saat pendaratan kedua, AFNEI ternyata langsung menyerang Penjara Kalisosok. Mereka melepaskan tahanan Belanda yang ditahan oleh pemuda Surabaya. 

Setelah penyerangan Penjara Kalisosok pada tanggal 27 Oktober 1945, para pemuda menjadi marah dan menyerang pos pasukan Inggris di bawah AFNEI.

Jembatan Wonokromo adalah tempat pertempuran besar A.W.S. Mallaby, yang tewas setelah ikut dalam bentrokan dengan milisi Indonesia.

Baca Juga: 10 Rekomendasi Film Yang Bertema Hari Pahlawan, Mengingat Sejarah Penuh Perjuangan Untuk Merdeka

A.W.S. Mallaby tewas di mobil Buick miliknya pada pukul 20.30 tanggal 30 Oktober 1945 yang terbakar oleh granat pemuda Surabaya

Tewasnya A.W.S. Mallaby, ternyata tidak menghentikan pertempuran yang terjadi danmembuat Mayor Jenderal Mansergh mengeluarkan ultimatum penyerahan senjata pada 10 November 1945 melalui selebaran di kota Surabaya. 

Bahkan, Mansergh juga mengancam apabila pasukan Surabaya tidak menyerahkan senjata, maka Sekutu akan menghancurkan Surabaya. 

Selain itu, semua pimpinan bangsa Indonesia dan para pemuda harus datang paling lambat pada 10 November 1945 pukul 06.00 di tempat yang telah ditentukan.

Pemuda Surabaya tidak peduli dengan ultimatum penyerahan senjata Sekutu, justru memilih untuk melawan, terutama karena orasi Bung Tomo meningkatkan semangat perjuangan arek Surabaya. 

Selain Bung Tomo, ada KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, dan kyai dari berbagai pesantren yang mengeluarkan fatwa jihad dan mendorong murid-murid mereka untuk berperang.

Puncaknya mulai 10 November 1945 hingga dua pekan selanjutnya, 28 November 1945 telah berlangsung pertempuran Surabaya yang sengit.

Pertempuran ini setidaknya memakan korban sebanyak 20.000 orang dari Surabaya dan 1.500 dari Sekutu. Selain itu diperkirakan sebanyak 150.000 orang meninggalkan Surabaya.

Pertempuran 10 November 1945 adalah pertarungan terbesar untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, bahkan Surabaya disebut sebagai tempat neraka yang cukup menyeramkan untuk diingat.

Oleh sebab itu, Presiden Soekarno menetapkan 10 November 1945 sebagai Hari Pahlawan karena semangat militan pemuda Surabaya untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.