GEKRAFS Dorong UMKM Kreatif Jadi Pilar Ekonomi Mandiri Nasional

AKURAT.CO Peran ekonomi kreatif (ekraf) dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional kian signifikan. Di tengah upaya pemerintah membuka lebih banyak lapangan kerja berkualitas, sektor ekraf hadir sebagai solusi strategis, terutama melalui transformasi pelaku UMKM ke ranah kreatif.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Banom UMKM DPP GEKRAFS, Faizal Hermiansyah, dalam acara Creative Talks Road to Kongres 1 GEKRAFS di Jakarta.
Faizal menegaskan bahwa integrasi antara ekonomi kreatif dan UMKM akan menjadi kekuatan utama dalam membangun ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan.
“Ketika ekonomi kreatif menyatu dengan UMKM, lahirlah inovasi lokal yang mampu bersaing di pasar global,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (12/7/2025).
Baca Juga: Menteri Maman Jadikan Musik Koplo Sebagai Pendorong Baru Ekonomi Kreatif
Menurutnya, pendekatan ini bukan hanya menghasilkan produk yang bernilai tambah tinggi, tapi juga menciptakan peluang kerja luas berbasis ide, inovasi, dan keterampilan individu.
"Transformasi tersebut juga menjadi langkah krusial menuju kemandirian ekonomi dan pengakuan dunia terhadap karya anak bangsa," tambah Faizal.
Faizal juga menegaskan bahwa Indonesia memerlukan dukungan agar ide-ide yang dimiliki anak bangsa berkembang.
" Indonesia bukan kekurangan ide, tapi butuh ekosistem yang mendukung pertumbuhan ide menjadi kekuatan ekonomi nyata. Ini adalah langkah yang nyata," tegasnya.
Pernyataan Faizal diperkuat dengan data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, yang mencatat bahwa dalam lima tahun terakhir, sektor ekraf menciptakan hingga 2,5 juta lapangan kerja. Dari total itu, sekitar 80% didominasi oleh tiga subsektor utama: kuliner, fesyen, dan kriya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua OKK dan Pengembangan Wilayah DPP GEKRAFS, Noval Abuzarr, mengungkapkan bahwa potensi ekonomi kreatif Indonesia sangat besar jika mampu dimanfaatkan secara optimal.
“Ekraf memiliki nilai tambah tinggi karena berbasis ide manusia, dan ide tidak pernah ada habisnya,” kata Noval.
Baca Juga: Pemerintah Dorong Pemanfaatan Danais DIY untuk Perkuat Sektor Ekonomi Kreatif dan Budaya
Noval menjelaskan, sebuah produk sederhana seperti kopi rumahan bisa memiliki nilai jual berkali lipat jika dikemas dengan baik dan didukung promosi yang kreatif. Inilah esensi ekraf, mengolah ide menjadi produk bernilai ekonomi melalui inovasi dan estetika.
Dirinya pun memberikan empat kiat praktis bagi pelaku usaha pemula di sektor ekonomi kreatif. Pertama, menentukan produk dan segmentasi pasar.
Kedua, mengelola keuangan dengan disiplin, tidak mencampur dana pribadi dan bisnis. Ketiga, mengemas produk secara menarik dan memanfaatkan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) yang kini mudah diakses.
Keempat, mendaftarkan produk ke Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) untuk perlindungan hukum.
Noval juga menyinggung arah kebijakan nasional yang selaras dengan pengembangan ekraf. Menurutnya, visi Asta Cita dari Presiden dan Wakil Presiden terpilih Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka yang menekankan pentingnya penciptaan lapangan kerja berkualitas, sangat relevan dengan misi GEKRAFS.
“Ekraf menjadi kunci membuka lapangan kerja masa depan. Karena SDM makin terbatas, tapi ide dan kreativitas bisa terus tumbuh dan berkembang,” ujar Noval.
Sebagai bentuk konsolidasi nasional, GEKRAFS akan menggelar Rembuk Kreatif Nasional (Reknas) pada 18–20 Juli 2025 di GBK Baseball Field, Senayan, Jakarta. Forum ini akan menjadi ruang strategis bagi pelaku ekonomi kreatif dari seluruh Indonesia untuk menyusun arah dan kebijakan kolektif di sektor kreatif.
Terdapat dua agenda utama dalam Reknas. Pertama, Kongres 1 GEKRAFS, yang akan menjadi tonggak sejarah dengan pemilihan ketua umum GEKRAFS periode pertama, penyusunan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), serta stadium general. Kedua, SVARAVEST, festival kreatif yang mencakup pertunjukan musik, bazar UMKM, serta aktivasi komunitas terbuka untuk umum.
Menurut Faizal, Kongres 1 GEKRAFS akan memperkuat struktur kelembagaan komunitas kreatif nasional. “Kongres ini bukan sekadar seremoni, tapi forum perumusan strategi kolektif. Di sinilah semangat kolaborasi dan keberlanjutan akan dibangun bersama,” tegasnya.
Kongres ini juga diharapkan menjadi jembatan antara pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas kreatif dalam menghadapi tantangan global. Faizal menekankan pentingnya sinergi antara regulasi, pendanaan, dan pengembangan sumber daya manusia agar ekonomi kreatif Indonesia mampu menembus pasar internasional.
Dalam gelaran tersebut, akan hadir berbagai pelaku kreatif dari subsektor berbeda, termasuk ilustrator, perancang busana, pengusaha makanan, seniman visual, dan pelaku startup digital. Mereka akan terlibat dalam diskusi panel, workshop, serta kolaborasi lintas sektor.
GEKRAFS sendiri kini menjadi salah satu organisasi penting yang menjembatani pelaku kreatif lintas subsektor di Indonesia. Sejak didirikan, GEKRAFS aktif mendorong kebijakan yang pro terhadap pelaku ekonomi kreatif, serta menjalin kemitraan strategis dengan berbagai institusi, baik nasional maupun internasional.
Dengan berlangsungnya Kongres 1 dan SVARAVEST, GEKRAFS optimistis dapat memperkuat posisi ekraf sebagai tulang punggung ekonomi nasional yang berbasis inovasi dan keberagaman budaya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








