Terlalu Fokus ke Simpan Pinjam, Koperasi RI Didorong Rambah Sektor Riil

AKURAT.CO Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM), menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk mendorong koperasi di Indonesia agar lebih banyak terlibat dalam sektor riil. Deputi Bidang Perkoperasian KemenKopUKM, Ahmad Zabad, menjelaskan langkah ini diambil sebagai upaya diversifikasi dari usaha simpan pinjam yang selama ini dominan di sektor koperasi.
"Selama ini koperasi banyak beroperasi di sektor simpan pinjam. Kini, kami ingin mengarahkan agar koperasi juga memperkuat ekosistem di sektor riil. Kami di KemenKopUKM telah melaksanakan berbagai uji coba di sektor ini dengan hasil yang positif," ujar Ahmad Zabadi dalam Seminar bertema Transformasi Koperasi di Yogyakarta, dikutip Sabtu (27/7/2024).
Berdasarkan data dari Online Data System (ODS) tahun 2022, terdapat 130.354 koperasi di Indonesia dengan 29,45 juta anggota. Total volume usaha koperasi mencapai Rp197,8 triliun, dan asetnya mencapai Rp281 triliun. Koperasi konsumen mendominasi sebanyak 54,70 persen, diikuti oleh koperasi produsen (20,68%), dan koperasi simpan pinjam (14,34%).
Baca Juga: Integrasi Data Jadi Kunci Koperasi RI Naik Kelas
Ahmad Zabadi menyatakan bahwa meskipun angka-angka ini menunjukkan potensi besar, banyak koperasi belum sepenuhnya memanfaatkan peluang di sektor riil. "Kami percaya bahwa transformasi model bisnis koperasi, termasuk dengan membangun ekosistem di sektor riil, akan meningkatkan kontribusi mereka terhadap ekonomi," jelas Zabadi.
Zabadi memberikan contoh transformasi positif yang telah dilakukan oleh Koperasi Pesantren (Kopontren) Al-Ittifaq di Ciwidey, Bandung. Koperasi ini berhasil mengelola usaha pertanian secara efisien dengan menyerap hasil panen dari petani dan memasarkan produk ke supermarket dan hotel, sehingga mengoptimalkan hasil panen dan menjaga harga jual tetap kompetitif.
"Koperasi pertanian ini memanfaatkan inovasi dan teknologi untuk meningkatkan produktivitas petani. Ini merupakan contoh nyata bagaimana koperasi bisa berkembang dan beradaptasi dengan kebutuhan pasar," tambah Zabadi.
Selain itu, Zabadi menyebutkan inisiatif hilirisasi produk sawit sebagai salah satu program unggulan. Melalui pengolahan tandan buah segar menjadi minyak makan merah, yang pabrik pertamanya telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Maret 2024, koperasi berpotensi mendapatkan nilai tambah yang lebih tinggi.
"Menciptakan produk minyak makan merah dari sawit adalah langkah penting dalam meningkatkan nilai tambah produk dan memperluas pasar," kata Zabadi.
Namun, Zabadi mengakui bahwa jumlah koperasi yang terlibat di sektor riil masih terbatas. Untuk itu, ke depan, KemenKopUKM akan memfokuskan perhatian pada sektor pertanian, peternakan, kehutanan, perkebunan, dan perikanan, atau secara umum disebut agromaritim.
"Melihat contoh koperasi besar dunia seperti Nong Hyup Korea Selatan dan Zen Noh Jepang, kita harus bergerak ke arah yang sama. Kami akan memperkuat tata kelola koperasi dan mendorong mereka untuk lebih fokus pada sektor produksi," ungkap Zabadi.
Zabadi menegaskan perlunya dukungan regulasi untuk mencapai tujuan ini. KemenKopUKM sedang berupaya untuk merevisi UU Perkoperasian agar lebih mendukung transformasi koperasi. "Revisi UU Perkoperasian diperlukan untuk memperkuat pengawasan dan penjaminan simpanan koperasi," tandas Zabadi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










