Bukan Sekadar Adaptasi, Avatar The Last Airbender di Netflix Tunjukkan Kekuatan Pasar Nostalgia

AKURAT.CO Kehadiran Avatar: The Last Airbender dalam format live action tidak hanya menunjukkan perpindahan cerita dari animasi ke medium baru.
Serial tersebut juga memperlihatkan bagaimana nostalgia dan basis penggemar lama menjadi modal penting bagi industri hiburan.
Pengamat industri perfilman, Satrio Pamungkas, mengatakan, karya yang telah memiliki banyak penggemar memberi rasa percaya diri lebih besar kepada produsen untuk menghadirkannya kembali.
"Nostalgia dalam seni hiburan itu pasti, bahkan sangat kuat. Apalagi kalau sebuah karya memang sudah mempunyai basis penonton yang banyak," kata Pepo, sapaan akrabnya, Selasa (21/7/2026).
"Termasuk Dragon Ball, Doraemon, atau apa pun yang mempunyai basis penggemar luar biasa. Apalagi The Last Airbender, sejak awal memang sudah memiliki basis penonton yang besar," lanjutnya.
Baca Juga: YouTube Rilis Avatar AI, Kreator Bisa 'Menggandakan Diri' Tanpa Rekam Video
Pepo, yang juga akademisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) berpendapat bahwa industri akan melihat apakah penonton lama masih dapat ditarik kembali. Menurutnya, adaptasi juga menjadi cara untuk memperkenalkan cerita tersebut kepada generasi penonton baru.
Namun, ia menilai mengandalkan nama besar saja tidak cukup. Ia melihat versi baru tetap harus mempunyai daya tarik yang membedakannya dari karya sebelumnya.
"Industri pasti melihat bagaimana pasar sebelumnya, yang sudah mempunyai konsumen atau penonton dalam jumlah banyak, dicoba untuk dihadirkan kembali," ujar Pepo.
"Tetapi, tetap harus ada unique selling point yang bisa menghadirkan kembali penonton lama sekaligus memperoleh penonton yang lebih banyak," sambungnya menambahkan.
Dalam format serial yang tayang di Netflix, Avatar: The Last Airbender dinilai memiliki ruang lebih besar untuk membangun hubungan antara penonton dan karakter.
Baca Juga: Dukung Ekosistem Perfilman Tanah Air Bersama Acha Septriasa, Avatar Media Diluncurkan
Pepo menilai, cerita yang lebih panjang membuat perkembangan tokoh dapat diikuti secara bertahap sehingga ini pembeda dengan format film tunggal yang mempunyai durasi lebih terbatas.
"Melalui serial, kita menjadi lebih terikat, lebih dekat, dan lebih pekat dalam mengikuti cerita maupun tokoh-tokoh lain di luar tokoh utama," katanya.
Ia menambahkan, perbedaan antara versi animasi dan live action merupakan konsekuensi dari proses adaptasi. Penyederhanaan alur dan karakter dibutuhkan agar cerita sesuai dengan durasi serta medium yang digunakan.
"Itulah uniknya adaptasi. Tidak harus sama karena ada pengembangan. Perubahan itu merupakan bagian dari keindahan seni ketika sebuah karya berpindah dari bentuk seni yang satu menjadi bentuk seni yang baru," jelas Pepo.
Bagi industri, basis penggemar yang sudah terbentuk pada akhirnya mengurangi ketidakpastian pasar. Produsen tidak sepenuhnya memulai dari nol karena nama, karakter, dan dunia ceritanya telah dikenal publik.
Baca Juga: Avatar Season 3 Fire and Ash: Jadwal Rilis, Bocoran Sinopsis, dan Fakta Baru!
"Kepercayaan diri itulah yang kemudian menumbuhkan keyakinan dari sisi finansial dan industri untuk menciptakan sebuah produk baru, yaitu versi live action," kata Pepo.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK



