Akurat

Fenomena Quiet Quitting, Tren Baru yang Mengubah Cara Orang Bekerja

Eko Krisyanto | 7 Februari 2026, 16:27 WIB
Fenomena Quiet Quitting, Tren Baru yang Mengubah Cara Orang Bekerja

AKURAT.CO Dunia kerja terus mengalami perubahan, terutama setelah pola kerja modern semakin menuntut fleksibilitas sekaligus produktivitas tinggi.

Di tengah tuntutan tersebut, muncul istilah yang ramai diperbincangkan, yakni quiet quitting.

Fenomena ini tidak berarti seseorang benar-benar berhenti bekerja, melainkan memilih bekerja sesuai tanggung jawab yang telah ditentukan tanpa melakukan usaha tambahan di luar peran utamanya.

Baca Juga: 2,5 Juta Orang Kembali Bekerja, Progres Program MBG Sangat Cepat

Tren ini menjadi sorotan karena mencerminkan perubahan cara pandang generasi pekerja terhadap karier, kesehatan mental, dan keseimbangan hidup.

Tidak sedikit pekerja yang mulai mempertanyakan budaya kerja yang menuntut lembur tanpa batas, hingga tekanan untuk selalu tampil maksimal meski kondisi mental dan fisik tidak mendukung.

Apa Itu Fenomena Quiet Quitting?

Quiet quitting adalah istilah yang menggambarkan sikap pekerja yang tetap menjalankan tugas sesuai kontrak kerja, tetapi menolak mengambil beban tambahan di luar tanggung jawab utama.

Mereka tetap hadir, menyelesaikan pekerjaan, dan memenuhi target dasar, namun tidak lagi berupaya melampaui ekspektasi perusahaan.

Fenomena ini banyak muncul di lingkungan kerja modern yang menuntut karyawan selalu aktif, responsif, bahkan di luar jam kerja.

Quiet quitting sering dipahami sebagai bentuk penegasan batas antara kehidupan profesional dan kehidupan pribadi.

Siapa yang Rentan Mengalami Quiet Quitting?

Quiet quitting dapat terjadi pada siapa saja, baik pekerja baru maupun karyawan berpengalaman.

Namun, fenomena ini cenderung lebih banyak ditemukan pada pekerja yang berada dalam lingkungan kerja dengan tekanan tinggi atau kurang mendapatkan apresiasi.

Beberapa kelompok yang cukup rentan antara lain:

1. Pekerja dengan beban kerja berlebih
2. Karyawan yang merasa kontribusinya tidak dihargai
3. Pekerja yang mengalami kelelahan emosional
4. Generasi muda yang lebih memprioritaskan keseimbangan hidup

Baca Juga: Quiet Quitting vs AKHLAK BUMN

Kapan Fenomena Quiet Quitting Mulai Muncul?

Fenomena quiet quitting mulai mendapat perhatian luas dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah perubahan pola kerja akibat pandemi.

Banyak pekerja yang mulai mengevaluasi kembali prioritas hidup dan menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental.

Perubahan sistem kerja jarak jauh dan fleksibilitas waktu juga mendorong pekerja untuk menetapkan batasan yang lebih jelas terhadap pekerjaan.

Mengapa Quiet Quitting Terjadi?

Penyebab quiet quitting umumnya berkaitan dengan pengalaman negatif dalam dunia kerja. Berikut beberapa faktor yang sering memicu fenomena ini:

1. Kurangnya Apresiasi

Pekerja yang merasa usahanya tidak dihargai cenderung kehilangan motivasi. Ketika kontribusi besar tidak diimbangi dengan pengakuan atau penghargaan, semangat kerja bisa menurun.

2. Beban Kerja Berlebihan

Tuntutan pekerjaan yang terus meningkat tanpa dukungan memadai dapat menimbulkan stres berkepanjangan. Kondisi ini membuat pekerja memilih bekerja secukupnya agar tidak mengalami kelelahan mental.

3. Lingkungan Kerja Tidak Sehat

Hubungan kerja yang tidak harmonis, komunikasi yang buruk, atau budaya kerja yang kompetitif secara berlebihan dapat memicu pekerja menarik diri secara emosional.

4. Minimnya Kesempatan Berkembang

Ketika pekerja merasa kariernya stagnan, mereka cenderung kehilangan motivasi untuk memberikan usaha lebih.

5. Keinginan Menjaga Work-Life Balance

Banyak pekerja mulai menyadari bahwa kehidupan pribadi memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental. Quiet quitting sering menjadi cara untuk mempertahankan keseimbangan tersebut.

Dimana Fenomena Ini Banyak Terjadi?

Quiet quitting dapat terjadi di berbagai sektor pekerjaan, baik perusahaan swasta, instansi pemerintah, maupun sektor kreatif.

Lingkungan kerja dengan tekanan tinggi dan target yang ketat biasanya lebih rentan memunculkan fenomena ini.

Selain itu, pekerjaan yang memiliki jam kerja tidak menentu atau menuntut karyawan selalu siap bekerja di luar waktu kerja juga berpotensi meningkatkan risiko quiet quitting.

Bagaimana Quiet Quitting Dilakukan?

Quiet quitting biasanya tidak terlihat secara langsung karena pekerja tetap menjalankan tugasnya. Namun, ada beberapa perubahan perilaku yang sering muncul, seperti:

1. Bekerja hanya sesuai deskripsi pekerjaan
2. Menghindari lembur atau pekerjaan tambahan
3. Menolak tugas di luar tanggung jawab utama
4. Mengurangi keterlibatan dalam aktivitas kantor
5. Menjalankan pekerjaan secara standar tanpa inisiatif tambahan

Apakah Quiet Quitting Artinya Malas Bekerja?

Quiet quitting sering disalahartikan sebagai bentuk kemalasan. Padahal, fenomena ini lebih berkaitan dengan upaya menjaga batasan kerja.

Pekerja yang menerapkan quiet quitting tetap menyelesaikan tanggung jawabnya, hanya saja mereka tidak lagi berusaha melebihi ekspektasi perusahaan.

Namun, jika dilakukan secara berlebihan, quiet quitting juga dapat menurunkan kualitas kinerja dan memengaruhi perkembangan karier seseorang.

Dampak Quiet Quitting bagi Pekerja

Fenomena ini memiliki dampak positif dan negatif, tergantung bagaimana seseorang menerapkannya.

Dampak Positif

1. Membantu menjaga kesehatan mental
2. Mengurangi risiko burnout
3. Memberikan waktu lebih untuk kehidupan pribadi
4. Membantu pekerja menetapkan batasan kerja

Dampak Negatif

1. Menurunkan peluang promosi karier
2. Mengurangi kepuasan kerja
3. Berpotensi memengaruhi hubungan profesional
4. Dapat menimbulkan rasa jenuh dalam jangka panjang
5. Dampak Quiet Quitting bagi Perusahaan

Quiet quitting tidak hanya berdampak pada pekerja, tetapi juga organisasi. Produktivitas perusahaan bisa menurun jika banyak karyawan kehilangan motivasi kerja.

Selain itu, budaya kerja yang kurang sehat dapat menyebabkan tingkat pergantian karyawan meningkat.

Fenomena ini menjadi sinyal bagi perusahaan untuk mengevaluasi sistem kerja, komunikasi internal, serta kesejahteraan karyawan.

Cara Mengatasi Fenomena Quiet Quitting

Mengatasi quiet quitting memerlukan peran pekerja dan perusahaan secara bersamaan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

Bagi Pekerja

1. Mengelola stres kerja dengan baik
2. Berkomunikasi terbuka dengan atasan
3. Menentukan prioritas pekerjaan
4. Menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi

Bagi Perusahaan

1. Memberikan apresiasi terhadap karyawan
2. Menciptakan lingkungan kerja yang sehat
3. Menyediakan peluang pengembangan karier
4. Menjaga komunikasi yang transparan

Quiet quitting mencerminkan perubahan pola pikir pekerja modern yang tidak lagi menempatkan pekerjaan sebagai satu-satunya pusat kehidupan.

Banyak pekerja mulai menilai bahwa keberhasilan karier harus berjalan seimbang dengan kesehatan mental dan kualitas hidup.

Meskipun memiliki manfaat dalam menjaga keseimbangan hidup, quiet quitting juga dapat berdampak pada perkembangan karier jika tidak dikelola dengan bijak.

Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara pekerja dan perusahaan untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat, produktif, dan berkelanjutan.

Mutiara MY (Magang)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R