Akurat

Usia Ideal Pensiun Dini di Indonesia dan Cara Mempersiapkannya

Herry Supriyatna | 11 Januari 2026, 23:06 WIB
Usia Ideal Pensiun Dini di Indonesia dan Cara Mempersiapkannya

AKURAT.CO Bagi banyak orang, pensiun dini menjadi impian yang menggoda. Bebas dari tekanan pekerjaan, memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga, hingga kesempatan mengejar hobi yang selama ini tertunda menjadi daya tarik utama.

Namun di balik impian tersebut, muncul pertanyaan mendasar: pada usia berapa pensiun dini bisa dilakukan secara realistis, khususnya di Indonesia?

Menjawab pertanyaan ini tidak sesederhana menentukan angka usia. Pensiun dini sangat bergantung pada kesiapan finansial, gaya hidup, serta seberapa dini seseorang mulai merencanakan masa depan keuangannya.

Usia Pensiun Dini yang Paling Realistis

Secara umum, usia 45 hingga 50 tahun dinilai sebagai rentang paling realistis untuk pensiun dini di Indonesia.

Pada usia tersebut, seseorang biasanya telah bekerja selama 20–25 tahun, memiliki pengalaman panjang, tabungan yang relatif stabil, serta mulai menyelesaikan tanggungan utama seperti biaya pendidikan anak atau cicilan rumah.

Selain itu, pensiun di rentang usia ini masih memungkinkan seseorang menikmati masa pensiun dalam kondisi fisik yang relatif prima, sehingga tetap dapat menjalani aktivitas produktif tanpa tekanan pekerjaan formal.

Namun, pencapaian ini hanya mungkin diraih jika perencanaan keuangan telah dilakukan sejak usia produktif.

Baca Juga: Berapa Dana Minimal untuk Pensiun Dini di Indonesia? Ini Hitungan Realistisnya

Kapan Waktu Terbaik Mulai Merencanakan Pensiun Dini

Semakin cepat perencanaan dilakukan, semakin besar peluang untuk pensiun lebih muda. Sebagai gambaran:

  • Jika mulai menabung dan berinvestasi secara serius sejak usia 25 tahun, target pensiun di usia 45–47 tahun cukup realistis.

  • Jika perencanaan baru dimulai di usia 30 tahun, pensiun di usia 50–52 tahun masih dapat dicapai.

  • Sementara jika baru memulai setelah usia 35 tahun, peluang pensiun dini biasanya bergeser ke atas usia 55 tahun.

Kunci utama bukan semata besarnya penghasilan, melainkan kedisiplinan mengelola keuangan.

Menyisihkan sekitar 20–30 persen penghasilan bulanan dan menginvestasikannya secara konsisten pada instrumen yang tepat—seperti reksa dana, saham, atau properti—akan sangat membantu mempercepat tercapainya kebebasan finansial.

Tanda Keuangan Sudah Siap untuk Pensiun Dini

Sebelum memutuskan pensiun, ada beberapa indikator penting yang perlu dipastikan. Pertama, aset bersih idealnya telah mencapai minimal 25 kali kebutuhan pengeluaran tahunan.

Sebagai contoh, jika kebutuhan hidup per tahun Rp120 juta atau Rp10 juta per bulan, maka aset yang perlu dimiliki setidaknya Rp3 miliar.

Kedua, pendapatan pasif harus mampu menyamai atau bahkan melebihi pengeluaran bulanan.

Pendapatan pasif ini bisa berasal dari investasi, sewa properti, dividen saham, atau bisnis yang tetap berjalan meski tanpa keterlibatan aktif.

Selain itu, dana darurat minimal 12 kali pengeluaran bulanan serta perlindungan asuransi kesehatan yang memadai menjadi syarat penting agar masa pensiun berjalan aman dan tenang.

Baca Juga: BGN Libatkan Guru Sekolah untuk Perkuat Edukasi Gizi Siswa

Pensiun dini bukan hal mustahil, tetapi membutuhkan strategi dan kedisiplinan jangka panjang.

Di Indonesia, usia paling realistis untuk pensiun dini berada di rentang 45–50 tahun, dengan catatan kesiapan finansial telah dibangun secara matang.

Kebebasan finansial bukan semata soal jumlah uang yang dimiliki, melainkan hasil dari perencanaan yang konsisten, gaya hidup yang bijak, dan kebiasaan mengelola keuangan dengan disiplin.

Semakin cepat memulai, semakin dekat peluang menikmati pensiun muda tanpa beban finansial.

Laporan: Bunga Adinda/magang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.