Akurat

Apa Itu Hilirisasi Migas? Pengertian, Contoh, dan Dampaknya bagi Ekonomi Nasional!

Putri Chandra | 6 November 2025, 20:19 WIB
Apa Itu Hilirisasi Migas? Pengertian, Contoh, dan Dampaknya bagi Ekonomi Nasional!

AKURAT.CO Setelah melalui proses panjang Untuk memperkuat industri dalam negeri serta kemandirian energi, pemerintah akhirnya berhasil menuntaskan salah satu capaian penting dalam program hilirisasi migas.

Munculnya program hilirisasi migas di Indonesia, membuat banyak orang penasaran mulai dari pengertian, contoh, hingga dampaknya bagi ekonomi nasional.

Keberhasilan ini sekaligus menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjadikan hilirisasi sebagai agenda strategis dalam program Asta Cita.

Hal tersebut diwujudkan melalui peresmian Pabrik New Ethylene Project milik PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) oleh Presiden Prabowo Subianto bersama Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada Kamis (6/11/2025).

Baca Juga: Lewat Raker SKK Migas, PT Sinar Prapanca Tekankan Peran Masyarakat

Presiden Prabowo menekankan bahwa hilirisasi dan masuknya investasi di sektor ini akan menjadi dorongan penting dalam pembangunan nasional serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Apa Itu Hilirisasi Migas?

Berdasarkan situs resmi Kementerian ESDM, pemerintah akhirnya menorehkan pencapaian besar dalam program hilirisasi minyak dan gas bumi (migas). 

Kini, sebuah pabrik petrokimia terintegrasi resmi berdiri di Cilegon, Banten, menjadi bukti nyata bahwa Indonesia mampu mengolah dan memanfaatkan kekayaan sumber daya alamnya secara mandiri.

Hal tersebut dilakukan sebagai langkah awal yang terencana dan berkelanjutan untuk memperkuat industri nasional serta mencapai kemandirian energi.

Baca Juga: SKK Migas: BP Plc Minati WK Migas yang Dilelang Kementerian ESDM

Hilirisasi migas merupakan proses lanjutan dari pengelolaan minyak dan gas bumi setelah tahap eksplorasi dan produksi. 

Dalam tahap itu, hasil migas diolah agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dan siap digunakan oleh masyarakat luas.

Secara sederhana, hilirisasi migas mencakup kegiatan seperti:

1. Pengilangan (refining): Mengolah minyak mentah menjadi produk seperti bensin, solar, avtur, dan LPG.

2. Petrokimia: Mengubah hasil olahan migas menjadi bahan dasar industri seperti plastik, pupuk, atau serat sintetis.

3. Distribusi dan pemasaran: Menyalurkan produk migas ke konsumen melalui SPBU, agen gas, dan lain-lain.

Tujuan utama dari hilirisasi migas adalah meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, mengurangi ketergantungan terhadap impor produk jadi, serta memperkuat perekonomian nasional melalui pengembangan industri dalam negeri.

Contoh Hilirisasi Migas

Hilirisasi migas adalah proses mengolah minyak dan gas mentah menjadi produk yang siap digunakan serta memiliki nilai jual lebih tinggi.

Misalnya, minyak mentah diolah di kilang menjadi bensin, solar, avtur, hingga LPG yang setiap hari kita gunakan untuk kendaraan maupun kebutuhan rumah tangga.

Selain itu, gas bumi juga dapat diproses menjadi bahan baku industri seperti plastik, karet sintetis, serat tekstil, sampai detergen.

Tidak hanya itu, hilirisasi migas juga terlihat dari pembangunan jaringan gas kota yang menyalurkan gas langsung ke rumah-rumah dan usaha kecil, sehingga penggunaannya lebih praktis dan hemat.

Gas alam juga bisa dikonversi menjadi CNG atau LNG untuk bahan bakar transportasi dan digunakan di SPBG (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas) untuk bus atau kendaraan niaga.

Baca Juga: ESDM Dorong Badan Geologi Perkuat Eksplorasi Migas dan Mineral Nasional

Di sisi lain, sisa pengolahan minyak dapat dimanfaatkan menjadi oli dan pelumas untuk kendaraan serta mesin industri.

Bahkan gas bumi juga berperan penting sebagai bahan baku pembuatan pupuk seperti urea dan amonia yang sangat dibutuhkan sektor pertanian.

Secara keseluruhan, hilirisasi migas membantu meningkatkan nilai tambah sumber daya, membuka lapangan kerja, memperkuat industri dalam negeri, dan mengurangi ketergantungan impor energi.

Dampak Hilirisasi Migas terhadap Ekonomi Nasional

Berdasarkan data yang ada, program hilirisasi migas yang akan dijalankan pada periode 2025–2040 diperkirakan mampu menarik investasi besar, yaitu mencapai sekitar Rp1.053 triliun.

Dari jumlah tersebut, sekitar Rp314,71 triliun dialokasikan untuk hilirisasi minyak bumi, sementara Rp771,70 triliun difokuskan untuk hilirisasi gas bumi.

Program hilirisasi ini juga diproyeksikan memberi dampak positif bagi kestabilan moneter Indonesia, termasuk memperkuat nilai tukar rupiah.

Dengan memaksimalkan pengolahan migas di dalam negeri, Indonesia berpotensi menghemat devisa impor hingga 73,30 miliar dollar AS atau setara kurang lebih Rp1.134 triliun.

Selain itu, peluang bisnis di sektor hilirisasi dan kilang migas masih sangat besar. Hal ini karena saat ini Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi sekitar 70% kebutuhan petrokimia dan 32% kebutuhan BBM dalam negeri.

Melalui hilirisasi, kinerja keuangan Pertamina dan penerimaan negara juga diprediksi akan meningkat. Sebagai gambaran, segmen kilang dan petrokimia Pertamina pada tahun 2022 mencatat pendapatan sekitar Rp 572 triliun, dan memberi kontribusi ke negara melalui berbagai jenis pajak dan bea masuk sebesar Rp 49,72 triliun.

 

Hilirisasi migas adalah langkah penting untuk mengolah minyak dan gas di dalam negeri agar memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.

Program ini tidak hanya mendukung kemandirian energi, tetapi juga memperkuat industri nasional, mengurangi impor, dan membuka peluang investasi besar.

Dengan hilirisasi, Indonesia berpotensi meningkatkan pendapatan negara, memperbaiki stabilitas ekonomi, serta menciptakan lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.