Budaya Korea di Indonesia: Dari Tren Sesaat Jadi Bagian Hidup

AKURAT.CO Fenomena budaya Korea atau yang akrab disebut Korean Wave (Hallyu) kini bukan lagi sekadar tren sementara.
Dari drama hingga musik, dari skincare hingga makanan, hampir semua aspek kehidupan generasi muda Indonesia pernah disentuh oleh budaya Negeri Ginseng ini.
Pertanyaannya, apa yang membuat budaya Korea begitu populer dan bertahan lama di Indonesia?
Demam Korea di Indonesia mulai terasa sejak awal 2000-an, ketika drama seperti Winter Sonata, Endless Love, hingga Full House hadir di layar kaca.
Ceritanya yang emosional, penuh konflik, dan sarat nilai kekeluargaan terasa dekat dengan budaya masyarakat Indonesia. Drama Korea pun menjelma menjadi tontonan wajib, bahkan jadi bahan obrolan sehari-hari.
Gelombang Hallyu semakin deras dengan hadirnya K-Pop. Lagu yang catchy, koreografi energik, dan penampilan idol yang memukau membuat musik Korea cepat mencuri hati anak muda Indonesia.
Dari Super Junior, Girls’ Generation, hingga BTS dan Blackpink, K-Pop tidak hanya didengar, tapi juga dihidupi. Gaya berpakaian, bahasa gaul, hingga ekspresi sehari-hari banyak terinspirasi dari para idol.
Popularitas budaya Korea juga tak lepas dari peran internet dan media sosial. Layanan streaming seperti Netflix, Viu, hingga YouTube membuat drama dan musik Korea bisa diakses kapan saja.
Penonton tak perlu lagi menunggu tayangan di televisi, karena bisa langsung maraton sepuasnya. Media sosial bahkan memperkuat ikatan fandom, melahirkan komunitas penggemar yang solid dan kreatif.
Daya tarik budaya Korea bukan hanya soal cerita, tapi juga kualitas produksinya. Drama hadir dengan sinematografi indah, lokasi syuting menawan, dan kostum fashionable.
Baca Juga: Gubernur Herman Deru Ajak Umat Teladani Akhlak Nabi Muhammad SAW di Peringatan Maulid
Video musik K-Pop digarap dengan standar tinggi—dari efek visual hingga koreografi panggung. Ditambah visual para aktor dan idol yang menawan, tren kecantikan, fashion, hingga kuliner ala Korea pun cepat diikuti remaja Indonesia.
Meski berasal dari negara berbeda, kisah yang diangkat dalam drama Korea terasa akrab: cinta, persahabatan, konflik keluarga, hingga perjuangan hidup.
Penyajian yang emosional membuat penonton ikut larut dalam alur cerita. Banyak yang kemudian termotivasi belajar bahasa Korea, mengikuti kursus, atau setidaknya memahami kosakata dasar untuk lebih dekat dengan idolanya.
Kesuksesan besar ini bukan kebetulan. Sejak awal 2000-an, pemerintah Korea Selatan menyadari bahwa budaya bisa menjadi senjata soft power.
Dukungan finansial, kebijakan industri kreatif, dan promosi lintas negara membuat budaya Korea mendunia.
Hasilnya nyata: citra negara meningkat, pariwisata berkembang, dan keuntungan ekonomi dari hiburan hingga kosmetik terus mengalir.
Hari ini, budaya Korea sudah jadi bagian gaya hidup generasi muda Indonesia—dari skincare, fashion, makanan, hingga bahasa.
Namun, derasnya arus budaya asing juga menghadirkan tantangan. Standar kecantikan ala Korea bisa menimbulkan tekanan sosial, dan jika tak hati-hati, masyarakat bisa perlahan melupakan budaya lokal.
Karena itu, apresiasi terhadap budaya Korea sebaiknya berjalan beriringan dengan pelestarian budaya Indonesia. Kita bisa mengambil sisi positif dari Hallyu, tapi tetap bangga pada warisan bangsa sendiri.
Budaya Korea populer di Indonesia berkat kombinasi banyak faktor: konten hiburan yang emosional dan berkualitas, akses digital yang mudah, serta strategi promosi yang cerdas.
Sementara itu, generasi muda menemukan gaya hidup baru yang sesuai dengan kebutuhan ekspresi diri mereka.
Baca Juga: Prabowo Panggil Dirut Pertamina, Bahas Distribusi BBM ke SPBU Swasta
Pada akhirnya, Hallyu adalah inspirasi, bukan pengganti identitas. Tugas kita adalah menikmatinya dengan bijak—mengambil hal positif dari budaya global, sambil menjaga jati diri bangsa.
Laporan: Novi Karyanti/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








