Akurat

Marva Griffin di IDW 2025: Desainer Muda Indonesia Bisa Bersaing di Kancah Global

Oktaviani | 14 September 2025, 14:20 WIB
Marva Griffin di IDW 2025: Desainer Muda Indonesia Bisa Bersaing di Kancah Global


AKURAT.CO Malam pembukaan Indonesia Design Week (IDW) 2025 di Indonesia Design District (IDD) PIK2 berlangsung penuh antusiasme.

Di antara deretan tokoh kreatif nasional dan internasional, perhatian hadirin tertuju pada sosok Marva Griffin, pendiri SaloneSatellite sekaligus kurator yang dikenal luas sebagai “godmother of design” dunia.

Kehadirannya di Jakarta menjadi simbol penting, bahwa industri kreatif Indonesia kini semakin diperhitungkan dalam percakapan global.

Dalam sambutannya, Griffin menekankan bahwa Indonesia memiliki banyak desainer muda yang mampu bersaing di tingkat dunia.

Namun, semua itu membutuhkan dukungan konkret, baik dari pemerintah, swasta, maupun institusi pendidikan.

“Desainer muda Indonesia bisa bersaing global dengan dukungan yang tepat,” ujarnya tegas, disambut tepuk tangan hadirin.

Marva Griffin sendiri bukan figur sembarangan. Lahir di El Callao, Venezuela, ia pindah ke Milan pada awal 1970-an untuk menekuni dunia desain.

Ia memulai kariernya di perusahaan furnitur C&B Italia (kini B&B Italia), bekerja langsung dengan Piero Ambrogio Busnelli.

Baca Juga: Apa Itu Narcissistic Personality Disorder (NPD)? Ini Penjelasan Lengkap yang Perlu Kamu Tahu

Setelah itu, ia menjadi koresponden berbagai majalah bergengsi seperti Vogue Decoration, American House & Garden, hingga Casa Vogue Italia.

Pada 1998, Griffin mendirikan SaloneSatellite, sebuah pameran khusus bagi desainer muda di bawah 35 tahun.

Dari panggung inilah lahir nama-nama besar yang kini mendunia.

Dalam konteks IDW 2025, Griffin menilai semangat “Ideantity”—perpaduan idea dan identity—sangat relevan dengan perjalanan para desainer muda.

Identitas lokal yang khas, menurutnya, justru menjadi modal penting untuk bersaing.

“Kita tidak bisa hanya meniru. Akar budaya, kisah lokal, dan ekspresi orisinal adalah kekuatan utama yang membuat karya desainer muda Indonesia unik di mata dunia,” katanya.

Griffin juga menyinggung perlunya ruang kolaborasi yang lebih nyata. Ia mendorong universitas, sekolah desain, hingga komunitas kreatif agar membangun jejaring lintas disiplin, sehingga mahasiswa dan desainer muda bisa langsung berinteraksi dengan industri.

Model inilah yang ia terapkan di SaloneSatellite: mempertemukan sekolah, desainer muda, dan perusahaan dalam satu wadah sehingga karya mereka bisa langsung terhubung ke pasar.

Tak hanya itu, Griffin menyoroti pentingnya dukungan media internasional untuk memperkuat eksposur. Ia menyebut banyak karya brilian yang gagal dikenal luas hanya karena tidak mendapat panggung publikasi yang memadai.

“Dunia saat ini terhubung begitu cepat. Akses ke pasar global dimulai dari eksposur. Desainer muda Indonesia perlu diberi kesempatan agar dunia melihat potensi mereka,” tambahnya.

Baca Juga: Figur Diaspora Muda Masuk Bursa Pengganti Menpora

Pernyataan Griffin mempertegas peran IDW sebagai lebih dari sekadar festival desain. Acara ini adalah katalis, wadah yang menghubungkan karya anak bangsa dengan jejaring internasional.

Dengan menghadirkan tokoh sekaliber Marva Griffin, IDW 2025 tidak hanya merayakan desain, tetapi juga mengirim pesan kuat bahwa Indonesia siap menjadi pemain penting dalam peta desain global.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.