Akurat

Sisi Lain dari Kebiasaan Menyenangkan Orang Lain, Menurut Psikologi

Rahmat Ghafur | 18 Agustus 2025, 21:15 WIB
Sisi Lain dari Kebiasaan Menyenangkan Orang Lain, Menurut Psikologi

AKURAT.CO Di permukaan, keinginan untuk membuat semua orang senang tampak seperti sikap yang mulia.

Tapi jika ditelusuri lebih dalam, psikologi melihatnya bukan sekadar bentuk kebaikan hati, melainkan pola perilaku yang bisa menyimpan beban emosional tersembunyi.

Baca Juga: Ahmad Dhani Laporkan Psikolog Lita Gading, Buntut Bikin Konten Soal SA?

Mengapa seseorang merasa harus terus-menerus menyenangkan orang lain, meski mengorbankan dirinya sendiri.

Jawabannya tak sesederhana “ingin menjadi orang baik”. Di balik itu, ada ketakutan akan konflik, harga diri yang rapuh, dan kesulitan besar dalam mengatakan “tidak”.

Apa yang Sebenarnya Terjadi?

1. Takut Ditolak atau Dihakimi

Banyak orang yang suka menyenangkan orang lain sangat menghindari konflik. Mereka lebih memilih mengalah, mengiyakan, bahkan mengabaikan kebutuhannya sendiri agar tidak kehilangan penerimaan dari orang lain.

Pola ini sering berakar dari masa kecil, saat kasih sayang terasa bersyarat—hanya datang ketika kita bersikap "baik".

2. Harga Diri yang Bergantung pada Validasi Orang Lain

Sebagian orang merasa hanya layak dicintai jika mereka membantu, mengerti, atau hadir untuk orang lain.

Mereka menggantungkan rasa berharga pada pujian atau ucapan terima kasih. Sayangnya, ini menciptakan ketergantungan emosional harga diri mereka naik-turun mengikuti respons dari luar.

3. Mencari Rasa Aman Lewat Keramahan Berlebihan

Bersikap menyenangkan bisa jadi adalah cara untuk menghindari risiko emosional. Dengan menjadi “orang yang selalu bisa diandalkan”, seseorang merasa aman dari kritik atau penolakan. Namun, upaya menjaga kedamaian ini bisa membuat kebutuhan pribadi terlupakan.

4. Sulit Membuat Batasan

Orang yang selalu ingin menyenangkan cenderung merasa bersalah jika menolak atau menegaskan keinginan sendiri.

Ketakutan akan mengecewakan orang lain membuat mereka terus mengorbankan diri, sampai akhirnya merasa lelah dan tak dihargai.

5. Perfeksionisme yang Terselubung

Bagi sebagian orang, menjadi "baik" berarti tak boleh mengecewakan siapa pun. Ketika ekspektasi ini tak terpenuhi, mereka justru menyalahkan diri sendiri. Ini bisa memicu beban berlebih, baik dalam pekerjaan maupun dalam hubungan pribadi.

6. Akar dari Kecemasan Sosial

Bagi yang memiliki kecemasan sosial, menyenangkan orang lain bisa menjadi mekanisme bertahan. Mereka takut dipermalukan, ditolak, atau tak diterima.

Untuk menghindari itu, mereka menyembunyikan bagian dari dirinya yang dianggap “tidak pantas”, hingga merasa terputus dari jati diri.

Apa Artinya Ini Semua?

Keinginan untuk menyenangkan bukan tanda kelemahan atau kepura-puraan.

Itu sering kali adalah hasil dari pengalaman hidup yang membentuk seseorang untuk percaya bahwa kebutuhannya sendiri bisa ditunda asal orang lain bahagia.

Namun, kabar baiknya: pola ini bisa diubah. Kuncinya adalah kesadaran.

Saat Anda mulai menyadari bahwa nilai diri Anda tidak tergantung pada seberapa banyak Anda memberi, Anda bisa belajar menetapkan batasan, memenuhi kebutuhan sendiri, dan membangun koneksi yang lebih tulus—tanpa kehilangan diri sendiri dalam prosesnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
D