Menguak 5 Fakta Sejarah Penting di Balik Malam Satu Suro

AKURAT.CO Malam satu suro selalu menjadi momen penuh makna dalam kalender tradisional masyarakat Indonesia.
Lebih dari sekadar pergantian tahun dalam penanggalan Jawa, malam ini kerap dikaitkan dengan nuansa sakral, refleksi spiritual, hingga berbagai larangan dan tradisi yang masih dilestarikan hingga kini.
Menariknya, di tahun 2025 ini, malam satu suro jatuh pada tanggal 25 Juni hingga 26 Juni 2025, bertepatan dengan 1 Muharram dalam Kalender Hijriah.
1. Awal Pengenalan Kalender Islam di Jawa
Malam satu suro menandai awal bulan pertama dalam kalender Jawa yang bertepatan dengan 1 Muharram dengan kalender Islam.
Pengenalan kalender Islam di Jawa dimulai pada masa Kerajaan Demak oleh Sunan Giri II pada tahun 931 Hijriah (1443 tahun Jawa) dengan penyesuaian kalender Hijriah dan Jawa.
2. Penetapan Kalender Jawa oleh Sultan Agung
Penetapan 1 Suro sebagai awal tahun baru Jawa dilakukan secara resmi pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Kerajaan Mataram (1613-1645).
Pada tahun 1633 Masehi (1555 Tahun Jawa), Sultan Agung memadukan kalender Saka (Hindu) dengan kalender Hijriah menjadi kalender Jawa yang baru.
3. Tujuan Penyatuan Kalender dan Masyarakat Jawa
Sultan Agung bertujuan menyatukan rakyat Jawa yang terpecah karena perbedaan agama antara golongan santri (Islam) dan abangan (Kejawen). Penyatuan kalender ini juga menjadi strategi untuk memperkuat persatuan menghadapi penjajah Belanda di Batavia.
4. Tradisi Jumat Legi dan Hari Sakral
Setiap Jumat Legi, yang bertepatan dengan awal tahun baru Jawa, dilakukan laporan pemerintahan, pengajian, serta ziarah ke makam-makam penting seperti Sunan Ampel dan Giri. Hari ini dianggap sakral dan dikeramatkan oleh masyarakat Jawa.
5. Makna Spiritual dan Kultural Malam Satu Suro
Malam satu suro memiliki makna spiritual dan kultural yang mendalam. Bulan Suro dianggap sakral dan penuh misteri, sering dikaitkan dengan berbagai larangan dan mitos. Malam ini menjadi momen refleksi, pembersihan diri, penghormatan kepada leluhur, serta awal semangat baru dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Kelima fakta sejarah tadi bukan sekadar catatan masa lalu, mereka adalah jejak-jejak yang membentuk bagaimana kita memaknai malam satu suro hingga hari ini.
Baca Juga: Islam Menolak Kepercayaan Adanya Sengkolo di Malam Satu Suro, Ini Dalilnya
Malam satu suro bukan cuma milik tradisi, tapi juga milik mereka yang mengingat bahwa waktu bisa berganti, tapi nilai-nilai tak pernah benar-benar hilang.
Aqila Shafiqa Aryaputri (Magang) - Lifestyle
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini







