Malam 1 Suro 2025: Tanggal Berapa dan Maknanya?

AKURAT.CO Malam 1 Suro merupakan salah satu momen penting yang sarat makna bagi sebagian besar masyarakat Jawa, khususnya mereka yang masih memegang teguh tradisi dan kepercayaan leluhur.
Berbeda dengan penanggalan Masehi yang berbasis peredaran matahari, Malam 1 Suro dihitung berdasarkan kalender Jawa atau kalender Hijriah.
Lantas, kapan Malam 1 Suro 2025 akan tiba dan makna apa yang terkandung di dalamnya?
Baca Juga: 1 Suro 2025 Jatuh pada Tanggal Berapa? Simak Jadwal dan Maknanya
Tanggal Malam 1 Suro 2025
Untuk menentukan tanggal pasti Malam 1 Suro, kita perlu mengacu pada sistem kalender Jawa yang selaras dengan kalender Hijriah.
Malam 1 Suro selalu jatuh pada malam sebelum tanggal 1 Muharram dalam kalender Hijriah.
Berdasarkan perhitungan kalender Hijriah, 1 Muharram 1447 H diperkirakan jatuh pada hari Jumat, 27 Juli 2025.
Dengan demikian, Malam 1 Suro 2025 akan jatuh pada malam sebelum tanggal tersebut, yaitu pada hari Kamis, 26 Juli 2025.
Penting untuk diingat bahwa penentuan tanggal Hijriah dapat sedikit berbeda tergantung pada metode rukyat (pengamatan hilal) atau hisab (perhitungan astronomi) yang digunakan oleh masing-masing pihak.
Namun, secara umum, tanggal tersebut sudah cukup akurat untuk menjadi acuan.
Makna Malam 1 Suro: Antara Sakralitas dan Introspeksi Diri
Malam 1 Suro bukanlah sekadar pergantian tahun biasa dalam kalender Jawa. Lebih dari itu, malam ini memiliki makna yang sangat dalam dan dianggap sakral oleh masyarakat Jawa. Beberapa makna penting yang terkandung dalam Malam 1 Suro meliputi:
1. Waktu Sakral dan Penuh Kesadaran
Malam 1 Suro dipercaya sebagai waktu yang penuh energi spiritual. Masyarakat Jawa seringkali memanfaatkan malam ini untuk melakukan refleksi diri, beribadah, dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Ada keyakinan bahwa pada malam ini, batas antara dunia nyata dan gaib menjadi lebih tipis, sehingga memungkinkan terjadinya hal-hal yang tidak biasa.
2. Momen Introspeksi dan Kontemplasi
Pergantian tahun Jawa ini menjadi ajang bagi individu untuk melakukan introspeksi mendalam.
Masyarakat diajak untuk merenungkan segala perbuatan di tahun sebelumnya, mengevaluasi diri, dan merencanakan perbaikan untuk tahun yang akan datang.
Ini adalah waktu yang tepat untuk membersihkan diri dari segala hal negatif dan memulai lembaran baru dengan niat yang lebih baik.
3. Pelaksanaan Ritual dan Tradisi
Berbagai ritual dan tradisi sering dilakukan pada Malam 1 Suro, terutama di lingkungan keraton atau komunitas yang masih sangat kental dengan adat Jawa.
Contohnya adalah tradisi Tapa Bisu Mubeng Beteng di Keraton Yogyakarta, di mana abdi dalem dan masyarakat berjalan mengelilingi benteng keraton tanpa berbicara.
Ritual lain seperti pembersihan benda pusaka (jamasan pusaka) juga lazim dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan pemeliharaan warisan leluhur.
4. Menghindari Hal Negatif dan Mencari Keselamatan
Ada pula kepercayaan bahwa pada Malam 1 Suro, masyarakat diimbau untuk menghindari kegiatan yang bersifat hura-hura atau bepergian jauh tanpa tujuan jelas.
Sebaliknya, mereka disarankan untuk lebih banyak berdiam diri di rumah, beribadah, dan berdoa demi keselamatan serta keberkahan di tahun yang baru. Hal ini bukan semata-mata karena mitos negatif, melainkan lebih pada ajakan untuk fokus pada hal-hal spiritual.
Meskipun zaman terus berkembang, Malam 1 Suro tetap memiliki tempat istimewa dalam hati sebagian masyarakat Jawa.
Ini bukan sekadar perayaan, melainkan sebuah tradisi yang mengajarkan nilai-nilai luhur tentang introspeksi, kesadaran spiritual, dan penghormatan terhadap warisan budaya.
Memahami makna di balik Malam 1 Suro adalah bagian dari upaya melestarikan kekayaan budaya Nusantara.
Baca Juga: Kalender Jawa Weton Bulan Mei 2025, Menuju Malam 1 Suro
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini







