PIK Jadi Model Properti Masa Depan: Bukan Sekadar Hunian, Tapi Gaya Hidup

AKURAT.CO Kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) makin kokoh sebagai primadona sektor properti premium di Indonesia.
Pengembangan yang terintegrasi antara hunian, bisnis, dan destinasi wisata menjadikan kawasan ini bukan sekadar tempat tinggal, tapi juga ekosistem gaya hidup modern yang menarik minat investor dan masyarakat kelas menengah atas.
Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan, dalam lanskap properti Indonesia saat ini, PIK adalah contoh sukses dari model kawasan berbasis lifestyle yang mampu menciptakan nilai lebih, baik dari sisi ekonomi maupun estetika ruang kota.
“PIK menunjukkan bahwa ketika infrastruktur, konsep, dan fungsi kawasan dikembangkan secara holistik, maka daya tarik investasi akan terbentuk secara organik,” ujar Yusuf dalam keterangan tertulis, Senin (26/5/2025).
“Model seperti ini patut dikembangkan di kawasan lain, terutama dalam menghadapi persaingan sektor properti pascapandemi.”
Yusuf menjelaskan, meskipun pasar properti nasional saat ini relatif stabil, tantangan seperti keterjangkauan dan kenaikan harga tanah di kota besar masih membayangi.
Dalam situasi ini, kawasan seperti PIK menawarkan peluang bagi investor jangka panjang, khususnya dengan orientasi lifestyle, pariwisata, dan properti komersial.
“Proyek-proyek di PIK seperti pusat kuliner, taman tematik, hingga waterfront promenade telah mengubah wajah kawasan pesisir menjadi magnet investasi, bahkan menjadi tujuan wisata tersendiri. Ini membuka ruang baru bagi properti untuk berfungsi tidak hanya sebagai tempat tinggal, tapi juga sebagai sumber penghasilan dan nilai tambah,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tren hunian masa kini tidak lagi terfokus pada lokasi di pusat kota semata, tetapi pada kawasan yang mampu menawarkan pengalaman hidup lengkap—dari rekreasi, belanja, hingga konektivitas.
Meski demikian, Yusuf tetap mengingatkan bahwa keberhasilan kawasan seperti PIK juga perlu dikawal dari sisi tata ruang dan keberlanjutan lingkungan.
“Isu seperti reklamasi dan aksesibilitas publik harus dikelola dengan pendekatan partisipatif. Tapi sejauh ini, PIK mampu menjadi benchmark kawasan modern yang mendorong pertumbuhan tanpa mengorbankan kualitas estetika dan fasilitas,” jelasnya.
Menurut Yusuf, jika model seperti ini bisa direplikasi dengan menyesuaikan karakter daerah masing-masing, maka pertumbuhan sektor properti di Indonesia akan lebih merata, tidak hanya terkonsentrasi di pusat-pusat kota besar.
Baca Juga: MBG Tetap Jalan Meski Tak Ada Bantuan dari Negara Lain, PCO: Dananya Sudah Ada
“PIK adalah contoh bahwa integrasi fungsi kawasan dan inovasi konsep dapat membawa properti melampaui batas fungsional, menuju gaya hidup urban masa depan,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










