Akurat

Daftar Produk Softex Yang Diduga Pro Israel, Mulai Dari Pembalut Wanita, Popok Bayi Hingga Masker

Rahman Sugidiyanto | 16 November 2023, 12:10 WIB
Daftar Produk Softex Yang Diduga Pro Israel, Mulai Dari Pembalut Wanita, Popok Bayi Hingga Masker

AKURAT.CO - Banyak pertanyaan beredar apakah pembalut wanita Softex pro Israel atau tidak atau sebaliknya mendukung Palestina?.

Pertanyaan seperti softex pro Israel ini ternyata merambat juga kedalam gerakan boikot produk Israel atau yang memiliki afiliasi dengan negara penjajah Palestina tersebut.

Gerakan boikot tersebut mendapat penguatan dengan hadirnya Fatwa MUI Nomor 83 Tahun 2023 tentang Hukum Dukungan terhadap Perjuangan Palestina.

Baca Juga: Softex Pro Israel? Begini Sejarah Pembalut Wanita Itu Dan Alternatif Produk Sesuai Fatwa MUI

Sebagai salah satu produk pembalut wanita yang sering dipakai softex pun menjadi sasaran tudingan konsumen Indonesia yang peduli kepada Warga Gaza yang jadi korban Serangan Israel.

Dilansir dari situs resminya, Softex Indonesia sendiri awalnya adalah perusahaan milik Warga Negara Indonesia namun kemudian diakuisisi oleh raksasa perusahaan asal Amerika Serikat yaitu Kimberly-Clark.

Kimberly-Clark sendiri dilansir dari bdnaash dinyatakan sebagai brand pendukung penjajahan Israel atas Palestina.

Baca Juga: Apakah SGM Produk Pro Israel? Ini Sejarah Susu Formula Asal Indonesia Milik Danone Tersebut

Berikut daftar produk Softex Indonesia mulai dari pembalut wanita, Popok Bayi dan Dewasa hingga Masker.

Perawatan Bayi

  • Sweety
  • Happy Nappy

Perawatan Kewanitaan

  • Softex Daun Sirih
  • Softex Celana Menstruasi
  • Softex Comfort Slim
  • Softex Natural Cool+
  • Kotex

Perawatan Dewasa

  • Confidence

Perawatan Ibu Hamil

Softex Maternity

Perawatan Keluarga

  • Softies
  • Kleenex

Demikian daftar produk softex yang diduga pro Israel, namun keputusan membeli tepat ditangan kawan Akurat sebagai konsumen.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.