Akurat

Gen Z Trending Di Twitter, Imbas Gap Generation Yang Tak Pernah Usai?

Eko Krisyanto | 4 Oktober 2023, 16:03 WIB
Gen Z Trending Di Twitter, Imbas Gap Generation Yang Tak Pernah Usai?

AKURAT.CO Generasi Z kembali menempati kolom trending di X, sebutan baru bagi media sosial Twitter. Sebelumnya, Generasi Z atau Gen Z juga kerap menjadi trending topik di X.

Isu-isu mengenai Gen Z seolah tak pernah jauh dari isu “Gap generation” yang membuat Gen Z kerap dibanding-bandingkan dengan generasi sebelumnya. Begitu pun dengan topik Gen Z yang viral di X hari ini.

Kolom trending topik Gen Z dipenuhi dengan cuitan-cuitan yang membandingkan Gen Z dengan generasi-generasi sebelumnya ketika berperilaku di kantor atau menghadapi tugas-tugasnya.

“Gen Z ini lembek banget kalo kerja. Jgnkan kerja bang, tmn2 gue msh pada magang aja ngeluh mulu pada pake koyo di jidat, bolak balik rs dan blg ‘kayanya gua gbs dh kerja kantoran’,“ tulis akun @kinantiepm.

Baca Juga: Mengenal Gig Ekonomi Yang Dicintai Gen-Z

Selain cuitan-cuitan stereotip terhadap Gen Z, ada pula cuitan yang membantah stereotip itu. “Gw udah kerja sama gen Z dan tidak satupun dari mereka seperti yang digambarkan ini sih. They are dedicated person.

Kuncinya cuma satu: atasan yang merangkul dan mau mengarahkan. So this should be the right time for a reflection: Have you been a good leader for them?” tulis akun @glhrn

Ikut mengikuti trending topik Gen Z, artis tanah air Kunto Aji turut menanggapi isu Gen Z melalui cuitannya di X.

“Generation gap itu selalu ada, dan akhir-akhir ini meruncing gara-gara internet. Dari jaman risetku di album 1, jamannya simon sinek jelek-jelekin Millennials persis kaya kondisi Gen Z sekarang. Semua digeneralisir. Biar apa? Ya biar buku sama seminarnya laku lah. 

Semua generasi itu asik, tergantung orangnya, beda preferensi aja yang bikin gap, tapi ya bisa dibikin asik. Yang gak asik itu ya inspirational speaker, author, comedian yang make generation gap ini buat komoditas tapi malah memperuncing konflik. Apa mereka peduli? Tentu tidak kan dapet uang.” tulis Kunto Aji dengan akun @KuntoAjiW.

Baca Juga: Ganjar Ajak Milenial Dan Gen Z Terjun Ke Politik

Lalu apa sebenarnya gap generation? 

Gap generation merupakan miskomunikasi atau gagal paham akan satu generasi yang dipicu oleh perbedaan generasi. Meski kerap dianggap hanya sebatas stereotip, namun ternyata kapan kamu lahir dapat membentuk pola pikir dan kebiasaan tertentu.

Hal ini tentu tidak lepas dari lingkungan yang berubah-ubah seiring berjalannya waktu. Di mana, lingkungan menjadi salah satu faktor pembentuk karakter atau kebiasaan seseorang. Penelitian pun telah banyak dilakukan mengenai perbedaan generasi yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang. 

Mengenai perbedaan sikap pada tiap generasi pun bukan hanya sekedar asumsi atau klaim belaka. Sepanjang sejarah, setiap generasi telah mengukir identitasnya, menyaring esensi zamannya menjadi ekspresi budaya, seni, dan inovasi yang khas.

Sosiolog awal seperti Karl Mannheim juga mencatat perbedaan antar generasi dalam cara generasi muda berpindah ke masa dewasa dan mempelajari cara generasi memisahkan diri satu sama lain, di rumah dan dalam lingkungan sosial. 

Dalam kaitannya gap generation di dunia kerja, USA Today melaporkan bahwa generasi muda memasuki dunia kerja dengan menghadapi perubahan demografis dan tempat kerja yang multi-generasi. 

Berbagai studi keterlibatan menunjukkan bahwa kepentingan yang dimiliki oleh para pekerja di tempat kerja yang multi-generasi ini bisa sangat berbeda-beda bagi generasi yang berbeda pula. 

Menurut studi keterlibatan, pekerja generasi dewasa dan generasi baru memiliki pemikiran yang sama mengenai sejumlah topik seputar generation gap. Namun pendapat mereka tak sama mengenai jam kerja yang fleksibel, promosi atau bonus, pentingnya kemahiran komputer, dan kepemimpinan. 

Gap generation ini dapat diminimalisir agar tidak menjadi konflik melalui sikap kesadaran generasi. Kesadaran generasi adalah ketika sekelompok orang menjadi sadar akan tempat mereka ketika ada di kelompok berbeda yang dapat diidentifikasi berdasarkan kepentingan dan nilai-nilai bersama. 

Sadar akan adanya perubahan sosial, ekonomi, atau politik dapat membawa kesadaran terhadap kepentingan bersama, dengan demikian membentuk kesadaran generasi.

Pengalaman seperti ini dapat berdampak pada perkembangan individu di usia muda dan memungkinkan mereka untuk mulai membuat interpretasinya sendiri terhadap dunia berdasarkan pengalaman pribadi yang membedakan mereka dari generasi lainnya.[] (Adinda Shafa Afriasti)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.