Akurat

Pentingkah Beauty Privilege Dalam Dunia Kerja?

Eko Krisyanto | 6 September 2023, 15:04 WIB
Pentingkah Beauty Privilege Dalam Dunia Kerja?

AKURAT.CO Dalam dunia kerja bukan hanya keahlian yang dibutuhkan tetapi ada berbagai aspek yang bisa menjadi penilaian, sehingga bisa diterima untuk bekerja di tempat yang diinginkan.

Ada banyak aspek penilaian yang dilihat dalam dunia kerja seperti soft dan hard skill. Dan setidaknya kedua aspek ini harus dimiliki ketika terjun dalam dunia kerja.

Lantas, apakah beauty privilege sangat penting dalam dunia kerja, di samping keahlian dalam beradaptasi dan kerja dalam tim.

Dirangkum dari beberapa sumber pada Rabu (6/9/2023), beauty privilege adalah hak istimewa yang didapatkan oleh orang-orang yang dianggap lebih cantik atau menarik dan berdasarkan standar kecantikan yang berlaku dalam masyarakat.

Beauty Privilege di Dunia Kerja?

Dikutip dari Oddysey, hal-hal yang berkaitan dengan penampilan manusia, telah terbukti berharga sepanjang evolusi manusia. Berbagai penelitian dan survei ilmiah sudah membuktikan bahwa penampilan seseorang memiliki korelasi secara langsung. Yang mana hal ini ditandai dengan seberapa baik seseorang bisa diterima oleh orang lain, baik dalam lingkungan sosial maupun lingkungan kerja.

Beauty privilege bisa menjadi salah satu daya tarik fisik, yang dianggap dapat menentukan kualitas hidup, terlepas itu dari kepribadian, keterampilan, bakat atau apapun kelebihan lain yang dimiliki oleh seseorang. Tetapi hal ini juga dikenal sebagai lookims yang artinya "prasangka dan diskriminasi terhadap penampilan seseorang."

Terutama dalam dunia kerja, orang-orang dengan beauty privilege akan diperlakukan dengan baik dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki beauty privilege.

Hal ini menunjukkan bahwa ada kesetaraan antara satu orang dengan lainnya. Contohnya, ada banyak pekerjaan yang memberikan salah satu syarat melamar pekerjaannya dengan kata "berpenampilan menarik atau good looking." Seperti profesi pramuniaga, pramugari, sales marketing dan lainnya.

Tetapi beauty privilege tidak selamanya menjadi acuan dari profesi yang sudah disebutkan di atas maupun profesi lainnya dalam dunia kerja.

Karena yang menjadi acuan pertama adalah kepribadian, bakat dan juga keterampilan yang inovatif dan kreatif, walaupun dalam hal ini memang benar, penampilan (beauty privilege) menjadi salah satu bagian dari penilaian atau standar dalam melamar pekerjaan tertentu.

Tips Menyikapi Beauty Privilege

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menyikapi persoalan beauty privilege dalam dunia kerja, di antaranya:

Fokus pada kemampuan dan kualifikasi

Jangan terlalu fokus akan penampilan fisik, akan tetapi fokuslah pada kemampuan yang dimiliki karena penampilan fisik hanyalah faktor tambahan yang tidak terlalu berpengaruh besar dalam kinerja kerja seseorang.

Jangan pasrah

Ketika merasakan diskriminasi akibat dari persoalan beauty privilege maka jangan pernah merasa ataupun putus asa. Dan apabila mengalami diskriminasi yang berlebihan akibat dari hal ini maka segeralah laporkan dan mencari bantuan ke sumber daya manusia atau lembaga yang relevan.

Cari tempat kerja yang lebih inklusif

Sebelum melamar unutk bekerja disuatu tempat maka lakukanlah riset terlebih dahulu mengenai budaya dan lingkungan kerja ditempat tersebut. Cari tempat kerja yang lebih inklusif dan tidak memandang penampilan fisik.

Hargai keberagaman

Dalam dunia kerja berusahalah untuk menghargai berbagai keragaman yang ada, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan, termasuk dalam hal penampilan fisik.

Beauty privilege memang nyata dan dapat mempengaruhi kehidupan orang-orang disekitar, terutama dalam dunia kerja.

Akan tetapi jangan pernah menjadikan persoalan ini sebagai standar utama. Karena kualifikasi utama dalam dunia kerja adalah kepribadian, keterampilan yang inofatif dan kreatif. Serta ciptakan lingkungan kerja yang adil dan inklusif bagi semua orang. (Raodatuljanah)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
W
Editor
Wahyu SK