Pakistan Memanas, Mengenang Indonesia yang Pinjamkan Jet Tempur dan Kapal Selam Uni Soviet

AKURAT.CO Pakistan dikabarkan dalam kondisi memanas usai aksi saling serang dengan tetangga Asia Barat mereka Iran.
Pakistan dan Iran telah melakukan serangan ke wilayah masing-masing dalam eskalasi permusuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya di antara kedua negara tetangga ini, di saat ketegangan meningkat tajam di seluruh Timur Tengah dan sekitarnya.
Kedua negara berbagi perbatasan yang tidak stabil, membentang sekitar 900 kilometer (560 mil), dengan provinsi Balochistan Pakistan di satu sisi dan provinsi Sistan dan Baluchestan Iran di sisi lain.
Baca Juga: Ternyata Ini Penyebab Iran dan Pakistan Saling Serang hingga Kian Memanas
Selain saling serang melawan Iran, Pakistan memang diketahui memiliki perseteruan klasik dengan negara tetangganya India.
Perseteruan tersebut bahkan berujung saling serang mulai sejak awal kemerdekaan kedua negara tersebut, penyebab utama konflik perebutan wilayah yaitu Kashmir yang masih berlangsung hingga kini.
Namun siapa sangka ternyata Indonesia pernah membantu Pakistan dalam melawan India pada era 1960-an.
Dikutip dari buku "Gerakan 30 September pelaku, pahlawan & petualang" karya Julius Pour mengungkapkan kesaksian mantan Kepala Staf TNI AU saat itu Marsekal Madya Omar Dhani yang mengatakan Pakistan ingin meminjam jet tempur Indonesia yang saat itu menjadi yang terkuat di Dunia bagian selatan didominasi produksi Soviet.
"Bulan Agustus 1965 India menyerang Pakistan. Pemerintah Pakistan meminta bantuan Indonesia. Saya bersama Duta Besar Pakistan menjemput kedatangan Panglima Angkatan Udara Pakistan, yang karena alasan security, pesawatnya mendarat di Pangkalan Udara Iswahjudi, Madiun. Beliau datang untuk menyampaikan surat pribadi Jenderal Ayub Khan, Presiden Pakistan. Isinya antara lain Pakistan ingin meminjam pesawat pembom berat jenis TU-16," ujar Omar Dhani.
Dalam pertemuan di Istana Merdeka, Presiden Sukarno secara terbuka memberikan jawaban. Dia merasa keberatan kalau yang dipinjam TU-16.
Alasannya jelas, jenis pesawat termaksud jumlahnya sangat terbatas.
Selain itu, memang sedang dipersiapkan untuk melakukan serangan balas jika pihak Inggris atau Australia melancarkan serangan ke Indonesia sesuai meningkatnya tahapan Konfrontasi Malaysia.
Mendengar penolakan Presiden, Omar Dhani melakukan usul terobosan,
"Saya mengatakan, mengapa mereka tidak kita bantu dengan pesawat MiG-19? Waktu itu kita mempunyai enam, tetapi hanya lima yang operasional karena satu jatuh dalam sebuah misi latihan," imbuhnya.
Baca Juga: Bukan Hanya Pakistan, Iran juga Melancarkan Serangan Rudal Ke Dua Negara Ini, Apa Alasannya?
Alasan Omar Dhani meminjamkan MiG-19, karena AURI pada waktu itu sudah beralih ke jenis pesawat yang jauh lebih canggih, pesawat supersonic MiG-21.
"Saya sudah tidak berniat untuk menambah MiG-19, maka lebih baik kita pinjamkan saja. Saya juga sudah mendapat informasi bahwa RRC juga akan memberikan bantuan ke Pakistan, pesawat MiG-19 sejenis."
"Mendengar mereka akan diberi bantuan MiG-19, Panglima Angkatan Udara Pakistan langsung memohon saya agar bisa membantu mereka, mengurus ke pihak RRC. Mereka memang masih belum punya pengalaman dengan pesawat Uni Soviet atau China sebab selama ini mereka hanya mengoperasikan pesawat asal Amerika. Presiden langsung memberi izin,"
"Sehubungan dengan itu, beliau minta agar saya berangkat ke China. Tetapi, masak saya ke Peking hanya untuk bisa membantu urusan Pakistan? Kenapa tidak sekaligus mengurus kepentingan Indonesia?"
"Sehingga kemudian dalam pembahasan pada rapat staf, saya juga diminta untuk menjajaki kemungkinan mencari substitusi bagi keperluan AURI, mengingat waktu itu pengiriman material dari Uni Soviet mulai seret, karena antara Soviet dan Amerika Serikat saling mendekat, lewat kebijakan détente,"
Demikian latar belakang penerbangan Omar Dhani ke Peking, pertengahan September 1965. Lima pesawat MiG-19 cks AURI akhirnya memang ikut pertempuran udara antara Pakistan dan India."
Mereka bertempur setelah lambang dan segala atribut AURI-nya dihilangkan serta dioperasikan sepenuhnya oleh penerbang Pakistan.
Pada saat konflik Pakistan-India, sebenarnya bukan hanya AURI yang telah memberikan bantuan militer kepada Pakistan.
Dalam matra laut, meski tidak pernah bocor, ALRI juga ikut memberikan bantuan kapal selam. Batas antara misteri dan keajaiban sangat tipis.
Demikianlah kisah bantuan Indonesia kepada Pakistan masa awal kemerdekaan dalam mempertahankan wilayahnya dan guna mendamaikan dunia.
Hingga kini baik pemerintah dan rakyat Pakistan pun mengenang jasa Indonesia dan berperan penting dalam eratnya hubungan kedua negara di masa mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









