Akurat

Sejarah Bendera Pelangi LGBT, Kerap Dibawa Chris Martin Saat Konser Coldplay?

Rahmat Ghafur | 16 November 2023, 11:35 WIB
Sejarah Bendera Pelangi LGBT, Kerap Dibawa Chris Martin Saat Konser Coldplay?

AKURAT.CO - Coldplay tidak hanya menonjol sebagai salah satu band yang paling bertahan lama, tetapi juga salah satu band rock terbesar abad ke-21.

Coldplay sendiri dibentuk pada tahun 1997 yang beranggotakan Chris Martin, Guy Berryman, Jonny Buckland, serta Will Champion.

Tidak terasa saat ini Coldplay sudah berkarya selama 26 tahun. Coldplay pun telah melakukan konser di berbagai belahan dunia.

Tentunya penampilan dari band ini memang selalu dinanti-nantikan oleh para Coldplayers.

Dibalik itu semua, beberapa penampilan Coldplay justru mendapat kecaman dari sejumlah orang dan organisasi di beberapa negara.

Hal ini dikarenakan vokalis Coldplay Chris Martin kerap membawa dan mengibarkan bendera warna warni yang merupakan simbol terhadap LGBT ketika konser sedang berlangsung.

Baca Juga: Gerbang Konser Coldplay Jakarta Jebol, Massa Berlarian Terobos Masuk GBK, Netizen: Ngeri Banget Kaya Zombie

Lantas, bagaimana sejarah bendera warna warni sebagai pendukung LGBT yang seringkali dibawa oleh vokalis dari band Coldplay? Simak ulasannya berikut ini

Sejarah bendera pelangi dimulai pada tahun 1978 di San Francisco, ketika seniman dan aktivis Gilbert Baker menciptakan bendera ini sebagai respons terhadap kebutuhan akan simbol yang lebih positif dan inklusif bagi komunitas LGBT.

Bendera tersebut awalnya terdiri dari delapan warna, masing-masing dengan makna simbolisnya sendiri.

Namun, karena keterbatasan produksi dan permintaan besar, beberapa warna dihapus, dan desainnya disederhanakan menjadi enam warna yang dikenal saat ini.

Enam warna bendera LGBT yakni merah, jingga, kuning, hijau, biru, dan ungu, masing-masing memiliki makna simbolis yang mendalam.

Baca Juga: Maliq & D'essentials Jadi Tamu Kejutan Di Konser Coldplay Jakarta, Chris Martin Ikut Joget Senja Teduh Pelita

Sejak saat itu, bendera pelangi telah menjadi simbol global bagi hak-hak LGBT yang diadopsi oleh berbagai gerakan dan digunakan dalam berbagai perayaan dan protes.

Selain itu, Penggunaan bendera ini juga semakin meluas ke seluruh dunia, menjadi ikon universal bagi hak-hak asasi manusia dan kesetaraan.

Sejumlah turunan bendera pelangi juga digunakan untuk menjadi pusat perhatian pada kelompok-kelompok tertentu dalam komunitas LGBT, seperti transgender, melawan pandemi AIDS, dan inklusi orang kulit berwarna LGBT.

Tidak hanya bendera pelangi saja, terdapat banyak bendera dan simbol yang dipergunakan untuk memberikan identitas dalam komunitas LGBT.

Bahkan, dahulu segitiga merah jambu pernah digunakan sebagai simbol LGBT.

Baca Juga: Buka Konser Coldplay Di Jakarta, Sang Vokalis Chris Martin Ucapkan Assalamualaikum

Bendera pelangi bukan hanya simbol keberagaman, tetapi juga perjuangan yang terus berlanjut untuk pengakuan dan kesetaraan.

Dalam beberapa dekade terakhir, hak-hak LGBT telah membuat kemajuan signifikan di beberapa bagian dunia.

Banyak perusahaan, lembaga pemerintah, penyanyi papan atas dan tokoh-tokoh masyarakat terkemuka yang mendukung hak-hak LGBT dengan mengibarkan bendera pelangi atau menerapkan elemen warna-warna pelangi dalam produk dan kampanye mereka.

Seperti halnya, band Coldplay yang ikut mendukung komunitas LGBT dengan membawa bendera pelangi tersebut ketika konser sedang berlangsung.

Tidak hanya itu saja, vokalis band tersebut juga mengibarkan bendera pelangi ketika bernyanyi di atas panggung.

Selain itu terdapat delapan perusahan dunia yang terang-terang mendukung LGBT, seperti Walt Disney, Coca Cola, Visa, Nike, Mastercard, Starbucks, Apple Inc, dan terakhir ada Unilever NV yang mengumumkan dukungannya terhadap LGBT.

Meskipun demikian, perjalanan menuju kesetaraan LGBT masih berlanjut, bendera pelangi tetap menjadi simbol harapan dan inspirasi bagi banyak individu di seluruh dunia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.