Strategi Agresif China Dorong Konsumsi dan Pemulihan Ekonomi di 2025
Demi Ermansyah | 4 Januari 2025, 17:00 WIB

AKURAT.CO China tengah mempersiapkan langkah agresif untuk mempercepat pemulihan ekonominya di tengah tantangan global. Pada 2025, negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia ini akan meningkatkan pendanaan melalui obligasi pemerintah jangka panjang secara signifikan.
Dimana langkah tersebut ditujukan untuk mendukung konsumsi masyarakat dan memperkuat investasi di sektor infrastruktur. Menurut Wakil Sekretaris Jenderal Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC), Yuan Da, dana dari obligasi pemerintah khusus akan dialokasikan untuk dua inisiatif utama.
"Kami menggunakan obligasi ini untuk mendukung program-program yang mendorong belanja masyarakat dan investasi bisnis," ungkap Yuan melalui lansiran Reuters, dikutip Sabtu (4/1/2025).
Dimana dua program utama yang disiapkan China mencakup subsidi untuk barang tahan lama dan peralatan bisnis. Dalam program pertama, masyarakat akan mendapat kesempatan untuk menukar kendaraan atau peralatan lama dengan yang baru menggunakan diskon khusus. Program ini diharapkan meningkatkan daya beli dan mendorong konsumsi domestik.
Sementara itu, program kedua fokus pada subsidi bagi perusahaan yang ingin meningkatkan peralatan berskala besar. Inisiatif ini diyakini dapat memperkuat daya saing bisnis lokal sekaligus meningkatkan produktivitas.
Rumah tangga juga akan memperoleh subsidi untuk membeli tiga jenis produk digital, seperti ponsel, tablet, dan perangkat wearable. Langkah ini diprediksi akan mempercepat digitalisasi di kalangan masyarakat.
Selain mendorong konsumsi, China tetap menempatkan pembangunan infrastruktur sebagai prioritas. Proyek seperti rel kereta, bandara, dan lahan pertanian akan didukung melalui obligasi khusus. Zhao Chenxin, Wakil Kepala Perencana Negara, menyatakan bahwa pemerintah telah menyetujui proyek senilai CNY100 miliar untuk mendukung inisiatif ini.
“Proyek-proyek ini juga mencakup upaya penguatan keamanan di wilayah strategis, sehingga mendukung stabilitas jangka panjang,” jelas Zhao.
Langkah agresif ini diambil karena China menghadapi tantangan besar, mulai dari krisis properti, tingginya utang pemerintah daerah, hingga lemahnya permintaan konsumen. Meski demikian, para pemimpin optimis bahwa kebijakan ini mampu mengubah arah ekonomi.
Reuters melaporkan bahwa China berencana menerbitkan obligasi khusus hingga CNY3 triliun pada 2025, angka tertinggi sepanjang sejarah. Selain itu, defisit anggaran juga akan dinaikkan menjadi 4% dari PDB, sementara target pertumbuhan ekonomi dipatok pada angka sekitar 5%.
Yuan Da menegaskan, "Kami yakin dengan kemampuan kami untuk mendorong pemulihan ekonomi yang berkelanjutan meski tantangan terus bermunculan."
Tak hanya itu saja, Bank sentral China juga diprediksi akan memangkas suku bunga yang saat ini berada di level 1,5%. Langkah ini diharapkan memberikan insentif tambahan bagi pelaku usaha dan konsumen untuk lebih aktif dalam aktivitas ekonomi.
“Proyek-proyek ini juga mencakup upaya penguatan keamanan di wilayah strategis, sehingga mendukung stabilitas jangka panjang,” jelas Zhao.
Langkah agresif ini diambil karena China menghadapi tantangan besar, mulai dari krisis properti, tingginya utang pemerintah daerah, hingga lemahnya permintaan konsumen. Meski demikian, para pemimpin optimis bahwa kebijakan ini mampu mengubah arah ekonomi.
Reuters melaporkan bahwa China berencana menerbitkan obligasi khusus hingga CNY3 triliun pada 2025, angka tertinggi sepanjang sejarah. Selain itu, defisit anggaran juga akan dinaikkan menjadi 4% dari PDB, sementara target pertumbuhan ekonomi dipatok pada angka sekitar 5%.
Yuan Da menegaskan, "Kami yakin dengan kemampuan kami untuk mendorong pemulihan ekonomi yang berkelanjutan meski tantangan terus bermunculan."
Tak hanya itu saja, Bank sentral China juga diprediksi akan memangkas suku bunga yang saat ini berada di level 1,5%. Langkah ini diharapkan memberikan insentif tambahan bagi pelaku usaha dan konsumen untuk lebih aktif dalam aktivitas ekonomi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK









