Menteri Erick Bakal Merger 7 BUMN Karya Jadi 3 Perusahaan, Bagaimana Nasib Pemegang Saham?

AKURAT.CO Menteri BUMN, Erick Thohir, mengatakan bahwa pemerintah berencana memangkas jumlah BUMN Karya dari 7 perusahaan menjadi 3 perusahaan melalui konsolidasi.
Aksi ini merupakan bagian dari penyehatan keuangan BUMN Karya, yang sebelumnya sudah diwacanakan sejak 2023 dan merupakan bagian dari strategi pemangkasan BUMN.
Erick menyebut bahwa entitas yang akan bertahan setelah merger adalah Adhi Karya (ADHI), PT PP (PTPP), dan PT Hutama Karya. Nantinya, masing-masing perusahaan hasil merger akan diberikan fokus kepada lini bisnis dan keahliannya masing-masing.
Baca Juga: Waskita Dipanggil Sidang PKPU Pekan Depan, Soal Utang Rp143,4 M ke 3 Vendor
PT Hutama Karya dan Waskita Karya (WSKT) bakal fokus ke proyek-proyek jalan tol, non-tol, institutional building, dan residential commercial.
Sementara PTPP dan Wijaya Karya (WIKA) bakal fokus ke proyek-proyek bandara, pelabuhan, serta beberapa proyek residensial yang tersisa. Adapun ADHI, PT Nindya Karya, dan PT Brantas Abipraya bakal fokus ke proyek konstruksi terkait air dan infrastruktur perkeretaapian.
Erick mengatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian PUPR dan Kementerian Keuangan untuk mendorong rencana konsolidasi tersebut.
Erick belum memberikan tanggal terkait kapan aksi konsolidasi BUMN Karya rampung dan hanya menegaskan bahwa pihaknya masih punya waktu untuk merealisasikan aksi korporasi ini hingga Oktober 2024 atau sebelum masa jabatannya berakhir.
Mengutip laporan Stockbit, kondisi kesehatan keuangan BUMN Karya sendiri menjadi sorotan dalam beberapa tahun terakhir, dengan WIKA dan WSKT diterpa serangkaian PKPU.
Berdasarkan metrik Debt-to-Equity Ratio (DER), seluruh emiten BUMN Karya punya tingkat utang yang tinggi dimana WSKT 9,88 kali (per kuartal III-2023), WIKA 4,52 kali (per kuartal III-2023), PTPP 1,55 kali (per 2023) dan ADHI 1,37 kali (per 2023).
Pada Februari 2024, WIKA bersama 15 kreditur telah menyepakati master restructuring agreement (MRA) senilai Rp24,79 triliun.
"Meski belum terdapat detail mengenai rencana merger ini, kami menilai bahwa konsolidasi BUMN Karya dapat berdampak positif dalam jangka panjang. Selain struktur permodalan entitas hasil merger yang menjadi lebih kuat, pembagian fokus usaha juga akan mengurangi kompetisi dan meningkatkan spesialisasi. Dengan begitu, profitabilitas BUMN Karya bisa meningkat ke depan," tulis laporan tersebut dikutip Rabu (27/3/2024).
Khusus untuk wacana merger PTPP dan WIKA, Stockbit menilai bahwa merger keduanya berpotensi memberikan sentimen negatif terhadap PTPP dalam jangka pendek.
Sebab, saat ini PTPP memiliki kesehatan finansial dan profitabilitas yang jauh lebih baik dibandingkan WIKA. Namun, dampak sebenarnya dari merger kedua perusahaan tersebut akan bergantung kepada skema merger.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Unggah Video Veda Ega Pratama Salip David Munoz, Akun Resmi MotoGP 'Diserbu' Netizen
- 2Kalender Jawa 19 September 2026: Watak Weton Sabtu Wage, Setia dan Berpendirian Kuat
- 3Soal Dualitas Alumni Universitas Trisakti, Menteri Maman: Hanya Ada Satu Ikatan yakni IKA Trisakti
- 4Kalender Jawa 21 September 2026: Watak Weton Senin Legi, Sopan dan Mudah Bergaul
- 5Komposisi Pemain Asing Persija Belum Penuh, Manajer Minta Soal Skuad Percayakan ke Shin Tae-yong
- 6Cuaca Hari Ini 19 September 2026: BMKG Peringatkan Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah
- 7Asian Games: Pebulutangkis Juara Dunia Junior Thailand Dinyatakan Positif Doping
- 8Jose Mourinho Tunjukkan Gambar Pelanggaran, Babak Baru Perang Real Madrid dan Wasit?
- 9OTT Lagi, KPK Amankan Bupati Bolaang Mongondow Utara Bersama 13 Orang Lainnya
- 10Sidang Sudewo Ricuh, KPK Tegaskan Tuntutan Disusun Berdasarkan Fakta








