Tak Selalu Buruk, Pelemahan Rupiah Justru Untungkan Pengusaha Ini

AKURAT.CO Pelemahan atau depresiasi rupiah terhadap dolar AS tidak selalu berdampak buruk bagi dunia usaha. Nyatanya, beberapa diantara mereka justru meraup cuan.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, perusahaan yang paling diuntungkan adalah perusahaan dengan kinerja laporan keuangan yang berbasis dolar AS.
Misalnya pendapatannya berbasis dolar AS sementara pengeluarannya dalam rupiah sehingga terdapat keuntungan dari sisi beban kurs. Apalagi jika labanya berdenominasi dolar AS, akan lebih untung dan belum lagi jika perusahaan tersebut melakukan ekspor.
Baca Juga: Rupiah Menjulang 127 Poin Usai Sinyal Dovish The Fed
"Biasanya perusahaan atau emiten yang menggunakan laporan keuangan berdenominasi AS serta berbisnis ekspor adalah pertambangan, energi, perkebunan dan juga sektor consumer," kata Nafan kepada Akurat.co, Sabtu (4/11/2023).
Menilik Bursa Efek Indonesia, seyogyanya emiten seperti PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Smart Tbk (SMAR) meraup cuan selama rupiah melemah beberapa waktu lalu.
Senada, Mantan Menteri Perdagangan dan Pengusaha Nasional, Rachmat Gobel pernah mengatakan kondisi saat kurs rupiah melemah dapat dimanfaatkan untuk mendongkrak ekspor sebanyak-banyaknya.
Para pebisnis dengan orientasi ekspor seperti produk kerajinan tangan menikmati peningkatan ekspor akibat kurs Rupiah yang rendah, produk yang mereka pasarkan di pasar global menjadi lebih murah relatif terhadap produk dari negara lain sehingga mereka bisa meningkatkan volume penjualan. Selain itu, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang digaji dengan dolar juga menikmati peningkatan pendapatan relatif.
Tambahan informasi, rupiah sempat terdepresiasi tajam hampir menembus level Rp16.000 per dolar AS beberapa waktu lalu sebelum BI melakukan intervensi ke pasar dan pemerintah mengimplementasi instrumen penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) sejalan dengan PP 36/ 2023 demi stabilisasi nilai tukar Garuda.
Di sela konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) kemarin, pemerintah menyampaikan bahwa rupiah telah terdepresiasi 2,34% secara tahun berjalan atau Year to Date (YtD). Meski melemah, daya tahan rupiah masih lebih baik dibanding negara tetangga seperti Ringgit Malaysia dan Baht Thailand yang masing-masing terdepresiasi 7,82% dan 4,39% ataupun Yen Jepang dan Dolar Australia yang melemah masing-masing 12,61% dan 6,72% secara YtD.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 3Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 6Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 7Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 8Kalender Jawa 23 September 2026: Watak Weton Rabu Pon Dikenal Cerdas dan Mudah Bergaul
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK







