Wamenaker Dorong Kolaborasi Lintas Kementerian, Industri Tembakau Diminta Tak Dianaktirikan

AKURAT.CO Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Afriansyah Noor, menekankan pentingnya keseimbangan kebijakan lintas sektor agar industri hasil tembakau (IHT) tidak tertekan secara berlebihan dan berdampak pada ketenagakerjaan.
Dalam diskusi publik yang digelar Total Politik di Jakarta, Selasa (28/4/2026), Afriansyah menyebut industri tembakau memiliki peran strategis karena menyerap jutaan tenaga kerja dari hulu hingga hilir.
“Saya bukan orang yang anti rokok. Industri ini adalah sumber mata pencaharian masyarakat, mulai dari petani tembakau hingga pekerja di sektor industri,” ujarnya.
Menurutnya, sekitar enam juta orang menggantungkan hidup pada sektor ini. Karena itu, ia meminta pemerintah tidak memperlakukan industri tembakau sebagai “anak tiri”.
Afriansyah menyoroti kebijakan pengendalian tar dan nikotin yang didorong Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, yang dinilai berpotensi menekan industri jika tidak diimbangi dengan perspektif ekonomi.
Ia menilai perlu adanya harmonisasi kebijakan antarkementerian untuk menghindari ego sektoral.
“Kementerian Kesehatan melihat dari sisi kesehatan, itu penting. Tapi kita juga harus seimbang dengan aspek ekonomi dan lapangan kerja,” jelasnya.
Baca Juga: Presiden Prabowo Disambut Hangat Warga Saat Ziarah ke Makam Sang Kakek di Banyumas
Hingga kini, proses sinkronisasi kebijakan disebut masih berlangsung dan belum mencapai tahap final.
Risiko PHK dan Dampak Ekonomi
Afriansyah mengingatkan, tekanan berlebih terhadap industri tembakau berpotensi memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam jumlah besar.
“Kalau industri ini terganggu, dampaknya bisa ke mana-mana, termasuk peningkatan pengangguran yang berbahaya bagi perekonomian,” tegasnya.
Senada dengan itu, Ketua Umum FSP RTMM SPSI, Hendry Wardana, menyampaikan kekhawatiran terhadap tekanan regulasi yang dihadapi industri tembakau.
Ia menilai industri ini memiliki keunggulan karena seluruh rantai produksinya berbasis domestik, mulai dari petani hingga distribusi.
“Industri ini 100 persen berbasis dalam negeri dan terbukti tahan terhadap krisis global,” ujarnya.
Menurut data serikat, sekitar dua juta pekerja terlibat langsung di sektor ini, dengan total sekitar enam juta orang jika termasuk tenaga kerja tidak langsung.
Selain itu, perputaran ekonomi dari industri tembakau diperkirakan mencapai Rp1.000 triliun, yang berdampak besar terhadap perekonomian daerah.
Hendry meminta pemerintah tidak hanya memberikan dukungan secara normatif, tetapi juga menghadirkan kebijakan konkret untuk melindungi pekerja.
Ia juga mengingatkan bahwa sektor tembakau merupakan salah satu penyumbang utama penerimaan negara melalui cukai.
“Jangan sampai pekerja hanya dilihat sebagai sumber pendapatan negara, tanpa perlindungan yang nyata,” pungkasnya.
Baca Juga: PP AMPG: Tindak Tegas Daycare Bermasalah, Lindungi yang Berkualitas
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 2KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 3Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 4Pindar UKU Salurkan Rp687,18 Miliar dengan Pinjaman Macet Hanya 2,48 Persen, Jaga Keseimbangan Pertumbuhan dan Risiko
- 5Prediksi Skor Porto vs Napoli 5 November 2026: Tuan Rumah Berpeluang Menang
- 6Prediksi Skor Dortmund vs Betis 5 November 2026: Mampukah Die Borussen Hentikan Rekor Sempurna Tim Tamu?
- 7Masuki Usia 8 Tahun, Pindar UKU Bidik Pertumbuhan Lewat Penguatan Kolaborasi dengan Lembaga Keuangan
- 8Ditekan Anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Tegaskan Menolak Pemakzulan
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar









