Akurat

Percepatan PSR, PalmCo Salurkan 6 Juta Bibit Sawit Bersertifikat

Esha Tri Wahyuni | 13 Februari 2026, 09:30 WIB
Percepatan PSR, PalmCo Salurkan 6 Juta Bibit Sawit Bersertifikat

AKURAT.CO Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) kembali menjadi sorotan dalam upaya meningkatkan produktivitas kebun sawit rakyat dan menjaga daya saing industri minyak sawit Indonesia.

Holding Perkebunan PTPN III (Persero) melalui Subholding PTPN IV PalmCo mempercepat distribusi bibit unggul bersertifikat sekaligus memperkuat kelembagaan petani.

Langkah ini dinilai strategis untuk menutup kesenjangan produktivitas antara kebun rakyat dan perusahaan besar, sekaligus menjawab tantangan rendahnya produksi tandan buah segar (TBS) akibat penggunaan benih tidak bersertifikat.

Baca Juga: Apresiasi 32 Pemanen Terbaik, PTPN IV Genjot Target 2026

Di tengah tekanan pasar global dan tuntutan standar keberlanjutan, percepatan PSR bukan sekadar agenda teknis, melainkan fondasi menjaga posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia.

Distribusi bibit unggul, pendampingan koperasi, hingga dorongan sertifikasi RSPO dan ISPO menjadi bagian dari pendekatan terintegrasi yang dijalankan PalmCo.

Benih Bersertifikat Jadi Kunci Produktivitas Sawit Rakyat

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K Santosa, menegaskan bahwa pembenahan sektor hulu merupakan langkah krusial untuk meningkatkan produktivitas sawit rakyat dalam jangka panjang. Menurutnya, kesalahan dalam memilih benih dapat berdampak puluhan tahun terhadap hasil panen.

“Intervensi harus dimulai dari benih. Kesalahan memilih benih di awal tanam bisa berdampak sampai 25–30 tahun ke depan. Karena itu, kami memastikan petani mendapatkan bibit unggul yang jelas asal-usul dan kualitasnya,” ujar Jatmiko dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (13/02/2026).

Baca Juga: Posko Trauma Healing PTPN Group Hadirkan Tawa di Tengah Duka

Secara kumulatif, PalmCo telah menyalurkan sekitar 6 juta bibit unggul bersertifikat untuk mendukung peremajaan di lahan seluas kurang lebih 41.000 hektare, melibatkan lebih dari 20.000 petani di berbagai wilayah Indonesia. Angka ini menjadi indikator konkret percepatan PSR yang tengah digencarkan.

Jatmiko menegaskan, komitmen perusahaan tidak terbatas pada kebun inti.

“Kami ingin petani di sekitar wilayah operasional memiliki daya saing yang setara. Kalau produktivitas rakyat naik, dampaknya bukan hanya ke perusahaan, tetapi juga ke ekonomi daerah,” katanya.

Penguatan Koperasi dan Manajemen Kebun Presisi

Selain distribusi bibit unggul, PalmCo juga fokus memperkuat kelembagaan petani melalui pendampingan koperasi. Saat ini, perusahaan membina 93 koperasi sawit dan kelembagaan petani lainnya dengan pelatihan teknis budidaya, pembenahan administrasi, serta penerapan manajemen kebun berbasis praktik presisi.

Pendekatan ini dinilai penting agar bantuan pemerintah dan pembiayaan perbankan dapat terserap optimal. Banyak kendala produktivitas bukan hanya bersumber dari aspek teknis budidaya, tetapi juga lemahnya tata kelola organisasi petani.

“Sering kali kendalanya bukan hanya teknis di kebun, tetapi juga administrasi dan manajemen. Kami dampingi dari hulu sampai hilir,” ujar Jatmiko.

Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia, Setiyono, mengapresiasi model kemitraan yang dijalankan PalmCo. Menurutnya, kepastian dan pendampingan menjadi kebutuhan utama petani plasma di tengah fluktuasi harga dan tekanan biaya produksi.

“Yang dibutuhkan petani adalah kepastian dan pendampingan. Transparansi perusahaan serta dukungan teknis yang berkelanjutan membuat petani tidak merasa berjalan sendiri,” kata Setiyono.

Dorong Sertifikasi RSPO dan ISPO, Buka Akses Pasar Global

Isu keberlanjutan menjadi faktor krusial dalam industri sawit global. Untuk itu, PalmCo mendorong petani mitra mengikuti sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Hingga 2025, program sertifikasi telah mencakup 11.909 hektare lahan milik 5.954 kepala keluarga. Sertifikasi tersebut tidak hanya memastikan praktik budidaya ramah lingkungan, tetapi juga membuka akses pasar ekspor yang lebih luas.

Pangsius, Ketua KUD Sawit Trija di Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, mengakui perubahan signifikan setelah mengikuti program PSR dan pendampingan teknis.

“Dulu banyak petani menanam seadanya, yang penting cepat berbuah. Sekarang kami lebih paham soal kualitas benih dan teknik budidaya. Tanpa bibit yang jelas dan bimbingan teknis, sulit bagi petani swadaya untuk mandiri secara ekonomi,” ujarnya.

PSR Jadi Ujung Tombak Daya Saing Sawit Indonesia

Peremajaan Sawit Rakyat kini menjadi instrumen strategis menjaga produktivitas, keberlanjutan, dan daya saing industri sawit nasional. Pendekatan menyeluruh, mulai dari penyediaan bibit bersertifikat, penguatan koperasi, hingga sertifikasi global dalam menciptakan ekosistem yang lebih solid bagi petani.

Jika produktivitas kebun rakyat meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan, dampaknya bukan hanya pada kinerja perusahaan, tetapi juga pada pertumbuhan ekonomi daerah dan kesejahteraan petani.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.