Rayakan Imlek di Batam, AHY: Harmoni Sosial dan Ekonomi Harus Beriringan

AKURAT.CO Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK), Agus Harimurti Yudhoyono, merayakan Tahun Baru Imlek 2577 di kawasan Nagoya, Batam, Kepulauan Riau, Senin (2026).
Momentum perayaan tersebut tak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan juga panggung konsolidasi pesan ekonomi, terutama terkait peran strategis Batam sebagai kawasan Free Trade Zone (FTZ) dan motor pertumbuhan nasional.
AHY menegaskan bahwa perayaan Imlek di Batam memiliki makna khusus, mengingat karakter kota tersebut sebagai simpul multikultural sekaligus gerbang ekonomi Indonesia di kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga: AHY Dorong Pengembangan Pelabuhan Tanjung Carat untuk Genjot Perdagangan di Sumsel
“Ya, ini spesial sekali. Pertama kali saya turut merayakan Tahun Baru Imlek di Kota Batam. Saya bersama Wali Kota Batam, Wakil Wali Kota Batam, termasuk juga Wakil Gubernur Provinsi Kepri, dan ribuan masyarakat berkumpul di kawasan Nagoya ini untuk merayakan sukacita saudara-saudara kita, komunitas Tionghoa yang merayakan pergantian Tahun Baru Imlek 2577,” ujar AHY dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (17/2/2026).
Dirinya berharap Tahun Kuda Api pada Imlek 2026 dapat menjadi simbol energi baru bagi masyarakat Batam untuk menjaga harmoni sosial sekaligus memperkuat daya saing ekonomi daerah.
“Batam sejak dulu dikenal sebagai kota yang mempertemukan berbagai identitas suku, agama, ras, etnis, dan budaya. Mereka hidup dalam harmoni, rukun, dan toleran. Ini adalah miniatur Indonesia yang berasaskan Bhinneka Tunggal Ika,” katanya.
Mengusung tema Harmoni Imlek Nusantara, AHY mengajak seluruh daerah di Indonesia untuk memperkuat persatuan sebagai fondasi menuju visi Indonesia Emas.
Baca Juga: Menko AHY: Pemerintah Pantau Ketat Cuaca Demi Keselamatan Transportasi
“Dari Aceh hingga Papua, ada 38 provinsi, 514 kabupaten/kota, dan 17 ribu pulau. Mari kita satukan dalam semangat untuk Indonesia Emas,” tegasnya.
Di sisi lain, AHY menekankan mandatnya sebagai Menko IPK untuk memastikan pembangunan infrastruktur berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, konektivitas antarwilayah menjadi kunci pemerataan manfaat pembangunan.
Dalam konteks tersebut, Batam disebut memiliki posisi strategis karena status FTZ yang dirancang sejak awal pendiriannya. Ia mengingatkan bahwa kawasan ini memang diproyeksikan sebagai etalase ekonomi nasional.
“Batam didesain sejak awal oleh para pendirinya, termasuk Bapak Presiden B.J. Habibie ketika itu, agar Batam bisa menjadi jendela, menjadi gerbang ekonomi di kawasan Asia Tenggara maupun dunia pada akhirnya,” ungkapnya.
Meski demikian, AHY menggarisbawahi bahwa indikator keberhasilan pembangunan tidak semata-mata diukur dari angka pertumbuhan, melainkan juga dari aspek distribusi manfaat ekonomi.
“Pertumbuhan ekonomi yang sudah baik harus terus kita kawal dan kita tingkatkan. Tetapi ingat, tidak ada pertumbuhan ekonomi yang lebih penting selain pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan. Artinya, semua harus merasakan kesejahteraan,” ujarnya.
Perayaan Imlek 2577 di Batam pun menjadi refleksi bahwa harmoni sosial dan akselerasi ekonomi dapat berjalan beriringan. Di tengah dinamika global, Batam diposisikan sebagai salah satu lokomotif yang diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan sekaligus memperluas kesejahteraan secara inklusif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









