Akurat

Reborn Tekstil RI Butuh Penguatan di Midstream

Yosi Winosa | 5 Februari 2026, 19:17 WIB
Reborn Tekstil RI Butuh Penguatan di Midstream

AKURAT.CO Pemerintah menyiapkan langkah besar untuk menghidupkan kembali industri tekstil nasional dengan fokus pada penguatan sektor menengah atau midstream. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyebutkan, penguatan midstream menjadi kunci reindustrialisasi tekstil Indonesia yang selama ini terhambat karena rantai pasok yang tidak terintegrasi.

“Jadi kita akan reborn industri di midstream terutama di sektor tengah. Pembuatan kain, pembuatan benang, kemudian printing, dyeing, dan finishing, karena selama ini hulu dan tengahnya agak terpotong,” ujar Airlangga dalam agenda The World Engineering Day for Sustainable Development 2026 di Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Untuk mempercepat agenda tersebut, pemerintah akan membentuk badan usaha milik negara (BUMN) baru yang secara khusus bergerak di sektor tekstil.
 
Pembentukan BUMN ini merupakan arahan langsung Presiden RI Prabowo Subianto, dengan pertimbangan bahwa industri tekstil dan garmen berada di garis depan dalam menghadapi risiko kebijakan tarif perdagangan global, khususnya dari Amerika Serikat.
 
Baca Juga: Sulit Kredit Bank, Menkeu Siapkan Skema Alternatif untuk Industri Tekstil

Langkah ini juga ditopang dukungan pembiayaan jumbo. Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara akan menyiapkan dana sebesar USD6 miliar yang difokuskan untuk pembangunan kapasitas industri midstream tekstil. Dana tersebut akan dialokasikan untuk pengadaan barang modal, adopsi teknologi baru, hingga penguatan daya saing ekspor.

“Pendanaan ini diarahkan untuk membangun industri yang lengkap, modern, dan mampu bersaing secara global,” kata Airlangga.

Berdasarkan studi yang telah dirampungkan pemerintah, penguatan midstream akan menjadi fondasi dalam penyusunan peta jalan (roadmap) pengembangan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional.
 
Roadmap tersebut menargetkan lonjakan ekspor tekstil dari sekitar USD4 miliar menjadi USD40 miliar dalam kurun waktu 10 tahun ke depan, seiring pendalaman rantai nilai dan pertumbuhan permintaan global.

Airlangga menilai transformasi ini juga sejalan dengan perubahan tren industri tekstil dunia yang bergerak ke arah produk bernilai tambah tinggi, termasuk fesyen dan gaya hidup. “Ini kita dorong karena industri ini menjadi high fashion, menjadi lifestyle, dan terus tumbuh,” ujarnya.

Selain Amerika Serikat, pemerintah juga membidik pasar Eropa sebagai motor pertumbuhan baru. Airlangga menekankan bahwa peluang ekspor ke Eropa akan semakin terbuka seiring penghapusan bea masuk pada 2027.

“Ini penting untuk membuka pasar karena Eropa tahun 2027 bea masuknya 0. Jadi, tempat untuk tumbuh itu besar,” tukasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa