Akurat

Evello Ungkap Dinamika Buzzer di Dunia Digital, Data Bantah Adanya 'Orkestrasi Penguasa'

Demi Ermansyah | 6 November 2025, 13:55 WIB
Evello Ungkap Dinamika Buzzer di Dunia Digital, Data Bantah Adanya 'Orkestrasi Penguasa'

AKURAT.CO Pendiri firma analitik Big Data Evello, Dudy Rudianto, menilai serangan buzzer terhadap Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri bukan hasil orkestrasi kekuasaan. Ia menyebut fenomena tersebut lebih menyerupai gerakan buzzer "receh" yang kerap muncul secara sporadis di media sosial.

Pernyataan Dudy ini merespons tudingan politisi PDIP Guntur Romli yang sebelumnya menduga serangan terhadap Megawati mendapat dukungan dari jaringan kekuasaan di pemerintahan. Namun, menurut Dudy, belum ada indikasi kuat yang mengarah ke sana.

"Kalau melihat pola serangannya, ini masih kategori buzzer receh. Terlalu dini untuk menyimpulkan ada orkestrasi kekuasaan hanya karena narasinya seragam," kata Dudy dalam keterangannya, Rabu (5/11/2025).

Baca Juga: Manfaatkan Analitik Data, Bank Mandiri Raih Pengakuan Internasional di Bidang TIK

Ia menjelaskan, fenomena serangan di media sosial sering kali tidak memiliki keterkaitan langsung dengan aktor politik besar, bahkan pada periode di mana pihak yang diserang berada di lingkar kekuasaan sekalipun. Dudy mencontohkan, pada 2022 saat Megawati dikritik karena komentarnya soal minyak goreng, serangan publik di media sosial tetap besar meski PDIP saat itu merupakan partai utama dalam pemerintahan.

“Jumlah tayangan isu minyak goreng saat itu mencapai 50 juta di Instagram, 38 juta di YouTube, dan 204 juta di TikTok. Kalau benar kekuasaan bisa mengendalikan opini publik, seharusnya gelombang sebesar itu bisa diredam,” ujarnya.

Dudy juga membandingkan dengan kasus lain seperti #SaveRajaAmpat dan #PapuaBukanTanahKosong yang sempat viral di TikTok. Kedua isu tersebut justru menunjukkan bahwa pemerintah pun tidak mampu mengontrol opini publik meskipun memiliki kewenangan besar.

“Gerakan #SaveRajaAmpat saja diunggah lebih dari 70 ribu video dengan 1,6 miliar tayangan. Kalau kekuasaan bisa mengorkestrasi buzzer, mestinya bisa membendung gelombang opini sebesar itu. Faktanya, tidak bisa,” katanya.

Menurut Dudy, kesimpulan adanya orkestrasi kekuasaan di balik serangan ke Megawati terlalu berlebihan. “Kalau benar penguasa bisa mengatur buzzer, kenapa tidak digunakan untuk menangkis isu yang lebih besar seperti tudingan ijazah Jokowi yang sampai hari ini tetap eksis di media sosial?” ujarnya.

Baca Juga: NBA Hari Ini: Tembakan Buzzer-Beater Austin Reaves Bawa Lakers Menang 116-115 Atas Timberwolves

Ia menegaskan, serangan terhadap tokoh politik merupakan konsekuensi logis dari dinamika opini publik yang tidak selalu bisa dikontrol, bahkan oleh pihak yang berkuasa. “Serangan terhadap Megawati ini lebih condong sebagai kerja buzzer receh, bukan desain kekuasaan,” tegas Dudy.

Evello sendiri dikenal sebagai perusahaan analitik Big Data yang memantau tren isu digital di Indonesia melalui sistem berbasis teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Intelligent Tagging. Perusahaan ini kerap menjadi rujukan lembaga publik maupun swasta dalam memetakan opini digital dan mendeteksi potensi krisis komunikasi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.