Akurat

Proyek Kereta Cepat Whoosh Jadi Bola Panas Politik Nasional, Mengapa?

Andi Syafriadi | 23 Oktober 2025, 17:50 WIB
Proyek Kereta Cepat Whoosh Jadi Bola Panas Politik Nasional, Mengapa?

AKURAT.CO Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCIC) atau Whoosh kembali menjadi sorotan publik setelah muncul perdebatan mengenai pembiayaan dan keterlibatan sejumlah lembaga negara.

Namun, menurut Peneliti kebijakan public dari Paramadina Public Policy Institute (PPPI), Muhamad Rosyid Jazuli, polemik tersebut lebih dipicu oleh dinamika politik dan komunikasi publik yang tidak sinkron, bukan oleh persoalan ekonomi semata.

Menurut Rosyid, dari sisi pembiayaan, utang KCIC tidak termasuk masalah besar dalam konteks ekonomi nasional. Nilai utangnya bahkan masih jauh di bawah anggaran sejumlah kementerian besar seperti PUPR, Pertahanan, dan Pendidikan yang mencapai ratusan triliun rupiah.

Baca Juga: Pemerintah Percepat Pembangunan Akses Jalan ke Stasiun KCIC Karawang

“Utang Whoosh hanya sekitar seperempat dari total subsidi dan kompensasi BBM. Jadi secara ekonomi, angkanya relatif tidak seharusnya mendapat sorotan besar seperti sekarang,” kata Rosyid, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (23/10/2025).

Oleh karena itu dirinya menilai menguatnya pemberitaan soal KCIC lebih karena dinamika politik dan lemahnya koordinasi komunikasi antarpejabat pemerintah.

“Isu ekonomi politik yang seharusnya berskala menengah menjadi isu utama karena diperkeruh oleh komunikasi publik yang tidak terkoordinasi,” ujarnya.

Dirinya menyoroti pernyataan sejumlah pejabat yang kerap tidak sejalan dalam menjelaskan posisi pemerintah terhadap proyek tersebut, termasuk soal kemungkinan keterlibatan APBN.

“Pernyataan Menteri Keuangan yang menolak penggunaan APBN tidak boleh dibiarkan bergulir tanpa penjelasan. Itu bisa membuat publik melihat komunikasi antarpejabat sebagai sesuatu yang rapuh,” katanya.

Lebih lanjut Rosyid menegaskan bahwa ketidak konsistenan pemerintah dalam menyikapi isu KCIC malah akan memperburuk kepercayaan publik terhadap tata kelola proyek.

Sebab proyek KCIC menjadi pelajaran penting bagi pemerintah agar lebih berhati-hati dalam perencanaan dan komunikasi kebijakan jangka panjang.

Baca Juga: Hadapi Rekayasa Lalin, KCIC Tawarkan 3 Akses Menuju Stasiun Halim

Tentunya, dengan proyek besar bernilai triliunan rupiah dari pajak rakyat seharusnya dirancang dengan mempertimbangkan masa pemerintahan yang silih berganti setiap lima tahun.

“Whoosh adalah contoh bagaimana proyek berskala menengah bisa berubah menjadi bola panas politik. Pemerintah harus lebih serius memperkuat tata kelola, transparansi, dan pelibatan swasta,” ujarnya.

Rosyid juga mengingatkan pentingnya menjaga komunikasi yang baik dengan China sebagai mitra utama dalam proyek KCIC. Sebab negara besar seperti China akan sangat berhati-hati terhadap tuduhan mengambil alih infrastruktur negara lain.

“Pemerintah harus memastikan proyek ini bukan sekadar proyek prestisius, tapi memiliki kontribusi ekonomi yang nyata serta menjadi sarana transfer teknologi, pemerintah perlu memperjelas kembali tujuan strategis proyek Whoosh, mulai dari peningkatan konektivitas wilayah hingga kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi dan inovasi teknologi," kata Rosyid.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.