Akurat

Ihatec Tekankan Pentingnya INtegrasi Authentic Halal Brand ke Strategi Bisnis

Yosi Winosa | 10 Oktober 2025, 17:43 WIB
Ihatec Tekankan Pentingnya INtegrasi Authentic Halal Brand ke Strategi Bisnis

AKURAT.CO Indonesia Halal Training & Education Center (IHATEC) menegaskan pentingnya penerapan konsep Authentic Halal Brand (AHB) sebagai strategi bisnis berkelanjutan di era konsumen yang semakin sadar nilai dan keaslian merek.

Pesan tersebut menjadi sorotan utama dalam seminar Top Halal Awards 2025, yang menghadirkan Dr. Wahyu T. Setyobudi, Founder Inspark Indonesia sekaligus penggagas konsep AHB. 
 
Dirinya menilai, keberhasilan bisnis halal tidak cukup hanya bergantung pada sertifikasi, tetapi harus berakar pada nilai dan etika Islam yang dihidupi dalam seluruh proses bisnis.
 
“Authentic Halal Brand bukan sekadar label atau sertifikasi, melainkan bentuk komitmen perusahaan untuk menjadikan nilai-nilai Islam sebagai poros etika dan strategi bisnis,” ujar Dr. Wahyu.
 
 
Dalam kesempatan itu, Dr. Wahyu mencontohkan dua merek dari ParagonCorp, yakni Wardah dan Kahf, sebagai pionir penerapan prinsip AHB di Indonesia. 
 
Kedua merek tersebut, kata dia, telah melampaui batas kepatuhan administratif dan berhasil menghidupkan nilai kejujuran, kebaikan, serta keberlanjutan dalam setiap lini bisnisnya.
 
“Wardah dan Kahf adalah pionir Authentic Halal Brand. Mereka tidak hanya halal certified, tetapi halal lived, mempraktikkan nilai-nilai halal secara nyata dalam budaya perusahaan dan hubungan dengan konsumen,” jelasnya.
 
Komitmen ParagonCorp terhadap prinsip halal juga menjadi sorotan dalam edisi terbaru majalah Halal Review, yang diluncurkan bersamaan dengan ajang Top Halal Awards 2025. 
 
Dalam edisi tersebut, Wardah tampil sebagai merek pembuka dengan artikel bertajuk Membangun Authentic Halal Brand, yang mengulas perjalanan Wardah dari sekadar brand kosmetik halal menjadi ikon industri kecantikan nasional.
 
Dr. Sari Chairunnisa, Deputy CEO ParagonCorp, menegaskan bahwa makna halal bagi perusahaannya tidak berhenti pada kepatuhan formal, melainkan mencakup tanggung jawab sosial dan keberlanjutan lingkungan.
 
“Halal bagi kami berarti toyyib, membawa kebaikan, kesehatan, dan keberlanjutan. Di Paragon, kami memandang halal sebagai gaya hidup yang menumbuhkan kebaikan bagi manusia dan lingkungan,” ujar Dr. Sari.
 
Menurut IHATEC, pemahaman terhadap halal harus diperluas dari sekadar standar kepatuhan menuju strategi diferensiasi bisnis. 
 
Konsep Authentic Halal Brand diyakini dapat menjadi sumber keunggulan kompetitif karena menumbuhkan kepercayaan dan loyalitas konsumen di tengah tren pasar global yang semakin menuntut transparansi dan integritas.
 
“Konsep Authentic Halal Brand membantu perusahaan melihat halal secara lebih utuh, sebagai nilai yang menumbuhkan kepercayaan, loyalitas, dan keberlanjutan,” kata Dr. Wahyu menambahkan.
 
IHATEC menilai bahwa sinergi antara lembaga pendidikan halal dan pelaku industri menjadi kunci dalam memperkuat ekosistem halal nasional. 
 
Kolaborasi seperti yang dilakukan dengan ParagonCorp diharapkan dapat mempercepat transformasi sektor industri halal Indonesia menjadi lebih autentik dan berdaya saing global.
 
Dalam konteks globalisasi ekonomi, pendekatan ini juga diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat industri halal dunia, sesuai dengan visi pemerintah melalui Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia.
 
Melalui kegiatan ini, IHATEC mendorong lebih banyak pelaku usaha untuk menginternalisasi nilai-nilai halal secara mendalam. 
 
Bukan hanya untuk memenuhi regulasi, tetapi sebagai fondasi etika bisnis modern yang relevan dengan tuntutan konsumen masa kini.
 
IHATEC juga berencana memperluas program pelatihan dan sertifikasi halal berbasis AHB bagi berbagai sektor industri, termasuk makanan, kosmetik, farmasi, dan keuangan syariah.
 
Konsep Authentic Halal Brand menempatkan nilai-nilai Islam dalam konteks keberlanjutan (sustainability), tanggung jawab sosial perusahaan, serta inovasi ramah lingkungan. 
 
Pendekatan ini dipandang selaras dengan agenda global menuju ekonomi hijau dan berkeadilan. “Halal bukan sekadar simbol religius, tetapi filosofi hidup yang memadukan etika, kemanusiaan, dan keberlanjutan,” ujar Dr. Wahyu menegaskan.
 
Dengan penerapan konsep AHB secara konsisten, IHATEC optimistis ekosistem halal di Indonesia akan semakin kuat dan autentik. Kolaborasi antarsektor diyakini akan mendorong munculnya lebih banyak merek lokal yang tidak hanya berdaya saing di pasar domestik, tetapi juga di kancah global.
 
“Kami ingin dunia mengenal Indonesia bukan hanya sebagai pasar halal, tetapi sebagai pencipta nilai dan inovasi halal yang otentik,” tukas Dr. Wahyu.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa