Kadin Dorong Dunia Usaha Optimalkan Likuiditas untuk Percepat Pertumbuhan Ekonomi

AKURAT.CO Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengimbau dunia usaha untuk memanfaatkan besarnya likuiditas yang tersedia di pasar keuangan nasional guna mendorong investasi dan memperkuat perputaran ekonomi di dalam negeri.
Langkah ini dinilai krusial dalam menjaga momentum pertumbuhan dan memperkuat daya beli masyarakat di tengah stabilitas makroekonomi yang terjaga.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie mengatakan, tantangan terbesar saat ini bukan pada ketersediaan dana, melainkan bagaimana mengonversi likuiditas yang tinggi menjadi investasi nyata di lapangan.
Baca Juga: Sukseskan Indonesia Emas 2045, Kadin Dukung MPPN 2025-2029
Menurutnya, perputaran ekonomi baru akan terjadi jika uang yang tersedia di sistem keuangan benar-benar terserap untuk kegiatan produktif.
"Tantangan terbesar adalah bagaimana bisa mengonversi likuiditas di atas menjadi likuiditas di lapangan. Karena perputaran uang terjadi karena adanya spending dan pergerakan ekonomi. Jadi konversi ini harus dilakukan secepat mungkin,” ujar Anindya di Jakarta, Jumat (10/10/2025).
Anindya menyampaikan apresiasi kepada Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang telah mengambil langkah proaktif dengan menyalurkan dana pemerintah ke sistem perbankan nasional.
Dirinya menilai kebijakan tersebut memberikan ruang bagi dunia usaha untuk mendapatkan akses pembiayaan yang lebih luas.
Namun demikian, Anindya menegaskan bahwa dana tersebut harus segera dikonversi menjadi investasi riil agar memberikan dampak langsung terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan konsumsi, dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain investasi langsung, Kadin Indonesia juga mendorong pendalaman pasar modal nasional agar semakin banyak perusahaan Indonesia melakukan penawaran umum perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia.
Dengan langkah tersebut, perusahaan nasional dapat memperoleh sumber pendanaan alternatif di luar pinjaman bank.
"Pasar modal adalah salah satu cara untuk risk financing. Kalau likuiditas keuangan sudah ada dan pembiayaan berbasis ekuitas juga kuat, seharusnya ekonomi bisa berjalan dengan baik,” kata Anindya.
Menurutnya, pendalaman pasar modal akan menciptakan ekosistem pembiayaan yang sehat, memperluas partisipasi investor domestik, serta mengurangi ketergantungan terhadap sumber dana jangka pendek.
Sebelumnya, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pemerintah telah menempatkan Rp200 triliun dana di bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Kebijakan ini, kata Purbaya, berhasil meningkatkan kepercayaan pasar terhadap kekuatan fiskal Indonesia yang kini dinilai memiliki cadangan dana melimpah.
"Tiba-tiba mengubah image fiskal kita, yang tadinya dianggap tidak punya duit, sekarang justru kebanyakan duit,” ujar Purbaya.
Menurutnya, penempatan dana tersebut tidak hanya memperkuat likuiditas perbankan, tetapi juga memacu pertumbuhan kredit, konsumsi, dan investasi di berbagai sektor.
Purbaya mengungkapkan bahwa dari total dana Rp200 triliun, sebanyak Rp112,4 triliun atau 56 persen telah terserap oleh dunia usaha melalui penyaluran kredit produktif.
Berdasarkan data terkini, Bank Mandiri telah menyalurkan Rp40,6 triliun dari total Rp55 triliun yang diterima, BRI menyalurkan Rp33,9 triliun dari total Rp55 triliun, sedangkan BNI telah menyalurkan Rp27,6 triliun dari jumlah yang sama.
Pemerintah menilai tingkat penyerapan tersebut menunjukkan optimisme terhadap pemulihan ekonomi dan meningkatnya aktivitas bisnis di sektor riil.
Kadin menilai kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha harus diperkuat agar kebijakan fiskal dan moneter dapat berjalan seiring.
Dunia usaha diharapkan lebih aktif mengajukan proyek-proyek produktif yang mampu menyerap tenaga kerja dan memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Anindya menegaskan, Kadin siap menjadi jembatan antara pelaku usaha, perbankan, dan pemerintah dalam memastikan bahwa aliran likuiditas benar-benar mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain perusahaan besar, Kadin juga menyoroti pentingnya memperluas akses pembiayaan bagi sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Menurut Anindya, sektor UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional harus ikut menikmati manfaat dari melimpahnya likuiditas pasar.
Kadin mendorong lembaga keuangan untuk mempercepat penyaluran kredit produktif kepada UMKM melalui skema yang mudah, cepat, dan transparan agar perputaran uang di tingkat akar rumput semakin dinamis.
Dengan kombinasi antara kebijakan fiskal ekspansif dan dukungan dunia usaha, Anindya optimistis perekonomian Indonesia dapat tumbuh lebih kuat di tengah ketidakpastian global.
Dirinya menekankan bahwa momentum positif harus dijaga dengan meningkatkan kepercayaan investor, memperluas pasar modal, serta mempercepat realisasi investasi.
"Kalau dunia usaha bergerak cepat memanfaatkan momentum ini, bukan tidak mungkin pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa melampaui target pemerintah,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










