Apindo: Industri Nasional Hadapi Tekanan Global dan Daya Beli Lemah

AKURAT.CO Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani, menyoroti masih banyaknya tantangan yang dihadapi sektor industri nasional di tengah situasi ekonomi global yang tidak menentu.
Menurutnya, pelaku usaha harus menghadapi tekanan dari faktor eksternal dan domestik secara bersamaan, yang berpotensi menekan pertumbuhan sektor manufaktur maupun investasi di Tanah Air.
Shinta menilai ketidakpastian global masih menjadi ancaman besar bagi keberlanjutan usaha di Indonesia.
Baca Juga: Kolaborasi Strategis Pemerintah dan APINDO Dorong UMKM Naik Kelas
“Saya rasa tantangan itu masih banyak, terutama dengan kondisi ketidakpastian yang ada secara global. Jadi kalau dari segi global ini memang masih masalah tarif Trump, kemudian juga geopolitik, konflik Ukraina-Rusia maupun Timur Tengah, serta Palestina dan Israel. Ini semua tentu saja berimbas juga kepada Indonesia,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (9/10/2025).
Dirinya menjelaskan, kebijakan tarif impor era Donald Trump yang kembali dibahas di Amerika Serikat telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan eksportir Indonesia.
Penetapan tarif hingga 19 persen terhadap beberapa produk tertentu dinilai berpotensi menekan daya saing produk ekspor nasional, khususnya yang bergantung pada pasar AS.
Selain itu, ketegangan geopolitik yang meningkat di berbagai kawasan dunia turut menciptakan ketidakpastian bagi arus perdagangan dan investasi global.
“Ketegangan geopolitik dan kebijakan tarif ini menciptakan ketidakpastian bagi arus modal dan perdagangan dunia. Dampaknya, pelaku industri di Indonesia harus lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan ekspansi maupun investasi,” kata Shinta.
Baca Juga: Tarif 32 Persen AS Ancam Ekspor RI, APINDO Desak Diplomasi Diperkuat
Menurut Shinta, penutupan sementara (government shutdown) yang terjadi di AS telah menghambat proses negosiasi tarif antara Indonesia dan mitra dagang utama tersebut.
“Tentunya itu ada dampaknya juga, karena saat ini pemerintah masih meneruskan negosiasi tarif Trump. Walaupun kemarin sudah ditetapkan tarif 19 persen, tapi kita masih melanjutkan dengan menegosiasikan tambahan penurunan tarif, terutama untuk produk-produk yang tidak diproduksi di Amerika dan justru dihasilkan oleh Indonesia,” jelasnya.
Beberapa komoditas unggulan seperti produk tekstil, karet, dan kopi disebut menjadi fokus utama dalam proses perundingan tersebut.
Namun, dinamika politik di AS menyebabkan negosiasi berjalan lambat dan belum menghasilkan kesepakatan baru yang signifikan.
Dari sisi domestik, Shinta menilai daya beli masyarakat masih menjadi tantangan utama bagi pertumbuhan industri dalam negeri.
Meskipun sejumlah indikator ekonomi menunjukkan perbaikan, konsumsi masyarakat belum sepenuhnya pulih, terutama pada sektor-sektor padat karya yang sangat bergantung pada pasar domestik.
Meski demikian, Shinta mengapresiasi langkah pemerintah yang telah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi untuk memperkuat daya tahan industri nasional.
Namun, ia menegaskan pentingnya pengawasan terhadap implementasi kebijakan agar manfaatnya benar-benar dirasakan pelaku usaha.
“Tentunya ini harus terus kita kawal agar bisa direalisasikan, terutama dalam peningkatan daya beli masyarakat. Kita lihat dari indeks manufaktur maupun indeks kepercayaan konsumen, ini semua perlu terus ditingkatkan,” tuturnya.
Menurut Shinta, industri padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan makanan-minuman merupakan sektor yang paling sensitif terhadap penurunan daya beli. Oleh karena itu, dunia usaha perlu berhati-hati menavigasi situasi ekonomi yang belum stabil ini.
“Kita harus bersama-sama memanfaatkan segala potensi maupun insentif yang diberikan pemerintah supaya bisa terus mendorong pertumbuhan, walaupun kondisi sedang tidak baik-baik saja,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










