Kemenperin Percepat Dekarbonisasi Industri Demi Capai NZE 2050

AKURAT.CO Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat langkah strategis dalam mendukung agenda transisi energi hijau sekaligus mendorong terwujudnya target Net Zero Emissions (NZE) pada 2050, atau sepuluh tahun lebih cepat dari target nasional.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, percepatan dekarbonisasi industri menjadi salah satu agenda prioritas guna memastikan sektor manufaktur Indonesia tetap berdaya saing sekaligus ramah lingkungan.
“Kementerian Perindustrian telah menargetkan Net Zero Emission pada tahun 2050. Untuk meraihnya, kami telah menetapkan strategi dekarbonisasi industri dengan tujuan mencapai industri hijau,” kata Agus dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu (24/9/2025).
Baca Juga: Ekspor Naik 4,6 Persen di 2024, Kemenperin Genjot Industri Alat Olahraga
Agus merinci, ada sejumlah strategi utama yang sedang dijalankan. Di antaranya penerapan peta jalan dekarbonisasi, mekanisme perdagangan karbon, implementasi teknologi Carbon Capture Utilization (CCU), pembentukan Green Industry Service Company (GISCO), serta peningkatan sertifikasi industri hijau.
Selain itu, Kemenperin juga mendorong penerapan prinsip efisiensi dan keberlanjutan di berbagai sektor industri.
“Kami berharap transformasi rendah emisi dan industri ramah lingkungan dapat segera tercapai, sehingga industri nasional tidak hanya produktif, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan,” tambahnya.
Kemenperin menetapkan sembilan sektor prioritas yang menjadi fokus dekarbonisasi karena berkontribusi signifikan terhadap emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Sektor-sektor tersebut meliputi industri semen, pupuk, logam, pulp dan kertas, tekstil, kimia, otomotif, serta makanan dan minuman.
Menurut Agus, sektor-sektor tersebut dipilih lantaran menghasilkan emisi GRK lebih tinggi dibandingkan dengan industri lainnya.
Oleh karena itu, peta jalan dekarbonisasi sedang disusun secara detail untuk setiap sektor agar langkah pengurangan emisi lebih terukur.
Baca Juga: Kemenperin Gandeng TMMIN Ubah Limbah Sawit Jadi Energi Berkelanjutan
Langkah Kemenperin ini juga selaras dengan pesan yang disampaikan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Presiden RI Prabowo Subianto dalam Sidang Umum PBB ke-80 di New York, Amerika Serikat, Selasa (23/9/2025).
Guterres menekankan pentingnya solidaritas global untuk menghadapi krisis iklim, sementara Presiden Prabowo menegaskan komitmen Indonesia dalam mempercepat transisi menuju energi bersih dan hijau.
“Pesan Sekretaris Jenderal PBB dan Presiden Prabowo menjadi pengingat bahwa industrialisasi tidak boleh hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membawa misi kemanusiaan dan keberlanjutan,” ujar Agus.
Selain isu lingkungan, Agus menekankan bahwa strategi dekarbonisasi Kemenperin juga sejalan dengan visi Presiden Prabowo, antara lain mengenai ketahanan pangan, perdamaian global, dan penguatan inovasi teknologi.
“Melalui hilirisasi industri agro, Kemenperin siap mendukung Indonesia menjadi lumbung pangan dunia,” tegasnya.
Agus menambahkan, integrasi nilai keberlanjutan, perdamaian, dan solidaritas global dalam strategi industrialisasi nasional merupakan wujud komitmen pemerintah untuk menghadirkan industri yang inklusif sekaligus berdaya tahan.
Untuk mewujudkan ambisi besar tersebut, Kemenperin menggencarkan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk kementerian dan lembaga lain, pelaku industri, hingga mitra internasional.
“Dengan kolaborasi lintas kementerian, dunia usaha, dan mitra global, kami optimistis dapat menghadirkan kekuatan industri yang tidak hanya menopang perekonomian nasional, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi perdamaian dan kemakmuran dunia,” jelas Agus.
Kemenperin menilai, percepatan dekarbonisasi akan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Permintaan internasional terhadap produk ramah lingkungan semakin tinggi, sehingga transformasi menuju industri hijau juga berarti memperluas peluang ekspor.
Agus mengingatkan, keberlanjutan industri tidak hanya ditopang oleh teknologi, tetapi juga membutuhkan komitmen jangka panjang dari seluruh pemangku kepentingan.
“Dekarbonisasi bukan hanya kewajiban pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh pelaku industri,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









