RI Jajaki Kerja Sama Pengembangan Baterai dengan Turki
Hefriday | 23 September 2025, 14:55 WIB

AKURAT.CO Pemerintah Indonesia menyatakan kesiapannya menjalin kolaborasi dengan Turki dalam industri baterai, baik dari sisi riset, investasi, maupun transfer teknologi.
Hal ini diungkapkan oleh Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita saat mengunjungi stan perusahaan teknologi energi Turki, Aspilsan, dalam Annual Teknofest Aerospace and Technology Festival yang berlangsung di Istanbul.
Agus menegaskan, kerja sama ini penting mengingat Indonesia tengah mengembangkan ekosistem kendaraan listrik berbasis baterai sebagai bagian dari transformasi industri nasional.
“Kolaborasi dengan Turki akan memperkuat rantai pasok regional dan meningkatkan daya saing industri baterai,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (23/9/2025).
Aspilsan, produsen sel baterai lithium-ion asal Turki, dinilai memiliki kapasitas besar dengan produksi mencapai 21,6 juta unit per tahun.
Perusahaan tersebut membuka ruang kolaborasi dengan Indonesia Battery Corporation (IBC) yang saat ini tengah fokus mengembangkan rantai pasok baterai kendaraan listrik di dalam negeri.
Kerja sama lintas negara ini semakin relevan karena populasi kendaraan listrik di Indonesia tumbuh signifikan. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan jumlah kendaraan listrik meningkat dari 116 ribu unit pada 2023 menjadi 207 ribu unit pada 2024.
Kebutuhan material baterai pun diproyeksikan melonjak, seiring dengan megaproyek investasi ekosistem baterai senilai Rp96 triliun yang baru saja diresmikan Presiden Prabowo Subianto.
Selain untuk kebutuhan sipil, Agus juga menekankan pentingnya kerja sama dalam pengembangan baterai untuk kepentingan militer. Menurutnya, teknologi baterai yang mumpuni akan memperkuat kemandirian sektor pertahanan sekaligus memperluas pasar industri domestik.
Indonesia sendiri memiliki keunggulan bahan baku berupa nikel yang merupakan komponen utama dalam produksi baterai kendaraan listrik.
Dengan adanya kolaborasi teknologi dari Turki, diharapkan Indonesia bisa mempercepat pembangunan industri hilir berbasis nikel dan memperkuat posisinya dalam rantai pasok global.
“Turki memiliki pengalaman dalam riset dan pengembangan, sementara Indonesia kaya akan bahan baku. Jika kedua potensi ini disatukan, maka kerja sama strategis ini akan memberi nilai tambah besar,” kata Agus.
Menurutnya, kerja sama Indonesia–Turki di sektor baterai juga dapat membuka peluang ekspor produk ke pasar Eropa dan Timur Tengah.
Dengan daya saing yang lebih kuat, Indonesia diharapkan mampu memperluas pangsa pasar sekaligus memperkokoh posisinya sebagai salah satu pusat industri kendaraan listrik dunia.
Agus menekankan, pemerintah akan terus memfasilitasi masuknya investasi, riset bersama, dan transfer teknologi demi mempercepat transformasi menuju industri rendah emisi.
“Tujuan akhirnya adalah menciptakan ekosistem industri yang berkelanjutan, berdaya saing, dan mampu menjawab tantangan masa depan,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










