Mendagri Dorong Hilirisasi Pertanian untuk Perkuat Ekonomi Nasional

AKURAT.CO Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian menegaskan, bahwa industrialisasi pertanian harus menjadi strategi utama dalam meningkatkan nilai tambah produk pangan, memperkuat daya saing global, serta mendorong Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap.
Menurut Tito, strategi pembangunan ekonomi tidak bisa hanya bergantung pada industri manufaktur berskala besar seperti otomotif atau elektronik.
Dirinya menilai pengolahan hasil pertanian, perkebunan, dan peternakan menjadi produk bernilai tinggi dapat menjadi jalan alternatif yang lebih relevan dengan kondisi Indonesia.
Baca Juga: Mendagri Dorong Pemda Tingkatkan Kamtibmas Jaga Ketertiban
“Melakukan industrialisasi di bidang pertanian dan perkebunan serta turunannya juga merupakan industri yang bisa membawa kita keluar dari middle income trap,” ujar Tito dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pelaksanaan Program Hilirisasi Komoditas Prioritas Perkebunan yang digelar Kementerian Pertanian di Jakarta, Senin (22/9/2025).
Dalam paparannya, Tito menyoroti Selandia Baru sebagai contoh nyata negara yang berhasil membangun perekonomian tanpa mengandalkan industri manufaktur besar.
Negara dengan penduduk sekitar lima juta jiwa itu mampu menjadikan sektor pertanian dan peternakan sebagai tulang punggung ekonomi nasional.
“Selandia Baru punya sumber daya alam melimpah, tetapi yang menjadi andalan mereka justru pertanian dan peternakan. Populasi domba mencapai 70 juta, sementara jumlah sapi dan rusa juga puluhan juta. Dari situ mereka bisa membangun kesejahteraan rakyat,” jelas Tito.
Dirinya menambahkan, kekayaan mineral seperti emas, tembaga, dan batu bara di Selandia Baru justru belum banyak dieksploitasi, sehingga menjadi cadangan strategis untuk masa depan.
“Artinya, negara itu berhasil memaksimalkan sektor pertanian sebagai motor ekonomi,” katanya.
Lebih lanjut, Tito menegaskan bahwa industrialisasi pertanian bukan sekadar memproduksi bahan mentah, tetapi mengolahnya menjadi produk hilir bernilai tambah tinggi.
Baca Juga: Mendagri Tekankan Pentingnya Keseimbangan APBD dan Peran Swasta dalam Pembangunan Daerah
Dirinya mencontohkan Korea Selatan yang berhasil mengembangkan komoditas ginseng melalui inovasi produk kesehatan berkelas ekspor.
“Indonesia ini jauh lebih kaya. Kita punya rempah, tanaman obat, dan hasil pertanian yang luar biasa beragam. Sayangnya, belum dikembangkan secara maksimal. Kalau pengolahan dan pemasarannya ditata profesional, peluang ekspor sangat besar,” ujarnya.
Tito menilai, penguatan hilirisasi pertanian akan membawa dampak besar bagi perekonomian nasional.
Kebijakan ini diyakini mampu meningkatkan ketahanan pangan, membuka lapangan kerja baru, menambah devisa melalui ekspor, dan mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif yang pada akhirnya mengangkat kesejahteraan petani.
Strategi tersebut, lanjutnya, sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan swasembada pangan sebagai prioritas utama pembangunan nasional.
Pemerintah bahkan telah menyiapkan anggaran besar hingga Rp371 triliun untuk mendukung program hilirisasi di sektor pertanian dan perkebunan.
Dalam kesempatan itu, Tito juga mengingatkan kepala daerah untuk tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi mentah.
Dirinya meminta pemerintah daerah berperan aktif dalam mendorong tumbuhnya industri pengolahan pangan di wilayah masing-masing agar nilai tambah produk pertanian bisa dimaksimalkan.
“Kalau hanya menjual bahan mentah, nilai yang kita dapat sangat terbatas. Kepala daerah harus ikut memfasilitasi lahirnya industri pengolahan, supaya produk lokal bisa bersaing di pasar global,” tegasnya.
Tito menolak pandangan yang menyebut keluar dari middle income trap hanya bisa dilakukan lewat industrialisasi manufaktur berskala besar.
Menurutnya, pengalaman negara seperti Selandia Baru telah membuktikan bahwa industrialisasi pertanian dan perkebunan juga mampu menjadi penopang ekonomi jangka panjang.
“Kalau dikatakan kita hanya bisa keluar dari middle income trap lewat industri seperti otomotif, saya tidak setuju. New Zealand tidak melakukan itu. Mereka justru membangun industri pertanian, perkebunan, dan peternakan, dan itu berhasil,” tuturnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










