Akurat

Proyek DME Jadi Prioritas Hilirisasi Energi Nasional

Dedi Hidayat | 19 September 2025, 17:20 WIB
Proyek DME Jadi Prioritas Hilirisasi Energi Nasional

AKURAT.CO Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut proyek hilirisasi batu bara menjadi menjadi dimethyl ether (DME) menjadi prioritas dari 18 proyek hiliriasi pemerintah.

Adapun, Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasiona menyerahkan 18 proyek prioritas hilirisasi dan ketahanan energi nasional senilai USD38,63 miliar atau setara Rp618,13 triliun kepada Danantara.

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Ahmad Erani Yustika menyebutkan 18 proyek hilirisasi sedang dalam tahap feasibility study (FS) atau studi kelayakan.

Dari 18 proyek tersebut, Erani mengatakan proyek hiliriasi batu bara menjadi DME menjadi prioritas diselesaikan lebih cepat.

Baca Juga: ESDM Targetkan Studi Kelayakan 18 Proyek Hilirisasi Rampung Akhir 2025

“Sepertinya salah satunya itu DME. Sepertinya, tapi di-check di danantara juga ya,” kata kata Erani di Kementerian ESDM, Jumat (19/9/2025).

Erani, yang juga Sekretaris Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional menyampaikan proyek DME menjadi prioritas untuk mensubsitusi kebutuhan masyarakat akan LPG.

Sebab, hiliriasi batu bara menjadi DME ini bisa menjadi salah satu cara untuk mengurangi impor gas untuk kebutuan LPG.

“Dan kita ada peluang untuk mensubstitusi LPG itu dari DME. Kalau itu bisa dilakukan kan bisa mengurangi impor gas tadi, LPG tadi,” ujarnya.

Lebih lanjut, ketika ditanya apakah proyek ini tetap akan dijalankan okeh PT Bukit Asam (PTBA), Erani menuturkan keputusan akhir ada di Danantara.

Baca Juga: ESDM: Operasional PT Gag Nikel Hanya untuk Audit Lingkungan

“Danantara nanti akan menentukan,” tutur Erani.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional, Bahlil Lahadalia, menyerahkan 18 proyek prioritas hilirisasi dan ketahanan energi nasional senilai USD38,63 miliar atau setara Rp618,13 triliun kepada CEO Danantara, Rosan Roeslani.

Ia merinci, 18 proyek itu terdiri dari 8 proyek hilirisasi di sektor mineral dan batu bara, 2 proyek transisi energi, 2 proyek ketahanan energi, 3 proyek hilirisasi pertanian, dan 3 proyek hilirisasi kelautan dan perikanan.

Bahlil menekankan, dengan nilai investasi pada proyek hilirisasi tersebut akan menciptakan potensi ratusan ribu lapangan pekerjaan. Proyek hilirisasi juga akan menciptakan pemerataan pertumbuhan ekonomi nasional.

Berikut daftar lengkap 18 proyek hilirisasi tersebut:

1. Industri Smelter Aluminium (Bauksit) di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan investasi sebesar Rp60 triliun
2. Industri DME (batu bara) yang tersebar di enam lokasi (Bulungan, Kutai Timur, Kota Baru, Muara Enim, Palu, dan Banyuasin), dengan total investasi Rp164 triliun
3. Industri Aspal Buton di Sulawesi Tenggara membutuhkan dukungan listrik untuk pemrosesan dan pemurnian aspal. Proyek ini bernilai Rp1,49 triliun
4. Industri Mangan Sulfat di Kupang, Nusa Tenggara Timur, dengan nilai investasi Rp3,05 triliun
5. Industri Stainless Steel Slab (Nikel) di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah dengan investasi Rp38,4 triliun
6. Industri Copper Rod, Wire & Tube (Katoda Tembaga) di Gresik, Jawa Timur, dengan nilai investasi Rp19,2 triliun
7. Industri Besi Baja (Pasir Besi) di Sarmi, Papua, memiliki nilai investasi Rp19 triliun
8. Industri Chemical Grade Alumina (Bauksit) di Kendawangan, Kalimantan Barat, berinvestasi Rp17,3 triliun
9. Industri Oleoresin (Pala) di Fakfak, Papua Barat, memiliki nilai investasi Rp1,8 triliun
10. Industri Oleofood (Kelapa Sawit) di KEK MBTK, Kalimantan Timur, menyerap Rp3 triliun
11. Industri Nata de Coco, Medium-Triglycerides (MCT), Coconut Flour, Activated Carbon (Kelapa) di KI Tenayan, Riau dengan nilai Rp2,3 triliun
12. Industri Chlor Alkali Plant (Garam) yang tersebar di Aceh, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Sumsel, Riau, Banten, dan NTT dengan nilai investasi Rp16 triliun
13. Industri Fillet Tilapia (Ikan Tilapia) di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur senilai investasi Rp1 triliun
14. Industri Carrageenan (Rumput Laut) di Kupang, NTT dengan nilai investasi Rp212 miliar
15. Oil Refinery di 18 lokasi, termasuk Lhokseumawe, Surabaya, dan Balikpapan, menjadi salah satu proyek penting dengan investasi Rp160 triliun
16. Oil Storage Tanks di Pontianak, Badung, Bima, Ende, Makassar, Dongala, Bitung, Ambon, Halmahera Utara, Fakfak senilai Rp72 triliun
17. Modul Surya Terintegrasi (Bauksit dan Silika) di KI Batang, Jateng, mendukung energi terbarukan dengan nilai Rp24 triliun
18. Industri Bioavtur (Used Cooking Oil) di KBN Marunda, KI Cikarang dan KI Karawang dengan nilai investasi Rp16 triliun

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.