Akurat

Ini Empat Faktor Pendorong Industri Hijau Indonesia Versi Menperin

Dedi Hidayat | 21 Agustus 2025, 11:30 WIB
Ini Empat Faktor Pendorong Industri Hijau Indonesia Versi Menperin

AKURAT.CO Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebut transformasi menuju industri hijau dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari dalam maupun luar negeri.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan sedikitnya terdapat empat faktor utama yang saat ini mendorong sekaligus menantang perjalanan industri manufaktur Indonesia dalam beradaptasi menuju arah yang lebih berkelanjutan.

“Ada empat faktor utama yang akan saya sampaikan. Pertama, adanya tuntutan konsumen terhadap produk hijau,” kata Agus melansir dari laman Kemenperin, Kamis (21/8/2025).

Baca Juga: Industri Terkendala Pasokan Gas, Kemenperin Bentuk Pusat Krisis HGBT

Terkait tuntutan konsumen, Agus menjelaskan, pasar dunia kini semakin selektif karena konsumen cenderung memilih produk yang ramah lingkungan, memiliki transparansi jejak karbon, serta nilai keberlanjutan yang jelas.

“Apalagi, generasi Z di berbagai belahan dunia semakin peduli pada produk hijau. Ini menjadi peluang besar,” tambahnya.

Faktor kedua, yakni meningkatnya pembiayaan hijau. Lembaga keuangan domestik maupun internasional kini memprioritaskan proyek-proyek yang sesuai dengan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), sehingga membuka peluang bagi industri yang siap berinovasi.

Selanjutnya, ketiga adalah penyiapan kebijakan pemerintah melalui peta jalan dekarbonisasi industri, insentif fiskal, kemudahan investasi, hingga regulasi efisiensi sumber daya juga menjadi pendorong utama.

Faktor keempat yang menjadi tantangan serius adalah mekanisme perdagangan global seperti Carbon Border Adjustment Mechanism(CBAM) Uni Eropa, yang akan mengenakan biaya tambahan pada produk dengan jejak karbon tinggi.

“Industri Indonesia harus bersiap memenuhi standar rendah emisi agar tetap kompetitif,” tuturnya.

Baca Juga: Kemenperin Dorong Transformasi Industri Batik Menuju Keberlanjutan

Agus menjelaskan, sejak tiga tahun lalu, Kementerian Perindustrian telah menetapkan target net zero emission (NZE) untuk sektor industri manufaktur pada tahun 2050, atau 10 tahun lebih cepat dari target nasional.

“Sasaran tersebut adalah tuntutan dari market saat ini. Oleh karena itu, upaya kita bersama, pemerintah dan pelaku industri untuk meningktakn daya saing dan nilai tambah, termasuk kami ingin mempercepat produk-produk hijau yang ada di Indonesia bisa lebih berdaya saing dibandingkan negara-negara kompetitor,” tutur Agus.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.