Ada Tarif Trump, Freeport: Prioritas Utama Tetap Kebutuhan Industri Dalam Negeri
Hefriday | 4 Agustus 2025, 16:17 WIB

AKURAT.CO PT Freeport Indonesia (PTFI) menegaskan komitmennya untuk tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pasar domestik meskipun pemerintah Amerika Serikat (AS) memberikan tarif impor 0% terhadap konsentrat dan katoda tembaga asal Indonesia.
"Prioritas utama perusahaan tetap pada pemenuhan kebutuhan industri dalam negeri," ujar VP Corporate Communications Freeport Indonesia, Katri Krisnati, dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (4/8/2025)
Dirinya juga menegaskan bahwa saat ini pasar utama Freeport masih berada di kawasan Asia, bukan AS.
"Produk PT Freeport Indonesia (PTFI) saat ini dipasarkan di pasar domestik Indonesia dan Asia," lanjutnya.
Hal ini mempertegas posisi PTFI yang selama ini menjadi salah satu pemasok utama kebutuhan tembaga di Tanah Air dan regional Asia.
Baca Juga: Hilirisasi Freeport dan Tarif Trump
Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengumumkan bahwa skema tarif resiprokal antara Indonesia dan AS akan berlaku mulai 7 Agustus 2025.
Dalam skema tersebut, sejumlah komoditas Indonesia mendapat tarif impor sebesar 19%, kecuali untuk produk strategis seperti konsentrat dan katoda tembaga yang dikenakan tarif 0%.
Menurut Airlangga, tarif 19% yang diberikan AS kepada Indonesia tergolong rendah dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Hanya Singapura yang mendapat tarif lebih rendah, yakni 10%.
“Bahkan, untuk copper concentrate dan copper cathode di-nol-kan. Itu sejalan dengan pembicaraan strategis antara Indonesia dan AS mengenai perdagangan mineral,” kata Airlangga.
Dirinya juga menambahkan bahwa hal ini merupakan hasil dari dialog ekonomi antara dua negara yang fokus pada komoditas industri strategis.
Keputusan AS untuk memberikan tarif 0% terhadap tembaga olahan dari Indonesia dinilai sebagai bentuk pengakuan terhadap pentingnya peran Indonesia dalam rantai pasok mineral global. Hal ini juga mendorong pemrosesan mineral dalam negeri agar memiliki nilai tambah sebelum diekspor.
Namun demikian, Direktur Utama Freeport Indonesia, Tony Wenas, menegaskan bahwa pihaknya belum mempertimbangkan untuk mengalihkan pasar utama dari China ke AS. Menurut Tony, faktor logistik menjadi salah satu pertimbangan utama.
"Kalau ke Amerika itu jauh, butuh waktu pengiriman 45 hari. Sementara ke China cuma 7 hari pengapalan," ujar Tony.
Dirinya juga menekankan bahwa China saat ini mengonsumsi sekitar 50% dari total permintaan copper dunia.
Dengan demikian, meskipun terbuka peluang pasar baru di Amerika Serikat, Freeport tetap menempatkan efisiensi distribusi dan keberlanjutan rantai pasok sebagai pertimbangan utama dalam menentukan tujuan ekspor.
Selain itu, pemenuhan pasar domestik masih menjadi prioritas dalam mendukung hilirisasi industri mineral nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai








