Indef Sebut Industri TPT dan Alas Kaki Paling Terpukul Tarif Trump
Hefriday | 21 Juli 2025, 18:07 WIB

AKURAT.CO Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengkhawatirkan dampak pemberlakuan tarif impor sebesar 19% oleh Amerika Serikat (AS) terhadap produk-produk asal Indonesia, khususnya yang akan mulai berlaku pada 1 Agustus 2025.
Sektor yang diprediksi paling terdampak adalah industri tekstil, pakaian jadi, dan alas kaki.
Peneliti Pusat Industri, Perdagangan dan Investasi Indef, Ahmad Heri Firdaus, mengungkapkan bahwa ketiga sektor tersebut merupakan penyumbang utama ekspor Indonesia ke pasar AS.
"PR kita adalah bagaimana memikirkan pasar tekstil dan alas kaki kita di Amerika Serikat, karena kita lumayan bergantung dari situ, banyak padat karya," ujar Heri dalam diskusi publik di Jakarta, Senin (21/7/2025).
Heri menyoroti bahwa industri tekstil dan alas kaki melibatkan banyak tenaga kerja, baik dari sektor formal maupun informal. Jika permintaan dari AS turun akibat kenaikan tarif, maka ancaman terhadap keberlangsungan sektor padat karya tersebut akan semakin nyata.
Lebih lanjut, Heri menekankan pentingnya Indonesia untuk meningkatkan daya saing, baik secara komparatif maupun kompetitif. Terutama dari sisi efisiensi biaya bahan baku, listrik, logistik, dan transportasi.
Menurutnya, dalam hal daya saing kompetitif, Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara pesaing seperti Vietnam, India, Bangladesh, dan Malaysia.
"Negara-negara tersebut sudah melakukan efisiensi dari sisi biaya produksi, sehingga tidak akan berpengaruh signifikan terhadap harga jual produk ketika masuk ke pasar AS," jelas Heri.
Dirinya menambahkan bahwa tingginya ongkos produksi di Indonesia membuat harga jual produk menjadi kurang kompetitif di pasar internasional.
Ketika bersaing di pasar yang sangat sensitif terhadap harga seperti AS, Indonesia akan mengalami kesulitan jika tidak segera melakukan reformasi dan efisiensi produksi.
Namun, Heri menyebut ada sektor yang masih bisa bernapas lega, yakni industri turunan kelapa sawit.
"Kalau industri seperti turunan kelapa sawit, karena memang kita memiliki keunggulan komparatif, karena enggak ada lagi di mana-mana, cuma ada dari Indonesia sama Malaysia, kita tertolong di situ," ungkapnya.
Indef menilai bahwa untuk menghadapi tantangan ini, pemerintah perlu mengambil langkah strategis. Salah satunya adalah memperkuat struktur industri dalam negeri dengan kebijakan yang mendukung efisiensi biaya dan peningkatan produktivitas.
Selain itu, pemerintah juga didorong untuk lebih agresif dalam menjalin kerja sama dagang bilateral maupun multilateral, sehingga dapat membuka pasar alternatif baru bagi ekspor Indonesia.
Diversifikasi pasar dinilai penting agar ketergantungan pada satu negara tujuan ekspor tidak menjadi kelemahan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










